Sikap Empat Klub Raksasa Inggris Usai Vonis Bersalah Manchester City

Komisi independen Premier League menyatakan Manchester City bersalah atas 114 pelanggaran aturan finansial setelah melalui proses investigasi yang panjang pekan lalu. Seperti dikutip dari laporan ESPN, vonis tersebut memicu reaksi keras dari rival-rival utama yang merasa dirugikan secara finansial maupun prestasi selama periode pelanggaran pada tahun 2009 hingga 2018.
Sebanyak empat klub raksasa Inggris yaitu Arsenal, Liverpool, Manchester United, dan Tottenham Hotspur kini tengah bersiap untuk menuntut kompensasi ganti rugi. Mereka secara resmi telah mendaftarkan hak hukum mereka guna mengantisipasi batas kedaluaarsa tuntutan yang bisa menghalangi upaya gugatan hukum di masa depan.
Kerugian Historis Arsenal dan Liverpool
Arsenal merasa masa keemasan mereka di bawah asuhan Arsene Wenger sangat terhambat oleh kekuatan finansial Manchester City yang tidak terbatas. Selama periode pembangunan stadion baru, klub asal London Utara tersebut terpaksa menjual pemain-pemain bintang seperti Kolo Toure dan Samir Nasri ke rival kaya baru mereka demi mematuhi aturan keuangan.
Arsene Wenger bahkan sempat menyamakan keunggulan finansial tidak adil tersebut dengan tindakan curang di dunia olahraga. Mantan manajer asal Prancis tersebut menyatakan, “Mereka mendapatkan peningkatan performa melalui sumber daya keuangan yang tidak terbatas. Bagi saya, itu adalah sejenis doping karena sama sekali tidak terkait dengan sumber daya mereka.”
Sementara itu, kubu Liverpool merasa menjadi pihak yang paling menderita secara emosional akibat dominasi finansial Manchester City di era kepelatihan Jurgen Klopp. Tim berjuluk The Reds tersebut tercatat dua kali harus puas finis di posisi kedua dengan hanya selisih satu poin di belakang sang rival pada musim 2018-2019 dan 2021-2022.
Istri pemilik utama Liverpool, Linda Pizzuti Henry, turut membagikan kutipan sebuah artikel yang menggambarkan besarnya kerugian emosional tersebut. Kutipan itu berbunyi, “Tidak peduli seberapa banyak kerugian yang bisa dipulihkan di tahun-tahun mendatang, hal itu tidak akan menggantikan apa yang telah direnggut dari Liverpool. Kerugiannya jauh melebihi apa yang tercatat di atas neraca keuangan.”
Dampak Finansial Bagi Manchester United
Klub tetangga satu kota, Manchester United, turut mengidentifikasi sejumlah momen krusial saat mereka kehilangan potensi pendapatan besar akibat pelanggaran sang rival. Kehilangan posisi empat besar pada musim 2015-2016 membuat kubu Old Trafford kehilangan hak bermain di Liga Champions yang ditaksir bernilai hingga puluhan juta poundsterling.
Selain itu, mereka juga gagal memenangkan gelar Premier League pada musim 2011-2012 setelah kalah selisih gol secara dramatis di pekan terakhir dari Manchester City. Pihak manajemen Manchester United berpotensi mengajukan argumen bahwa penurunan status olahraga mereka memaksa klub membayar gaji pemain lebih tinggi untuk tetap kompetitif.
Dilema Gugatan Hukum Tottenham Hotspur
Tottenham Hotspur menghadapi situasi serupa karena seringkali berada dalam persaingan ketat memperebutkan tiket kompetisi Eropa selama periode pelanggaran tersebut. Klub asal London ini tercatat empat kali finis di peringkat kelima tepat di bawah Manchester City, yang secara langsung memotong potensi pendapatan ratusan juta poundsterling dari kompetisi elite Eropa.
Mantan ketua eksekutif Daniel Levy merupakan sosok utama yang mendaftarkan hak hukum klub sebelum dirinya resmi meninggalkan jabatannya baru-baru ini. Kini, kepemimpinan baru di kubu Tottenham Hotspur menghadapi dilema besar karena beberapa jajaran direksi mereka merupakan mantan petinggi di grup kepemilikan lawan.
Langkah hukum lanjutan kemungkinan besar baru akan diputuskan setelah komisi independen secara resmi menjatuhkan sanksi final kepada Manchester City. Proses panjang ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan serta masa depan finansial kompetisi sepak bola tertinggi di Inggris tersebut.
