Sepak Bola yang Berkisah Lewat Film

Popularitas sepak bola setinggi langit. Tak peduli apakah benar-benar bisa memainkannya atau tidak, ada begitu banyak orang yang menjadikan sepak bola sebagai kesukaannya. Popularitas macam ini menjadikan sepak bola begitu dekat dengan kehidupan orang-orang.
Karena begitu dekat, segala kisahnya tak melulu hadir di lapangan bola--salah duanya dihadirkan melalui buku dan film. Khusus soal film, film sepak bola tak hanya Goal! atau Green Street Hooligans. Sebenarnya, kami tidak tahu juga kalian sudah menonton film-film di bawah ini atau belum. Tapi, kalaupun sudah menonton, tidak ada salahnya untuk menonton ulang.
1. Looking for Eric
Mampus kau disepak-sepak Cantona. Barangkali, itulah yang bersemayam di benak hampir seluruh pemain lawan yang harus berhadapan dengan Manchester United yang masih diperkuat oleh Eric Cantona. Tapi, Looking for Eric tak berkisah tentang Cantona atau tendangan kungfunya. Film ini menjadi sindiran paling masyhur bagi jagat sepak bola, termasuk United dan Old Trafford-nya.
Adalah Eric Bishop, tokoh protagonis yang dikisahkan dalam film yang rilis pada 2009 ini. Bishop adalah seorang paruh baya yang bekerja sebagai karyawan di kantor pos. Tentu saja, ia adalah seorang penggemar berat Manchester United.
Sialnya, kehidupan Bishop tak berjalan baik-baik saja. Dua kali menikah, dua kali gagal. Belum lagi anak tirinya, Ryan, yang tak menaruh hormat padanya itu terjerat dalam perdagangan narkoba. Di film ini, Bishop digambarkan sebagai sosok yang marah pada dunia, pada hidupnya, dan juga pada United. Ia marah pada klub kecintaannya itu karena manajemen klub yang dipandangnya buruk.
Sebagai kelas pekerja, Bishop tak punya uang yang cukup untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di Old Trafford. Maka, yang ia lakukan adalah menjadi seperti kita. Menonton dari bar-bar sambil minum bir bersama kawan-kawannya yang juga tidak sanggup membeli harga tiket yang mahalnya setengah mati itu.
Singkat kisah, sampailah Bishop pada titik paling ruwet dalam hidupnya. Kenapa bisa begitu? Tonton sendiri.
Dalam kondisi yag tak sedap ini, Bishop mendapat dukungan dari kawan-kawannya di bar dan pahlawan imajinernya, Cantona. Sebenarnya, Cantona bukan sosok imajiner di film ini. Cantona itu benar-benar ada, ia jadi bagian dari United. Tapi, ya itu tadi. Bishop tak pernah punya uang yang cukup untuk menyaksikan laga secara langsung, sehingga ia tak pernah menyaksikan Cantona secara langsung.
Yang dilakukan Bishop adalah seperti melahirkan Cantona yang tak terjangkau itu hadir dalam kehidupannya. Ia melakukan dialog imajiner bersama Cantona. Nah, Cantona di sini diperankan oleh Cantona sendiri. Mantap 'kan? Yang menarik dalam dialog ini ada dua hal.
Yang pertama, Cantona berkata bahwa ''I'm not a man, I'm Cantona." Dialog singkat yang (menurut kami) menunjukkan bahwa Cantona berbeda dengan pesepak bola lainya. Bintang-bintang lapangan itu boleh saja menganggapmu sebagai pemain ke-12, tapi aslinya, mereka peduli setan dengan keberadaanmu. Dialog kedua saat Cantona menjelaskan bahwa momen terbaik dalam karier sepak bolanya adalah saat ia memberikan assist, bukannya mencetak gol.
Nah, berangkat dari assist itulah, teman-teman Bishop bersepakat untuk memberikan 'assist' kepada Bishop. Menolong Bishop untuk melancarkan Cantona Operation. Operasi apakah itu? Sekali lagi, tonton sendiri.
Pada dasarnya, film ini tak cuma didedikasikan untuk Cantona, tapi juga kelas pekerja. Orang-orang yang kerap merasa kalah, padahal merekalah yang menjadi tonggak kehidupan klub. Orang-orang ini kerap terpinggirkan dari sepak bola sendiri, tapi sepak bola tak bisa lepas dari sejarah kelas pekerja.
2. A Barefoot Dream
"Siapa bilang kita tidak bisa main sepak bola karena kita miskin?" Demikianlah bunyi salah satu dialog paling menggelitik, sekaligus lantang dalam film karya sutradara Kim Tae-gun yang satu ini.
A Barefoot Dream berkisah tentang perjalanan Kim Sin-Hwan, seorang mantan pemain Timnas Korea Selatan yang terdampar di Timor Leste, yang pada akhirnya sukses mengantarkan Timnas Junior Timor Leste menjadi juara di Jepang. Sing-hwan ini bukan tokoh fiksi, ia benar-benar ada dan benar-benar mengantarkan Timnas Junior Timor Leste menjadi juara. (yah spoiler!)
Film ini mengambil latar Timor Leste yang baru merdeka selama dua tahun. Tadinya, Sin-hwan berniat meninggalkan negeri ini karena kenyataan yang ada di sana berbeda dengan apa yang dijanjikan orang-orang. Singkat kata, Sin-hwan ditipu.
Pada akhirnya, Sin-hwan membatalkan niatnya. Nalurinya sebagai pesepak bola tergerak saat menyaksikan permainan sepak bola liar bocah-bocah Timor Leste. Negeri ini penuh dengan anak laki-laki yang begitu mahir bersepak bola. Kebanyakan dari mereka ingin menjadi pesepak bola profesional di luar negeri, terutama Indonesia. Sebabnya, di negara mereka belum bergulir liga profesional.
Yang menarik, film ini tak berlatar sepak bola belaka. Ya, karena bersifat biopik, A Barefoot Dream juga menggambarkan seperti apa konflik yang terjadi di Timor Leste saat itu.
Itu hal menarik pertama. Yang kedua, film ini bukan film yang menjual mimpi melulu. Menjual mimpi lewat film itu bukan dosa, sih. Tapi, kalau too good to be true, penonton muak juga. Toh, proses mewujudkan mimpi itu juga tidak mudah. Dan bagi sebagian orang, mimpi adalah perkara personal, jadi tak layak juga buat digembar-gemborkan terus-terusan.
Yang membikin tambah menarik, bila menonton dengan jeli, kita juga dapat menemukan fragmen soal profesionalisme di sepak bola anak atau junior. Segala hal yang dilakukan oleh Sin-hwan untuk mendidik timnya adalah sederhana. Tapi, menjadi profesional tidak sama dengan menjadi rumit. Dengan profesionalisme yang sederhana, tapi tepat guna itu, tim bentukan Sin-hwan bisa bertahan hidup, bahkan menorehkan prestasi.
3. Bend It like Beckham
Meski kemasannya film remaja dan film remaja memanggul stereotipe film cheesy, bukan berarti Bend It like Beckham tidak bisa berbicara. Protagonis di film ini adalah Jesminder Bhamra atau biasa dipanggil Jess. Nah, Jess ini adalah seorang remaja putri yang menggilai sepak bola. Ia tinggal di wilayah barat London, Inggris. Sebagai anak yang menyukai sepak bola, ia menjadikan David Beckham sebagai idolanya. Yang dilakukan Jess mirip dengan kita, memenuhi dinding kamarnya dengan poster sang idola.
Singkat cerita, saat bermain sepak bola dengan kawan-kawannya, Jess bertemu dengan Julliete Braxton (Jules) yang mengajaknya untuk bergabung dengan tim sepak bola putri, Hounslow Harriers. Di sinilah keruwetan dimulai. Keluarganya adalah keluarga yang begitu memegang tradisi dan begitu kolot. Di benak keluarganya, anak perempuan seperti Jess tidak boleh bermain sepak bola, apalagi bergabung dengan klub. Maka, dimulailah segala sandiwara Jess.
Jujur saja, film ini memang dikemas dengan gaya yang sepintas terkesan Hollywood yang begitulah, ya. Tapi, karena Gurinder Chadha, sutradara sekaligus penulisnya, merupakan orang India, ia cukup jeli dalam mengangkat permasalahan budaya India. Menariknya, di film ini juga diselipkan cara pandang orang-orang India kepada orang-orang kulit putih dan sebaliknya, diskriminasi yang diterima oleh warga pendatang, termasuk Jess.
4. The Damned United
Di ranah kepelatihan sepak bola, Jose Mourinho tidak menjadi satu-satunya pelatih bermulut besar. Brian Clough adalah salah satunya. Sebagai gambaran, Clough yang tenar di akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Sebabnya, ia berhasil membawa Derby County yang berstatus sebagai tim promosi menjadi juara liga. Di masa itu, membawa Derby County juara liga sama dengan membawa mantan tim kecamatan menjuarai Premier League.
Singkat cerita, keberhasilan Clough ini menarik hati Leeds United, klub yang kala itu mendominasi sepak bola Inggris. Manajer Leeds, Don Revie, ditarik oleh Timnas Inggris. Berbekal kekosongan ini, lahirlah ide untuk menggaet Clough ke Leeds.
Yang bikin runyam, Clough dan Revie adalah seteru. Maklum, Clough-lah yang sanggup menghentikan dominasi Leeds kala itu. Ditambah dengan kelakuan Clough yang cukup ajaib, maka ia memiliki rivalitas yang cukup panas dengan Revie. Kedatangan Clough tidak disambut baik oleh para pemain Leeds, belum lagi Clough ini suka berkata kasar soal Revie. Ya, lengkaplah segala macam konflik.
Sebenarnya dari pada menyoroti rivalitas Clough dan Revie, film ini lebih memfokuskan diri untuk menyoroti hubungan Clough dan asistennya, Peter Taylor. Bila Clough merupakan sosok yang meledak-ledak, maka Taylor adalah sosok yang lebih kalem dan bisa bertindak sebagai eksekutor.
Film ini diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh David Peace. Lucunya, dalam wawancaranya, Peace mengakui bahwa tadinya, ia tidak berniat menulis soal Clough, tapi tentang kiper Leeds, David Harvey. Tapi, setelah melakukan riset selama kurang lebih enam bulan, Peace memutuskan untuk menulis biopik semi fiksi tentang Clough yang hanya 44 hari melatih di Leeds.
Di film ini (dan juga novelnya) ada fragmen yang menggambarkan Clough menceritakan perjalanan singkatnya bersama Leeds dalam sudut pandang orang pertama. Namun, ada pula narasi yang mengisahkan kariernya sebagai pemain dan manajer di Derby. Untuk bagian yang ini, Peace menggunakan sudut pandang orang kedua, yang agaknya cukup tak biasa digunakan untuk bernarasi dalam film ataupun novel.
Dalam wawancaranya bersama The Blizzard, Peace menjelaskan bahwa eksekusi macam ini dilakukannya untuk menjadikan cerita tetap utuh. Cerita Clough bersama Leeds memang berakhir di hari ke-44, tapi kata Peace, ia ingin agar para pembaca (dan penonton) menyadari bahwa segala kenangan akan Clough bisa membawa siapa pun kembali ke hari pertamanya.
Keputusan Peace untuk menggunakan kata ganti orang kedua juga punya tujuan. Ia ingin Clough yang ditampilkan di sini adalah Clough yang mengingat-ingat tahun 1974, bukannya soal Clough di tahun 1990-an. Intinya, tentang bagaimana seseorang mengingat diri sendiri, tentang bagaimana Clough mengingat sosoknya di masa lampau, dan tentang kita, para penonton mengingat diri kita sendiri di masa lalu.
Sebenarnya The Damned United sempat mendapat kritik karena menggunakan tokoh nyata dalam koridor cerita fiksi. Menyoal ini, Peace punya jawabannya sendiri, "Sepak bola tidak akan ada tanpa imajinasi. Kata Bunuel (Luis Bunuel, sineas asal Spanyol), tidak ada kenyataan tanpa imajinasi. Sebaliknya, tidak ada imajinasi tanpa kenyataan. Keduanya ada karena saling berdampingan."
"Bagi saya, ketika saya tumbuh, Clough adalah sosok yang terkenal. Ia tidak menyembunyikan diri dari publik, ia tidak seperti David Moyes. Orang-orang membicarakanya dan berusaha memahami jalan pikirannya. Ia menciptakan sebuah persona. Maka bagi saya, aktivitas bercerita dimulai dengan mengingat sejumlah kejadian tentang orang-orang yang nyata."
