Singkirkan Frankfurt, Chelsea Berjumpa Arsenal di Final Liga Europa

Entah apa yang merasuki sepak bola Inggris. Dua final kompetisi level Eropa 2018/19 menampilkan empat tim Inggris sekaligus. Jika Liverpool dan Tottenham Hotspur bertarung di puncak Liga Champions, Arsenal dan Chelsea berduel di final Liga Europa.
Berlaga melawan Eintracht Frankfurt di leg kedua semifinal Liga Europa 2018/19, Chelsea berhasil merengkuh kemenangan dramatis lewat babak adu penalti. Skor imbang 1-1 yang bertahan hingga babak tambahan memaksa pertandingan berlanjut ke duel yang tak lagi cuma bicara soal taktik, tapi juga keberuntungan itu.
Di waktu normal laga yang berlangsung di Stamford Bridge pada Jumat (10/5/2019) ini, Ruben Loftus-Cheek mencetak gol pembuka pada menit 28. Namun, empat menit berselang babak kedua dimulai, Frankfurt menyamakan kedudukan via Luka Jovic.
Adu penalti yang menjadi penentu itu dimenangi Chelsea dengan skor 4-3. Keempat gol Chelsea itu ditorehkan oleh Ross Barkley, Jorginho, David Luiz, dan Eden Hazard. Sementara, tiga gol Frankfurt dibukukan oleh Sebastien Haller, Jovic, dan Jonathan de Guzman. Dari lima kesempatan eksekusi, dua penggawa Frankfurt gagal menjebol gawang Chelsea.
Eden Hazard, Olivier Giroud, dan Pedro diutus Maurizio Sarri sebagai trisula serangan dalam pakem dasar 4-3-3. Ketiganya turun arena dengan mengemban tugas menggempur pertahanan Frankfurt yang diperkuat oleh David Abraham, Martin Hinteregger, dan Simon Falette. Adolf Hütter, si arsitek taktik Frankfurt, memilih untuk turun arena dalam formasi 4-2-3-1.
Ruben Loftus-Cheek membuktikan bahwa sekecil apa pun kesempatan yang diberikan itu sudah cukup baginya. Menjadi pemain pengganti? Tak masalah. Menjadi pilihan kedua? Oh, silakan saja. Cedera N'Golo Kante ibarat skema blessing in disguise untuk perjalanan karier Loftus-Cheek. Dan kesempatan itulah yang ia gunakan sebaik-baiknya.
Baik Chelsea maupun Frankfurt mengawali laga dengan imbang. Ini terbukti dari statistik ofensif keduanya. Hingga menit ke-25, tim tamu dan tuan rumah sama-sama membukukan tiga upaya tembakan dengan dua di antaranya mengarah gawang.
Bicara soal penguasaan bola, Chelsea tak menang besar, 'hanya' 52%. Namun, lain cerita saat pertandingan memasuki menit 29. Loftus-Cheek tampil sebagai pembeda lewat sepakan yang tak mampu dibendung oleh kiper lawan.
Jika ada satu orang yang harus diapresiasi terkait gol ini, Hazard-lah orang. Benar sekali, Hazard yang itu. Hazard yang dikabarkan begitu ingin segera hengkang ke Real Madrid, klub impiannya.
Hazard patut diapresiasi bukan hanya karena predikatnya sebagai penyuplai assist untuk Loftus-Cheek, tapi juga bagaimana usahanya untuk menjadi pemberi assist. Saat menguasai bola di middle third, Hazard dikepung oleh dua pemain Frankfurt sekaligus, mereka mengapit di sisi kanan dan kiri--sambil begitu gigih merebut bola.
Alih-alih membuang bola, Hazard memutar badannya untuk mengelabui dua seterunya. Upaya itu berhasil, Hazard mampu meloloskan diri. Tak mau membuang momentum, bola langsung dikirim kepada Loftus-Cheek yang sudah ngepos di atasnya.
Selanjutnya adalah sorak-sorai. Sepakan Loftus-Cheek yang menyasar tiang jauh tidak mampu diamankan oleh Kevin Trapp yang bersiaga di depan gawang.
Setelah gol tersebut, Frankfurt jelas mengambil inisiatif tekanan. Penguasaan bola Chelsea yang mencapai 59,9% diladeni dengan agresivitas aksi defensif. Strategi counterpressing Frankfurt ini sepintas memberikan hasil menjanjikan.
Gelandang petarung macam Sebastian Rode dan bek tengah, Hinteregger, tampil begitu garang dengan tujuh upaya tekel mereka. Menariknya, aksi defensif tak hanya dilakoni oleh pemain bertahan. Ante Rebic yang bertugas di lini serang pun giat bermanuver. Hingga menit 35, Rebic membukukan dua tekel sukses.
Yang menjadi masalah, counterpressing Frankfurt itu terhenti setiap kali mereka mencapai area pertahanan Chelsea. Penumpukan pemain menjadi penyebab mengapa serangan tadi acap terhenti.
Lima menit jelang waktu normal babak pertama tuntas, Loftus-Cheek bukannya tak mungkin menambah pundi-pundi golnya. Sayangnya, upayanya ini urung berbuah keunggulan kedua karena sanggup ditepis Trapp.
Tertinggal 0-1 di babak pertama tidak menjadi persoalan yang perlu dibesar-besarkan oleh Frankfurt. Laga babak kedua baru berjalan empat menit, Sarri sudah mencak-mencak kecewa di pinggir lapangan.
Jovic menjadi antagonis yang membikin suporter Chelsea menggerutu geram. Pasalnya, ia berhasil membobol gawang yang dikawal oleh Kepa Arrizabalaga. Bekerja sama dengan Gacinovic, striker asal Bosnia itu melepaskan tembakan terukur ke pojok kiri gawang Kepa. Frankfurt belum menyerah, kedudukan imbang menjadi 1-1, begitu pula dengan skor agregat yang berubah menjadi 2-2.
Frankfurt benar-benar belum padam, Gacinovic kembali menjadi ancaman pada menit 59. Gelandang itu mengais peluang dari via sepakan dari luar kotak penalti Chelsea walau tembakannya masih bisa dimentahkan Kepa. Tak lama berselang, Filip Kostic juga melakukan percobaan dari ujung area penalti, tapi bola melenceng di sisi kanan gawang.
Usai gol penyama kedudukan tadi, tensi laga jelas meninggi. Rangkaian serangan yang dibangun kedua tim menjadi warna paling dominan di laga ini. Yang menjadi pembeda, Frankfurt benar-benar agresif dalam melancarkan aksi bertahan. Itu ditandai dengan 12 upaya tekel dan delapan intersep. Di lain pihak, aksi defensif Chelsea didominasi oleh sapuan.
Bicara soal peluang, Chelsea kembali menebar ancaman pada menit 78. Davide Zappacosta, si bek sayap, melepaskan tembakan kencang dari luar kotak penalti. Sayangnya, upaya ini urung berujung gol karena masih bisa ditepis oleh Trapp.
Kualitas Trapp sebagai palang pintu terakhir pertahanan Frankfurt memang patut diacungi jempol. Tiga menit jelang waktu normal tuntas, ia kembali berhasil mementahkan upaya Chelsea via sepakan Giroud. Itu menjadi aksi penyelamatan keempatnya di sepanjang paruh kedua.
Waktu normal tuntas, kedudukan agregat masih imbang 2-2. Begitu pula saat lima menit waktu tambahan yang diberikan oleh wasit berakhir. Itu berarti, duel mesti berlanjut ke babak tambahan. Kalau kedudukan masih imbang juga, adu penalti tentu menjadi cara terakhir.
Pada menit 96, Sarri melakukan penyegaran pada lini serangnya. Giroud ditarik dan digantikan oleh Gonzalo Higuain. Semenit menginjakkan kaki ke lapangan, Higuain sudah diperhadapkan dengan kesempatan untuk menjadi game changer lewat skema serangan balik. Sayangnya, Higuain tak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Umpan yang dikirimnya dari sayap kanan justru diblok oleh Abraham.
Empat menit berselang, Haller membuat suporter Chelsea ketar-ketir. Semuanya bermula dari Kostic yang mengirim umpan silang dari sayap kiri. Bola tersebut berhasil disambar oleh Haller dengan tembakan mengarah gawang. Di momen ini, Luiz-lah yang menjadi pahlawan karena berhasil menghalau sebelum bola melewati garis gawang.
Haller kembali menjadi ancaman serius bagi publik Stamford Bridge pada menit 106. Sepak pojok yang dieksekusi rekannya disambar dan dikonversi menjadi tembakan mengarah gawang via sundulan.
Kali ini, gawang Chelsea diselamatkan oleh tandukan Zappacosta yang berdiri tepat di sebelah Kepa. Untuk beberapa saat, Zappacosta menjelma menjadi Zarathustra untuk Chelsea.
Babak tambahan tak cukup besar bagi Chelsea untuk mencetak gol keunggulan, begitu pula dengan Frankfurt. Sarri yang berulang kali mengekspresikan kekesalannya tak lagi ragu menunjukkan kegugupannya di pinggir lapangan saat bersiap adu penalti.
Puntung rokok terselip di bibirnya, gesturnya pun tak tenang, ia berputar-putar di depan bench Stamford Bridge. Gelagatnya persis kita saat dipusingkan dengan pekerjaan yang tak kunjung rampung menjelang deadline. Apa boleh buat, pikirnya, saatnya beradu hebat di babak adu penalti.
Pada akhirnya, adu penalti yang menjadi penentu itu dimenangi Chelsea dengan skor 4-3. Entah seperti apa rasanya menjadi Sarri. Semusim penuh dihajar roller coaster ala lapangan hijau, kesempatan untuk membuktikan kapasitasnya hadir dalam rupa final Liga Europa.
Keempat gol Chelsea ditorehkan oleh Barkley, Jorginho, Luiz, dan Hazard. Sementara, tiga gol Frankfurt dibukukan oleh Haller, Jovic, dan De Guzman.
Dari lima kesempatan eksekusi, dua penggawa Frankfurt, Hinteregger dan Goncalo Paciencia, gagal menjebol gawang Chelsea. Di kubu Chelsea hanya Cesar Azpilicueta yang tak mampu menebus penjagaan Trapp.
Hasil ini tak hanya memastikan Chelsea melangkah ke final Liga Europa. Lebih dari itu, sejarah tercipta karena ini menjadi pertama kalinya All-English Finals muncul di Liga Champions dan Liga Europa.
