kumparan
13 Mei 2018 2:33 WIB

Tentang Jam yang Berhenti dan Dinosaurus yang Punah di Hamburg

Hamburg SV berduka. (Foto: REUTERS / Fabian Bimmer)
Hamburger SV memiliki dua keunikan. Pertama, mereka memiliki jam khusus di kandang mereka, Volksparkstadion. Kedua, mereka punya julukan Dinosaurus (Der Dino) yang menggambarkan sejarah panjang dan kekuatan mereka di Bundesliga. Namun, di musim depan, dua hal ini tak akan terdengar gaungnya di Bundesliga.
ADVERTISEMENT
Takdir sudah terukir. Setelah 54 tahun 261 hari bertahan di Bundesliga, masa bermain di kompetisi level tertinggi itu usai sudah. Dalam laga pekan terakhir Bundesliga musim 2017/2018, meski meraih kemenangan atas Borussia Moenchengladbach dengan skor 2-1, Hamburg harus rela terdegradasi ke 2. Bundesliga musim 2018/2019.
Kepastian terdegradasinya Hamburg ini didapat usai pesaing mereka, VfL Wolfsburg, sukses meraih kemenangan atas FC Koeln di laga terakhir dengan skor 4-1. Wolfsburg sendiri akan menjalani laga play-off menghadapi tim peringkat tiga 2. Bundesliga. Mereka, setidaknya, masih memiliki jalan untuk selamat.
Sedangkan bagi Hamburg, tak ada lagi jalan selamat. Dinosaurus punah, jam di Volksparkstadion pun berhenti berdetak. Yang tersisa sekarang hanya kesedihan dan amarah yang bercampur jadi satu.
ADVERTISEMENT
***
Hamburger SV, sesuai dengan julukan mereka, Der Dino (Dinosaurus), adalah klub dengan sejarah panjang di Jerman. Berdiri sejak 1887, mereka menjadi satu dari 16 klub yang memprakarsai berdirinya Bundesliga pada 1963 silam (tidak ada nama Bayern Muenchen di dalamnya). Kala itu, mereka masuk ke dalam bagian dari tim yang berkompetisi di Oberliga Nord, bersama Eintracht Braunschweig dan Werder Bremen.
Sejak terlibat dalam pembentukan Bundesliga sampai 2018 ini, Hamburg sama sekali belum pernah terdegradasi. Sepanjang 1963 sampai 2018, klub ini mencatatkan beberapa prestasi gemilang, seperti menjuarai Bundesliga (1978/1979, 1981/1982, dan 1982/1983), European Cup (cikal bakal Liga Champions) pada musim 1982/1983, serta menjuarai European Cup Winners' Cup pada 1976/1977.
Dengan segala kegemilangan yang mereka raih ini, termasuk ketika era Ernst Happel pada awal 80an, Hamburg menjadi klub yang cukup diperhitungkan di Jerman. Tak heran klub ini dijuluki 'Dinosaurus'.
ADVERTISEMENT
Selain karena sejarah panjang, mereka juga bergelimang prestasi dan menakutkan. Mereka juga garang pada lawan, bahkan pada Real Madrid sekalipun yang mereka kalahkan pada musim 1979/1980.
Jam di Volkparkstadion. (Foto: Reuters / Morris Mac)
Namun, memasuki tahun 2010-an, penurunan prestasi mulai dialami oleh Hamburg. Pelatih datang silih berganti, namun tak ada satupun di antara mereka yang mampu mengembalikan kejayaan Hamburg seperti dulu. Pencapaian terbaik Hamburg di masa 2010-an ini hanyalah kesuksesan menembus semifinal Liga Europa 2009/2010 di bawah asuhan Bruno Labbadia.
Selepas itu, tak ada lagi prestasi mengesankan yang diraih Hamburg. Malah, mereka lebih banyak berkutat di zona degradasi, dan beberapa kali selamat karena memenangi persaingan di papan bawah atau karena menang dalam laga play-off promosi-degradasi, seperti yang terjadi pada musim 2013/2014 dan musim 2014/2015.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, hantu degradasi yang sudah mengintai Hamburg dalam beberapa musim terakhir benar-benar menunjukkan kekuatannya pada musim 2017/2018 ini. Penampilan buruk yang sudah mereka tunjukkan sejak awal musim, berujung kepada degradasi di akhir musim.
Catatan delapan kemenangan, tujuh hasil imbang, dan 19 kekalahan, mengantarkan mereka turun divisi ke 2. Bundesliga musim depan.
Terdegradasinya Hamburg ini sontak membuat para suporter marah. Sebagai bentuk rasa marah yang mereka rasakan, mereka menyalakan dan melemparkan beberapa suar ke atas lapangan Volksparkstadion.
Beberapa polisi bahkan harus berjaga di atas lapangan ketika pertandingan usai untuk menanggulangi amarah suporter ini. Kemarahan yang lebih berupa sebuah kesedihan.
***
Dinosaurus itu punah. Jam di Volksparkstadion, yang selama ini setia bergerak, akhirnya harus berhenti berdetak. Hamburger SV yang tak tersentuh degradasi sejak 1963, mulai musim depan, harus rela merasakan seperti apa berkompetisi di 2. Bundesliga.
ADVERTISEMENT
Ini memang perkara menyedihkan. Tapi, setidaknya, ini menjadi penanda tersendiri bagi manajemen klub. Penanda untuk membenahi sesuatu yang salah di Hamburg, membenahi kekurangan-kekurangan yang ada di tubuh Hamburg agar hal serupa tak terjadi lagi di masa mendatang.
Dinosaurus memang punah. Tapi, barangkali, dinosaurus itu sudah sempat bertelur. Entah siapa yang bakal mengerami telur tadi. Bila menetas, maka bukannya tak mungkin ia akan merajai kembali Jerman.
Dan bila saat itu tiba, maka jam Volksparkstadion akan berdetak kembali.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan