Stamford Bridge 1999: Kekalahan Terbesar Man United dari Chelsea

3 Oktober 1999, Manchester United datang Stamford Bridge. Mereka membawa modal besar dalam lawatannya ke markas Chelsea tersebut. Ya, United tak terkalahkan dalam 29 laga terakhir dan meraih tiga trofi dalam rentang waktu itu. Tak ada yang menyangka bahwa 'Iblis Merah' bakal pulang dengan penuh luka.
Modal United sebenarnya tak hanya itu. Sebelum laga tersebut, United menggenggam modal mentereng: Tak pernah kalah dari Chelsea dalam sembilan pertemuan terakhir.
Jangan lupa juga bahwa skuat United sedang bagus-bagusnya. Sir Alex Ferguson bisa menurunkan line-up yang terdiri dari pemain-pemain seperti David Beckham, Paul Scholes, Andy Cole, Dwight Yorke, Jaap Stam, Dennis Irwin, dan Phil Neville.
Sementara Chelsea, saat itu bukanlah tim yang bertabur uang seperti sekarang. Skuat The Blues bisa dibilang tak sebanding dengan tamu mereka.
Meskipun begitu, apa yang terjadi di lapangan Stamford Bridge berbeda. Chelsea berhasil menghancurkan United dengan skor 5-0.
27 detik setelah sepak mula, Chelsea berhasil membuka keunggulan lewat sundulan Gustavo Poyet. Gelandang asal Uruguay itu memanfaatkan umpan silang Dan Petrescu. Namun, gol tersebut tak akan terjadi andai kiper United, Massimo Taibi, lebih tenang.
Omong-omong soal Taibi, kiper asal Italia ini sebenarnya tampil kurang meyakinkan setelah didatangkan dari AC Milan pada awal 1999/2000. Namun, Sir Alex tak memiliki pilihan lain karena kiper andalannya, Peter Schmeichel, hengkang di akhir 1998/1999. Lagipula, Taibi memang digaet untuk menggantikan Schmeichel di pos penjaga gawang.
Kita kembali ke pertandingan. Gol cepat Chelsea itu membuat United sama sekali tidak nyaman. Beberapa kali mereka melakukan salah umpan. Sebaliknya, Chelsea mendapatkan momentum yang kemudian membuat mereka sukses mengendalikan pertandingan.
Alhasil, Chelsea mendapatkan gol kedua di menit ke-16. Adalah Chris Sutton yang jadi algojonya. Menariknya, itu adalah gol perdana pemain yang didatangkan dari Blackburn Rovers dengan mahar 10 juta poundsterling itu.
Tak mengherankan apabila suporter Chelsea berteriak “About time!” setelah Sutton mencetak gol itu.
Derita United bertambah setelah Nicky Butt mendapat kartu merah di menit ke-22. Butt diusir wasit setelah menendang gelandang Chelsea, Dennis Wise, dengan lututnya. Aksi tak terpuji Butt itu dipicu oleh ulah Wise, yang sebelumnya melakukan terjangan.
Tertinggal dua gol dan mesti bermain dengan 10 pemain, itulah derita United di awal pertandingan. Sebagian besar orang yang menonton laga ini hampir pasti menilai bahwa rentetan tanpa kekalahan United akan berakhir.
Sembilan menit setelah turun minum, gol ketiga Chelsea tercipta. Taibi lagi-lagi membuat kesalahan di sini. Pria yang dibeli dengan mahar 4,5 juta poundsterling itu tak mampu menepis bola tendangan Frank Leboeuf dengan baik. Bola jatuh ke kaki Poyet dan ia pun dengan mudah melakukan sontekan ke jala gawang United.
Manchester United kembali kebobolan dua menit kemudian. Bek asal Norwegia, Henning Berg, salah mengantisipasi umpan silang Gianfranco Zola. Alhasil, bola justru masuk ke gawangnya sendiri.
Chelsea menuntaskan kemenangan mereka lewat gol Jody Morris di menit ke-81. Pria yang kini menjadi asisten Frank Lampard itu benar-benar mempermalukan Taibi lewat gol ini. Ya, Morris mengarahkan bola ke sela-sela kaki Taibi. Sang kiper hanya bisa tertunduk melihat bola melewati ‘kolong’ kakinya.
Setelah pertandingan berakhir, Taibi tak menjadi satu-satunya orang yang tertunduk malu. Semua pemain United terdiam seribu bahasa. Wajah Sir Alex merah memendam marah.
Pemandangan berbeda terlihat dari kubu tuan rumah. Zola dkk. berpesta. Sang pelatih, Gianluca Vialli, terlihat semringah.
Meskipun begitu, kekalahan memalukan ini benar-benar membuat United berbenah. Taibi tak pernah lagi diturunkan. Pun demikian dengan Berg. Dia tak banyak digunakan setelahnya dan dijual di akhir musim.
Hasilnya? United berhasil memenangi Premier League dengan 91 poin—selisih 18 poin dengan peringkat kedua, Arsenal. Mereka hanya kalah dua kali setelah hancur di Stamford Bridge.
Hal berbeda dialami Chelsea. Mereka terlena dengan kemenangan ini. Buktinya, Chelsea cuma finis di peringkat lima, Sutton tak pernah mencetak gol lagi buat timnya, dan Vialli dipecat di awal-awal 2000/2001.
Setelah musim ini, Manchester United memang kerap kalah dari Chelsea di Stamford Bridge, utamanya setelah kedatangan Roman Abramovich. Namun, tetap saja, tak ada yang paling buruk dibanding kekalahan mereka pada 3 Oktober 1999.
-----
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini.
Bagi yang mau nonton langsung siaran liga Inggris bisa ke MolaTV dan bagi yang ingin merasakan kemeriahan Nobar Supersoccer bisa cek list schedule nya di SSCornerID.
Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersi original.

