Kumparan Logo

Supercoppa Italiana: Mendobrak Kemapanan, Memanen Kecaman

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Lazio, Tommaso Rocchi, mengangkat trofi Supercoppa Italiana usai mengalahkan Inter di Beijing. (Foto: AFP/Liu Jin)
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Lazio, Tommaso Rocchi, mengangkat trofi Supercoppa Italiana usai mengalahkan Inter di Beijing. (Foto: AFP/Liu Jin)

Dari kaca mata Indonesia, Arab Saudi adalah sebuah raksasa sepak bola. Dua belas kali 'Garuda' bertemu 'Elang Hijau' dan tak sekali pun tim Merah-Putih berhasil meraih kemenangan. Akan tetapi, bagi orang-orang Italia, Arab Saudi -- seperti halnya negara-negara Asia pada umumnya -- hanyalah negara pasar sepak bola.

Juventus dan Milan akan menjalani laga Supercoppa Italiana edisi ke-31 di Arab Saudi, tepatnya di Jeddah. Di Arab Saudi sendiri, Jeddah merupakan salah satu pusat persepakbolaan. Dua klub besar, Al-Ahli dan Al-Ittihad yang sudah mengumpulkan 11 gelar juara Saudi Professional League, bermarkas di kota pelabuhan tersebut.

Namun, lagi-lagi, dari sudut pandang Italia, Jeddah bukanlah pusat persepakbolaan. Di kota itu, Juventus dan Milan akan menjual hiburan berupa pertandingan yang melibatkan nama-nama tenar, mulai dari Cristiano Ronaldo sampai Gianluigi Donnarumma, dari Gonzalo Higuain sampai Paulo Dybala. Status Jeddah, untuk sementara, harus turun dari pelaku utama menjadi penonton.

Bisnis memang menjadi panglima di sini. Sedari awal, itulah semangat dari penyelenggaraan Supercoppa Italiana di luar negeri.

Supercoppa Italiana sejatinya merupakan ajang yang relatif baru jika dibandingkan dengan Supercopa de Espana atau Community (dulu Charity) Shield. Jika Community Shield sudah digelar mulai abad ke-19 dan Supercopa de Espana sudah eksis sejak 1940, maka Supercoppa Italiana baru mulai dilangsungkan ketika abad ke-20 sudah memasuki masa senjanya, tepatnya pada 1988.

Kapten Milan Alessio Romagnoli memandangi trofi Supercoppa Italiana. (Foto: AFP/Fayez Nureldine)
zoom-in-whitePerbesar
Kapten Milan Alessio Romagnoli memandangi trofi Supercoppa Italiana. (Foto: AFP/Fayez Nureldine)

Sebagai ajang yang relatif baru, Supercoppa Italiana pun akhirnya menjadi lebih luwes pada perubahan. Di penyelenggaraannya yang keenam, Supercoppa Italiana sudah dipentaskan di luar negeri. Pada 21 Agustus 1993, Milan sang perengkuh Scudetto bertanding melawan juara Coppa Italia, Torino, di hadapan 25 ribu pasang mata yang hadir di Robert F. Kennedy Memorial Stadium, Washington, D.C.

Pada pertandingan itu Milan dan Torino turun dengan kekuatan terbaiknya. Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, Dejan Savicevic, Zvonimir Boban, dan pencetak gol kemenangan Marco Simone mewakili kubu Rossoneri. Dari pihak Granata, tampillah Giovanni Galli, Sandro Cois, Robert Jarni, hingga Enzo Francescoli.

Ide awalnya datang dari Paolo Taveggia yang beberapa bulan sebelum pertandingan itu ditunjuk sebagai salah satu direktur Milan. Amerika Serikat yang kala itu telah mengamankan status tuan rumah Piala Dunia 1994 dilihat sebagai medan baru yang harus ditaklukkan dalam upaya penyebaran popularitas sepak bola.

"Kami melihat sepak bola di Amerika Serikat sedang berada di ambang kejayaan dan kami berharap bisa memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya," ujar Taveggia ketika itu seperti dikutip dari Tifo Football.

Ide Taveggia itu awalnya tidak disambut baik. Pelatih Milan Fabio Capello, misalnya, mengkhawatirkan hawa panas yang akan dihadapi para pemainnya. Sementara, jurnalis Corriere della Sera, Costa Alberto, merasa waswas karena kentalnya hawa eksperimen dalam pertandingan tersebut.

Meski begitu, publik sepak bola di Amerika Serikat sendiri akhirnya terbukti cukup antusias dengan kedatangan Milan dan Torino ke negerinya. Dua puluh lima ribu orang yang datang ke RFK Stadium tadi jadi bukti yang cukup sahih. Plus, ketika itu Washington Post menyebutkan bahwa kedatangan Milan ke Washington tak ada bedanya dengan jika Chicago Bulls melawat ke Paris atau London.

video youtube embed

Pro dari penyelenggaraan ini akhirnya mengalahkan kontranya. Meskipun dalam delapan pertandingan berikutnya Supercoppa Italiana selalu dihelat di dalam negeri, pada edisi 2002 ajang ini kembali direlokasi ke luar negeri. Ibu kota Libya, Tripoli, ketika itu terpilih sebagai tuan rumah.

Terpilihnya Tripoli tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan rezim Muammar Gaddafi di Juventus. Lewat Libyan Arab Foreign Investment Company (LAFICO), Gaddafi membeli 7,5% saham Juventus yang saat itu bernilai 14 juta poundsterling. Anak Gaddafi, Al-Saadi -- yang di kemudian hari akan menjadi pemain Perugia, pun bergabung ke Juventus sebagai anggota dewan direksi.

Pemilihan Libya ini sebetulnya bisa dikatakan sebagai sebuah blunder. Awalnya, Tripoli memiliki hak untuk menggelar laga Supercoppa Italiana sebanyak dua kali. Setelah 2002, kota itu sedianya bakal jadi tuan rumah lagi pada 2004. Akan tetapi, pada penyelenggaraan kedua, nama Tripoli dicoret oleh Adriano Galliani, Wakil Presiden Milan yang kala itu juga menjabat sebagai Presiden Serie A, karena alasan keamanan.

Akhirnya, pada 2004 itu Supercoppa Italiana pun kembali digelar di Italia, tepatnya di San Siro dalam laga yang melibatkan Milan dan Lazio. Namun, setahun sebelum itu, pada 2003, ajang ini dikembalikan ke Amerika Serikat. Kala itu Juventus mengalahkan Milan via adu penalti pada pertandingan di Giants Stadium, New Jersey.

Problem di Libya tadi tak menghalangi Supercoppa Italiana untuk terus berekspansi. Antara 2009 dan 2012 ajang itu tiga kali digelar di Beijing National Stadium dengan pengecualian tahun 2011 ketika Internazionale dan Lazio bersua di Giuseppe Meazza. China sendiri pada 2015 lalu kembali menjadi tuan rumah dalam pertandingan yang melibatkan Juventus dan Lazio.

instagram embed

Pada dekade 2010-an inilah Supercoppa Italia mulai merambah Timur Tengah. Kota Doha di Qatar dipilih sebagai tuan rumah untuk edisi 2014 dan 2016. Dalam dua pertandingan itu Juventus selalu bermain tetapi mereka selalu kalah lewat adu penalti, yang pertama dari Napoli dan yang kedua dari Milan. Sampai akhirnya, pada gelarannya yang ke-31, Supercoppa Italiana merambah Arab Saudi.

Arab Saudi sendiri rencananya akan menggelar tiga pertandingan. Akan tetapi, belum saja satu pertandingan digelar, hujan kritik sudah begitu deras. Kontroversi dan keengganan memang senantiasa mengiringi penyelenggaraan Supercoppa Italiana di luar negeri. Namun, untuk penyelenggaraan di Riyadh ini kecaman yang datang benar-benar kuat.

Perkara kesetaaraan gender dan Hak Asasi Manusia menjadi dua hal utama yang disorot oleh para pengkritik. Di Arab Saudi sana wanita memang akhirnya telah diperbolehkan masuk ke dalam stadion. Namun, pembatasan masih begitu terasa karena wanita cuma boleh duduk di tribune keluarga, di mana mereka bakal duduk bersama pendamping prianya.

Aturan tersebut memang didasarkan pada hukum positif Arab Saudi di mana seorang wanita harus didampingi oleh pendamping prianya ke mana pun dia pergi. Aturan tersebut saat ini memang sudah mulai diperlonggar. Akan tetapi, di stadion sepak bola justru aturan tersebut masih dilanggengkan.

Kemudian, pembunuhan Jamal Khashoggi menjadi alasan lain di balik kecaman terhadap penyelenggaraan Supercoppa Italiana di Arab Saudi. Selain itu, Jeddah merupakan tempat Masjid Qisas berada. Masjid Qisas merupakan tempat eksekusi hukuman pancung terhadap para pelanggar hukum di Arab Saudi.

***

Thiago Silva mengangkat trofi juara Trophee des Champions 2018. (Foto: AFP/Anne-Christine Poujoulat)
zoom-in-whitePerbesar
Thiago Silva mengangkat trofi juara Trophee des Champions 2018. (Foto: AFP/Anne-Christine Poujoulat)

Terlepas dari segala kontroversinya, Supercoppa Italiana adalah pionir. Pasalnya, setelah ajang ini digelar di Washington, D.C. pada 1993 ajang-ajang Piala Super lain menyusul. Pada 2009, Trophee des Champions yang mempertemukan juara Ligue 1 dengan juara Coupe de France untuk pertama kalinya dilangsungkan di luar negeri.

Pada edisi 2009 itu Girondins de Bordeaux dan En Avant Guingamp bertanding di hadapan 34 ribu penonton di Olympic Stadium, Montreal, Kanada. Bordeaux menang 2-0 pada pertandingan itu berkat gol dari Fernando Cavenaghi dan Fernando Manegazzo.

Montreal pun menjadi titik tolak bagi promosi persepakbolaan Prancis karena sesudah itu Tunis (Tunisia), Tangier (Maroko), New Jersey, Libreville (Gabon), Beijing, dan Klagenfurt (Austria) ikut menyusul jadi tuan rumah. Teranyar, pada edisi 2018 Paris Saint-Germain dan Monaco bentrok di Shenzhen, China, untuk memperebutkan gelar Trophee des Champions.

Edisi 2018 juga menjadi momen bagi Supercopa de Espana untuk menggelar pertandingan di luar negeri untuk kali pertama meski hal itu dilakukan dengan terpaksa. Piala Dunia 2018 dan ajang kualifikasi Liga Europa yang harus dilakoni Sevilla membuat Barcelona dan Sevilla harus bertanding di Tangier dalam pertandingan satu leg.

Dengan demikian, rasanya sah jika menyebut Supercoppa Italiana sebagai lokomotif dari masifnya laju promosi sepak bola modern, khususnya di abad ke-21. Bahkan, La Liga saat ini sudah punya rencana untuk menggelar pertandingan Primera Division di Amerika Serikat. Tanpa Supercoppa edisi 1993 dan Taveggia, boleh jadi menggelar laga sepak bola Eropa di luar negeri bakal selamanya dipandang tabu.