Kumparan Logo

Sisi Gelap Piala Dunia 2022: Pekerja Migran Cuma Dibayar Rp 230 Ribu

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
FIFA Piala Dunia Qatar 2022 Preliminary Draw. Foto : FIFA
zoom-in-whitePerbesar
FIFA Piala Dunia Qatar 2022 Preliminary Draw. Foto : FIFA

Piala Dunia 2022 Qatar kembali memicu kontroversi menyusul laporan yang menyebut bahwa pekerja migran dibayar dengan upah minim. Padahal, mereka bertugas menyelesaikan pembangunan stadion dalam kondisi kerja yang ekstrem dan berbahaya.

Qatar dipilih sebagai negara berbahasa Arab pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. Namun, sorotan terus-menerus muncul karena dugaan skandal korupsi serta banyaknya laporan kematian ribuan pekerja karena kondisi kerja yang tidak aman.

Pekerja migran di Qatar yang bekerja untuk membangun stadion dilaporkan mempertaruhkan nyawa mereka, tapi hanya dibayar 12 poundsterling (Rp 230 ribu) per hari.

Salah satu calon venue Piala Dunia 2022, Stadion al-Janoub di Doha, Qatar. Foto: AFP/Giuseppe Cacace

Sebuah laporan bertajuk Reality Check 2021 diterbitkan oleh Amnesty International pada Selasa (16/11) dan menyatakan bahwa para pekerja berada dalam risiko besar karena stres akibat cuaca panas yang telah menyebabkan jumlah kematian yang tak terhitung.

Tragedi yang dirinci dalam laporan itu di antaranya adalah enam pekerja migran yang relatif muda dan mengalami kematian yang tak tidak dapat dijelaskan karena bekerja dalam proyek tersebut.

"Itu termasuk pekerja konstruksi, Suman Miah (34 tahun) yang pingsan dan meninggal setelah kerja berat pada suhu 38 derajat celsius. Tul Bahadur Gharti (34 tahun) meninggal setelah bekerja di luar ruangan pada suhu 39 derajat celsius. Tukang pipa, Sujan Miah (32 tahun) ditemukan tewas di tempat tidur setelah bekerja di suhu melebihi 40 derajat celsius," tulis laporan itu, dikutip dari Daily Star.

Namun, penyebab kematian itu tetap tidak jelas karena bisa saja disebabkan oleh penyakit bawaan atau serangan jantung sehingga sulit untuk menghubungkannya dengan kondisi kerja. Akan tetapi, peristiwa ini tetap menjadi kesedihan bagi keluarga pekerja.

Ilustrasi Pekerja Asing Foto: Pixabay

"Pada dasarnya, semua orang meninggal karena gagal pernapasan atau serangan jantung. Pada akhirnya ungkapan-ungkapan itu tidak ada artinya tanpa penjelasan dan hasil pemeriksaan yang jelas," kata Ahli Patologi dan anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. David Bailey.

Pemerintah Qatar mengakui bahwa sistem tenaga kerja mereka memang masih perlu dibenahi, tetapi membantah tuduhan eksploitasi ribuan pekerja migran untuk persiapan Piala Dunia 2022.

Penulis: Ilham Arya Wijayanto