Shin Tae-yong Keluhkan Menu Nasi Kotak di Piala AFF, Ini Kata Ahli Gizi
·waktu baca 3 menit

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, mengeluhkan makanan nasi kotak yang disediakan panitia untuk para pemainnya selama bertanding di Piala AFF. Lantas, bagaimana menu nasi kotak tersebut di mata ahli gizi?
"Para pemain tidak bisa mendapatkan makanan yang bergizi sebab di Singapura masih diterapkan bubble system," ucap Shin Tae-yong dalam konferensi pers virtual jelang laga final, Selasa (28/12).
"Jadi, setiap makanan yang dikonsumsi itu kurang memenuhi kebutuhan nutrisi pemain. Itulah yang patut dikhawatirkan untuk saat ini," tambahnya.
Dari foto yang didapat kumparan, Rabu (29/12), terlihatbahwa nasi kotak yang dikeluhkan Shin dibalut dalam kotak berwarna hitam. Selain nasi kotak, dalam meja tersebut juga disediakan pula telur, pisang, puding, dan susu.
Untuk menu nasi kotaknya, tampak tersedia nasi putih, daging, sayuran, dan mochi gulung. Sementara, dalam foto lainnya, tampak bakso, sayur capcay, dan puding sebagai pelengkap nasi putih.
Untuk mengetahui secara jelas kandungan gizi pada nasi kotak tersebut, kumparan menghubungi spesialis gizi, dr. Cindiawaty Josito Pudjiadi. Menurutnya, menu makanan tersebut sudah sesuai standar asupan untuk atlet, tetapi ada satu yang kurang pas.
"Menurut saya, itu sudah seimbang, sudah standar. Ada pisang, telur, sayuran, bagus, lumayan lengkap," jelasnya saat dihubungi kumparan, Kamis (30/12).
"Namun, saya kurang setuju sama sosis karena biasanya sosis dibuat dengan semua bagian daging dan lemak dimasukkan. Padahal, mereka butuh protein yang lumayan tinggi," lanjutnya.
Menurut perkiraan Cindiawaty, kemungkinan makanan yang disediakan tak sesuai dengan kebiasaan makanan para pemain. Hal ini akibat dari sistem bubble yang diterapkan oleh Pemerintah Singapura, sehingga tim tidak bisa meracik menu makanannya sendiri.
“Mungkin mereka terbiasa dengan makanan Indonesia. Begitu mereka dapat makanan yang bukan menu mereka, mereka rasanya kurang ya. Karena biasanya makanan Indonesia juga ada nabatinya seperti tahu dan tempe. Itu kan tidak ada, jadi mungkin mereka tidak begitu maksimal makannya," ujarnya.
"Ditambah juga terlihat porsinya sedikit, ya, terutama dagingnya juga kurang banyak. Namun, mungkin itu untuk makan malam karena kalau malam memang tidak terlalu berat," tambahnya.
Melihat foto-foto di atas, Cindiawaty juga menjelaskan proporsi yang ideal untuk makanan atlet. Intinya, harus seimbang.
"Unsur makanan tetap harus seimbang. Tetap harus ada karbonya, proteinnya, lemak bagus juga diutamakan. Kalo misal seperti tadi sosis itu kan ada lemak jenuhnya, nah diutamakan yang lemak bagus," terangnya.
"Ada sayur dan buah juga seimbang. Biasanya menjelang tanding itu carbo loading, ya, jadi karbonya diperbanyak karena untuk persiapan pertandingan durasi lama. Lalu setelah tanding, protein penting untuk recovery muscle, mempercepat penyembuhan otot,” pungkasnya.
