kumparan
10 Oktober 2019 14:36

Timnas Jerman yang Tak Berhenti Beregenerasi

Timnas Jerman
Wajah baru Timnas Jerman. Foto: REUTERS/Leon Kuegeler
Ada yang berbeda di skuat Timnas Jerman saat mereka menghadapi Argentina pada laga persahabatan di Signal Iduna Park, Kamis (10/10/2019) dini hari WIB.
ADVERTISEMENT
Dalam susunan skuat inti yang diturunkan Joachim Loew, tidak ada pemain-pemain seperti Thomas Mueller, Mesut Oezil, maupun Sami Khedira. Memang, masih ada Manuel Neuer dan Marco Reus. Namun, mereka jadi cadangan.
Yang mengesankan, hampir semua pemain inti di laga persahabatan melawan Argentina berusia di bawah 25 tahun. Kai Havertz dan Serge Gnabry, yang sama-sama mencetak gol, masih berusia 20 dan 24 tahun.
Gol Havertz bahkan menjadi gol pertamanya bersama Jerman. Sebuah catatan apik bagi pemain yang baru main 6 kali bersama Die Mannschaft.
Susunan pemain muda ini menegaskan bahwa Jerman tak henti melakukan regenerasi.
Sejak hancur lebur di Piala Eropa 2000, Jerman langsung berbenah. Mereka sadar bahwa sistem pembinaan yang baik perlu diterapkan agar tidak kehabisan talenta di masa depan.
ADVERTISEMENT
Perombakan pun dilakukan. DFB selaku otoritas tertinggi sepak bola Jerman menganggarkan dana sebesar 20 juta euro untuk membangun 366 pusat latihan di seantero Jerman.
Bukan cuma itu, mereka juga mewajibkan tim-tim yang berlaga di Bundesliga turut aktif dalam program pembinaan ini. Dulu hasilnya memang tidak begitu terasa. Namun sekarang?
Terhitung sejak 2010, Jerman tak pernah berhenti menelurkan talenta baru. Setelah generasi Oezil, Khedira, Neuer, Mats Hummels, serta Mueller, sempat muncul talenta baru seperti Julian Draxler, Shkodran Mustafi, hingga Matthias Ginter.
Setelah hasil buruk yang didapat Jerman di Piala Dunia 2018, talenta-talenta baru kembali menyeruak. Selain Gnabry dan Havertz, masih ada nama-nama lain, semisal Joshua Kimmich, Jonathan Tah, Suat Serdar, maupun Nadiem Amiri.
ADVERTISEMENT
Mereka memang masih berusia 25 tahun. Namun, kebanyakan dari mereka sudah tampil reguler bersama klub masing-masing. Ini merupakan buah dari keterlibatan klub-klub Bundesliga dalam proses pembinaan para pemain Jerman.
Tak heran jika Jerman, seperti yang acap terjadi dalam beberapa musim terakhir, banjir talenta. Hal inilah menyebabkan regenerasi mereka terus berjalan.
***
Regenerasi yang dilakukan Jerman pada akhirnya akan bermuara pada satu tujuan: prestasi Timnas. Saat Jerman merengkuh trofi Piala Dunia 2014, talenta yang mentas di ajang itu merupakan hasil dari proses pembinaan yang panjang.
Bastian Schweinsteiger
Bastian Schweinsteiger mengangkat trofi Piala Dunia 2014. Foto: Wikimedia Commons
Generasi 2014 itu sudah mulai menua. Beberapa di antaranya, seperti Oezil maupun Khedira, sudah hampir memasuki usia kepala tiga. Maka, sudah waktunya bagi generasi baru untuk naik panggung.
ADVERTISEMENT
Jerman akan berlaga di Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022. Itulah sebaiknya-baiknya ujian untuk membuktikan kematangan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan