Kumparan Logo
Anti-Glazer
Spanduk anti-Glazer di Old Trafford.

Stand Up if You Hate Glazers: Upaya Suporter Rebut Kembali Man United

kumparanBOLAverified-green

comment
59
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Manchester United dan Burnley beradu. Foto: REUTERS/Phil Noble
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Manchester United dan Burnley beradu. Foto: REUTERS/Phil Noble

"Stand up if you hate Glazers!" Berdiri jika kau membenci [keluarga] Glazer, seperti itu chant suporter Manchester United yang memenuhi tribune Stretford End, Old Trafford.

Itu adalah chant ketiga sejak Burnley membukukan keunggulan 2-0 atas United. Sebelumnya, para suporter menyanyikan chant "Love United, hate Glazers" dan "We want United back.”

Kumpulan suporter itu pulang dengan kepala tertunduk, United menelan kekalahan 0-2 dari Burnley, Jumat (24/1/2020). Bahkan ini menjadi kekalahan pertama United dari Burnley di Old Trafford sejak 1962.

Sejumlah suporter United yang hadir di stadion bahkan pulang sekitar enam menit jelang waktu normal tuntas. Di ranah sepak bola, situasi seperti ini adalah alarm tanda bahaya.

Sikap macam ini merupakan manivestasi hilangnya kepercayaan suporter pada tim. Sederhananya, mereka tak percaya United bisa menang atau setidaknya memangkas ketertinggalan.

Spanduk anti-Glazer di Old Trafford. Foto: AFP/Andrew Yates

Sejak kedatangan Keluarga Glazer pada 2005, United memang menjadi klub kaya-raya. Ditambah, kedatangan Malcolm dan anak-anaknya itu juga dibarengi dengan kedatangan Ed Woodward yang tadinya bekerja di JP Morgan. Woodward inilah yang pada awalnya meminta Malcom untuk membeli saham United.

Malcolm membutuhkan Woodward sebagai Kepala Media dan Promosi Manchester United. Lantas, karena stroke, Malcolm menyerahkan tugas memimpin dan mengurus United kepada dua anaknya, Joel dan Avram, sejak 2006.

Woodward berhasil mengubah United dari klub yang memiliki pendapatan sponsor 48 juta poundsterling (2005) menjadi 117 juta poundsterling (2012). Butuh waktu tujuh tahun, tetapi progresnya terlihat.

Setelah kematian Malcolm pada 2014, keluarga Glazer menguasai 90% kepemilikan United. Sebelumnya, tepatnya pada 2013, Woodward naik jabatan menjadi CEO Manchester United.

Manchester United tambah kaya. Nilai jual semakin gila-gilaan. Glazer untung bukan main. Namun, prestasi di lapangan jeblok. Lebih dari itu, Manchester United kehilangan identitas.

Ed Woodward (tengah), CEO Manchester United. Foto: FRANCK FIFE / AFP

Pada dasarnya, United tidak perlu menjadi konglomerat untuk menjadi besar. Mereka hanya perlu memiliki finansial yang sehat dan menjadi juara.

Sir Alex dengan ambisi ajeknya membawa United sebagai tim yang cekatan mengumpulkan trofi. Woodward dengan ambisinya sendiri mengantar United sebagai penggali emas.

Tidak ada yang salah dengan menggali emas. Yang salah adalah klub hanya memiliki penggali emas tanpa pendulang trofi. Kondisi itulah yang muncul seusai kepergian Sir Alex.

Keputusan-keputusan sepak bola United tambah kacau, termasuk pembelian pemain. Woodward pernah mengeklaim bahwa ia tidak akan membeli pemain berharga gila-gilaan.

Namun, pada kenyataannya, United rela merogoh kocek sebesar 27,5 juta poundesterling sebagai biaya transfer untuk merekrut Marouane Fellaini dari Everton. Kegilaan itu berlanjut. United mendatangkan Juan Mata, Angel di Maria, dan Paul Pogba.

Membeli pemain berharga selangit tidak masalah, apalagi kalau klub tersebut kaya-raya. Yang jadi pertanyaan, apakah pemain berharga selangit itu bisa masuk dalam rencana tim?

Ambil contoh Di Maria dan Van Gaal. Pelatih Belanda yang satu ini adalah pelatih yang sama dogmatis. Tak akan ada pemain yang mendapatkan free role di bawah kepelatihannya. Di sisi lain, Di Maria bisa sampai pada performa terbaiknya jika mendapatkan kebebasan penuh.

Lesunya skuat Manchester United usai ditekuk Watford 2-0. Foto: REUTERS/David Klein

Oke, masuk tidaknya pemain dan rencana tim sebenarnya jadi pertanyaan kedua. Pertanyaan pertamanya adalah memangnya rencana United seperti apa?

Pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dengan mudah oleh Liverpool dan Manchester City. Namun, tidak oleh United. Toh, itulah yang terlihat di lapangan. United lebih sering tampil sebagai tim yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pernyataan seperti pemain A tidak cocok dengan pelatih B cukup menggelikan karena justru menimbulkan pertanyaan: Kenapa dia bisa ada di situ kalau memang tidak cocok?

Kepada Laurie Whitwell untuk The Athletic, Warren Joyce--mantan pelatih reserves United--berkisah seperti apa hari-harinya ketika mendidik Marcus Rashford, Pogba, dan Jesse Lingard.

Yang dilakukan Joyce saat itu adalah memimpin tim asuhannya menciptakan serial winners dengan cara yang disebut Sir Alex Ferguson sebagai Manchester United performance.

Sir Alex Ferguson tertawa dalam sebuah sesi latihan Manchester United. Foto: AFP/Paul Ellis

Performa demikian ditunjukkan oleh keberhasilan tim menguasai permainan lawan dengan cara yang berkualitas dan membuat lawan mati kutu di sepanjang laga. Itu berarti, tak asal menguasai bola tanpa serangan dan kemenangan.

“Rasanya menyenangkan jika manajer [Sir Alex] datang kepada kami dan menyebut bahwa tim sudah menampilkan sebuah Manchester United performance," jelas Joyce kepada The Athletic.

Joyce menggembleng anak-anak didiknya dengan cara seperti itu bukan hanya untuk gaya-gayaan. Lewat metodenya tersebut ia menegaskan bahwa seperti itulah Manchester United. Dengan metode kepelatihannya itu, Joyce sedang mempersiapkan para youngster agar pantas membela tim utama United.

"Ada jati diri yang harus dipertahankan dalam diri setiap pemain, terutama pemain muda. Mereka harus memiliki identitas dan mental sebagai Manchester United person, tidak sekadar pemain Manchester United. Hal-hal abstrak tersebut tak kalah pentingnya dari skill," jelas Joyce kepada The Athletic.

Suporter United pulang sebelum laga United vs Burnley rampung. Foto: REUTERS/Phil Noble

Bagi para suporter sepak bola adalah upah untuk jatuh-bangun mereka setiap hari. Setelah hari-hari menyebalkan, jam-jam penuh tuntutan, kebebasan dan waktu yang mengasyikkan bisa dimiliki saat tim kesayangan bertanding.

Katanya, suporter adalah pemain ke-12. Kemenangan tim juga jadi kemenangan mereka. Dunia melabeli mereka sebagai pecundang, tetapi di tribune stadion atau di bar tempat mereka menonton sepak bola, mereka sah disebut sebagai kampiun.

Sense itu lenyap dari Old Trafford, dari jersi yang dipakai para suporter hampir di setiap Manchester United berlaga. Kini tribune dan kehidupan sehari-hari tak ada bedanya, penuh dengan kekalahan.

Para suporter ingin kemenangan mereka kembali, para suporter ingin kejayaan terlihat datang lagi--maka mereka bernyanyi "We want United back."

===

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo, buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersi original.

collection embed figure