Kumparan Logo

Timnas Indonesia di Pra-Piala Dunia: Erat dengan Kegagalan

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Persiapan Timnas Indonesia di Stadion Wibawa Mukti. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Persiapan Timnas Indonesia di Stadion Wibawa Mukti. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Berlaga di Piala Dunia merupakan sebuah kehormatan bagi setiap negara. Akan tetapi, untuk menjejak menuju turnamen sepak bola ter-Akbar di dunia itu tak semudah membalikkan telapak tangan kanan.

Timnas Indonesia merasakan kesulitan tersebut. Memang, Indonesia pernah mentas di Piala Dunia edisi 1938. Saat itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Mereka pun masuk dengan sangat mudah.

Harusnya, Indonesia berhadapan dengan Jepang di babak kualifikasi. Akan tetapi, Jepang mengundurkan diri dan membuat Indonesia langsung lolos.

Berhubung Piala Dunia saat itu langsung memakai sistem gugur, Indonesia hanya main sekali. Berjumpa Hongaria di babak pertama, Indonesia langsung kalah dengan skor telak 0-6.

Pencapaian di Piala Dunia 1938 menjadi satu-satunya yang terbaik dari Timnas Indonesia. Setelahnya, amat sulit bagi skuat 'Garuda' untuk bisa melaju ke pesta sepak bola empat tahunan itu.

Setelah Piala Dunia sempat terhenti karena adanya Perang Dunia II, pesta itu kembali dihelat pada tahun 1950. Namun, Indonesia tak bisa ikut serta. Di babak kualifikasi, Indonesia memilih mundur lantaran tak siapnya para pemain untuk bertanding.

Di babak kualifikasi Piala Dunia 1958, peluang untuk Indonesia melaju ke putaran final sejatinya sangat besar. Indonesia memiliki empat tahapan untuk bisa lolos ke Piala Dunia yang digelar di Swedia.

Perjalanan sepertinya akan baik-baik saja karena di tahap pertama, Taiwan dan Australia yang menjadi lawan Indonesia mengundurkan diri. Kemudian, di tahap kedua, Indonesia berhasil mengalahkan China hingga masuk ke babak berikutnya.

Prahara muncul di kualifikasi tahap ketiga ini. Dalam format grup, Indonesia berada bersama Israel, Sudan, dan Mesir. Karena Indonesia tak mengakui kedaulatan negara Israel, Indonesia menolak untuk bermain tandang.

Permohonan Indonesia ditolak oleh FIFA selaku federasi tertinggi sepak bola dunia. Alhasil, Indonesia mengundurkan diri dan tidak lolos ke Piala Dunia 1958 itu.

Trofi Piala Dunia. Foto: Francois Lenoir/Reuters

Timnas Indonesia juga mengundurkan diri di Kualifikasi Piala Dunia 1962. Alasannya sederhana, Timnas Indonesia ingin fokus ke ajang Asian Games yang digelar di Jakarta.

Kesulitan-kesulitan selanjutnya diterima oleh Indonesia. Pada kualifikasi tahun 1974, Indonesia berada di Grup 2 bersama Selandia Baru, Australia, dan Irak.

Sayang, Indonesia tak bisa lolos ke babak selanjutnya karena hanya menempati posisi ketiga dengan lima angka hasil dari sekali menang dan dua imbang.

Kegagalan juga terjadi di kualifikasi tahun 1978. Berada satu grup dengan Hong Kong, Malaysia, Thailand, dan Singapura, Indonesia hanya bisa memang sekali kala bertemu Singapura. Alhasil, Indonesia tak berhak melaju ke babak selanjutnya.

Indonesia harus kembali gagal di babak awal pada kualifikasi tahun 1982. Bergabung dengan Selandia Baru, Australia, Taiwan, dan Fiji, Indonesia hanya bisa finis di posisi tiga klasemen akhir Grup 1. Kala itu, Indonesia hanya mengumpulkan enam angka hasil dari dua kali meraih kemenangan.

Meski demikian, sederet kegagalan itu hampir berbuah manis pada Kualifikasi Piala Dunia 1986. Di babak awal, Indonesia berhasil melaju dengan mulus. Berada di Grup 3 Zona B bersama India, Thailand, dan Bangladesh, pasukan Sinyo Aliandoe berhasil jadi juara grup usai merengkuh empat kemenangan dan sekali imbang.

Sayang, ketika berhadapan dengan raksasa Korea Selatan di babak semifinal kualifikasi, Indonesia harus menyerah dengan agregat skor 1-6. Kalah 0-2 di Jakarta, dan remuk 1-4 kala melakoni laga tandang.

Setelah itu, cerita kembali kepada plot awal ketika kegagalan demi kegagalan menghiasi. Di Kualifikasi Piala Dunia 1990, Indonesia bahkan tersingkir sejak babak pertama. Bersaing dengan Korea Utara, Jepang, dan Hong Kong, Timnas Indonesia gagal melaju karena harus puas berada di posisi tiga usai hanya mendapat satu kemenangan.

Kegagalan kembali dirasakan pada Piala Dunia 1994. Berada di dalam Grup C bersama Korea Utara, Qatar, Singapura, dan Vietnam, Indonesia hanya berada di posisi empat klasemen dan tak bisa lolos ke babak selanjutnya.

Nasib serupa juga terjadi di Piala Dunia 1998. Indonesia berada satu grup dengan Kamboja, Yaman, dan Uzbekistan, di Grup 5. Akibat hanya mendapat sekali kemenangan, Indonesia harus puas finis di posisi tiga di bawah Uzbekistan dan Yaman.

Sejumlah suporter memberikan semangat kepada Timnas U-22 Indonesia saat bertanding melawan Timnas U-22 Malaysia di Stadion Nasional Olimpiade Phnom Penh, Kamboja. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kisah sama kembali terulang di Kualifikasi Piala Dunia 2002. Indonesia sempat tampil trengginas karena mengalahkan Kamboja dan Maladewa dengan skor telak. Akan tetapi, menghadapi China di dua laga, Indonesia kalah dan harus puas berada di posisi dua.

Di Kualifikasi Piala Dunia 2006, peruntungan Indonesia tak jua membaik. Bergabung dengan Arab Saudi, Turkmenistan, dan Sri Lanka, Indonesia hanya bisa finis di posisi ketiga klasemen Grup 8.

Format kualifikasi kemudian berubah di Piala Dunia 2010 dan 2014. Namun, tak demikian dengan nasib Indonesia. Di kualifikasi Piala Dunia 2010, Indonesia berhasil lolos setelah menang WO atas Guam di babak pertama.

Di babak kedua, giliran Suriah yang menjadi lawan bagi Timnas Indonesia. Namun, Indonesia harus menyerah di laga yang berlangsung dengan format kandang-tandang itu. Total, Indonesia kalah dengan agregat 1-11.

Begitu juga di kualifikasi Piala Dunia 2014. Kala itu Indonesia yang tampil dari babak kedua mampu menang menghadapi Turkmenistan dengan agregat 5-4. Akan tetapi, ketika menjejak babak ketiga dengan format grup, Iran, Qatar, dan Bahrain yang tergabung di Grup E tampaknya masih terlalu kuat bagi skuat asuhan Wim Rijsbergen itu.

Nahas, dari enam laga yang dimainkan oleh Indonesia, tak ada sama sekali poin yang mampu diraih. Skuat 'Garuda' pun harus berada di posisi buncit.

embed from external kumparan

Nasib lebih tragis terjadi di Kualifikasi Piala Dunia 2018, Timnas Indonesia tak bisa ikut serta lantaran sanksi dari FIFA. Ketika itu, babak kualifikasi sudah dimulai sejak 2015 atau bertepatan dengan jatuhnya sanksi bagi PSSI.

Kini, di kualifikasi Piala Dunia 2022, Timnas Indonesia asuhan Simon McMenemy akan langsung masuk ke putaran kedua yang menggunakan fase grup. Mampukah McMenemy mengubah peruntungan Indonesia? Menarik dinantikan.