kumparan
31 Oktober 2018 17:27

SOS: Keributan saat Dukung Timnas Bukti Suporter Tak Dewasa

di Stadion Wibawa Mukti, Timnas Indonesia
Suporter Timnas Indonesia di Stadion Wibawa Mukti, Selasa (11/9). (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Keributan kembali mewarnai sepak bola Indonesia. Akan tetapi, kali ini bukan terjadi pada kompetisi, melainkan usai pertandingan antara Timnas U-19 Indonesia vs Jepang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (28/10/2018) lalu.
ADVERTISEMENT
Kejadian bermula manakala capo atau dirijen dari kelompok Ultras Garuda bernama Aples diduga kedapatan di-sweeping oleh oknum suporter Persija Jakarta, The Jakmania. Kejadian kurang menyenangkan kemudian didapati oleh pemuda 20 tahun tersebut karena mendapat bogem mentah daro hampir dari 30 orang. Persolannya sederhana, Aples diketahui merupakan bagian dari kelompok suporter Persib Bandung, Bobotoh.
Atas kejadian ini, Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menilai bahwa kejadian tersebut bisa terjadi lantaran kurangnya tingkat kedewasaan penonton dalam menyaksikan laga pertandingan sepak bola. Akmal juga mengatakan fanatisme yang bersifat berlebihan menjadi faktor kejadian keributan antar suporter kerap berulang di sepak bola Indonesia.
"Penyeban lain adalah masalah keributan antar sesama suporter ini tidak diselesaikan secara tuntas dan wajar bila ada dendam di mana-mana," ujar Akmal ketika dihubungi kumparanBOLA, Rabu (31/10).
ADVERTISEMENT
"Kejadian inilah yang kemudian, istilahnya, menimbulkan anasir-anasir yang tidak bisa diselesaikan oleh PSSI secara tuntas lewat tim pencara fakta yang cuma jalan-jalan, tidak mencarikan solusi, hanya formalitas dan pada akhirnya sepak bola kita kembali ke zaman batu, sama saja," kata dia menambahkan.
Pertandingan Indonesia vs UEA
Suporter Timnas Indonesia saat melawan UEA. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Pernyataan Akmal merujuk kepada bentuk penyelesaian yang dilakukan oleh PSSI terkait kasus kematian salah satu Jakmania, Haringga Sirla. Pemuda 22 tahun yang pada 23 September lalu meninggal sesaat akan menyaksikan laga Persib Bandung vs Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) selesai tak sampai hitungan bulan.
Lewat Tim Pencari Fakta bentukan PSSI, akhirnya menelurkan beberapa putusan yang memberatkan Persib sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Haringga. Beberapa hukuman di antaranya adalah Bobotoh dilarang menyaksikan laga kandang maupun laga tandang Persib ditetapkan 1 Oktober lalu hingga pertengahan musim kompetisi 2019 mendatang.
ADVERTISEMENT
"Hal ini akan terus berulang jika tidak ada jalan yang bisa diambil untuk menyelesaikan rivalitas yang masih berceceran kayak begini. Dan kemungkinan bakal ada preseden, ya bisa saja karena masalah bola kita, masalah rivalitas, susah diselesaikan, susah karena tidak bisa diselesaikan karena kurang dewasa."
"Ditambah lagi faktor-faktor lain non teknis, kecurigaan terhadap kompetisi, bisa juga memunculkan prinsip-prinsip ke depan yang berakibat gesekan di tingkat sosial kultural, kepada masyarakat secara umum. Walaupun tidak dalam mendukung tim, tetapi ada sentimen warna pada akhirnya juga akan berdampak ke aktivitas sehari-hari," kata Akmal menjelaskan.
Oleh karenanya, Akmal meminta agar pemangku kepentingan sepak bola Tanah Air yakni PSSI memberikan edukasi kepada 'anak-anaknya'. Adapun maksud anak dari pernyataan Akmal adalah klub yang bernaung di bawah PSSI.
ADVERTISEMENT
Akmal bahkan menyontohkan apa yang sudah dilakukan Federasi Sepak Bola Inggris (FA) terhadap para kelompok suporter di Inggris. Saat keributan sering kali terjadi, kata Akmal, FA dengan segala cara menyarikan solusi agar kejadian tak berulang. Salah satunya bekerja sama dengan klub untuk memberikan edukasi kepada suporter.
"Edukasi menyaol aturan sepak bola kepada suporter penting, kemudian pembinaan di level klub juga demikian dan klub harus punya tanggung jawab pada suporter karena suporter bukan hanya sekedar produsen uang mereka tetapi mereka punya hak yang sama ketika menjaga kemanan dan kenyamanan saat pertandingan," kata Akmal.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan