Kumparan Logo

Transfer Neymar sebagai Pernyataan Politis Qatar

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Neymar bersama Nasser Al Khelaifi. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)
zoom-in-whitePerbesar
Neymar bersama Nasser Al Khelaifi. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)

Mau sekeras apa Neymar berusaha meyakinkan publik bahwa transfernya ke Paris Saint-Germain (PSG) bukan soal uang, sulit rasanya untuk menelan mentah-mentah pernyataan itu. Masalahnya, ada uang ratusan juta euro yang terlibat di sana dan mata orang sudah telanjur terbelalak karenanya.

Bahwa ada alasan sepak bola di balik kepindahan Neymar, itu memang benar. Pria 25 tahun ini punya keinginan untuk menjadi protagonis utama di sebuah klub dan di Barcelona, dia harus melangkahi dulu mayat Lionel Messi untuk bisa mendapat status demikian. Lalu, ada pula ambisi meraih penghargaan Pemain Terbaik FIFA yang tentu juga menjadi pertimbangan tersendiri.

Akan tetapi, 222 juta euro? Yang benar saja? Ini belum termasuk besaran gaji yang nantinya bakal mencapai angka 500 juta euro dan berbagai bonus lainnya. Ini, tentunya, sudah tidak masuk di akal.

Namun, sesinting apa pun ini kedengarannya, ini sudah menjadi fakta yang tak bisa lagi digagalkan atau diganggu gugat. Pertanyaannya sekarang, ini semua untuk apa? Untuk siapa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kita tidak bisa melepaskan kenyataan bahwa klub anyar Neymar adalah PSG. Klub ini sendiri dimiliki oleh Qatar Sports Investment (QSI) dan perusahaan inilah yang menjadi kunci dari segalanya.

Dalam konferensi pers pengenalan Neymar di Parc des Princes, presiden PSG yang juga bos QSI, Nasser Al-Khelaifi, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak khawatir dengan sanksi Financial Fair Play (FFP) meski telah menghabiskan 222 juta euro untuk seorang pemain. Dengan entengnya, anggota keluarga Kerajaan Qatar itu menyuruh mereka yang mempertanyakan FFP untuk minum kopi.

Sekali lagi, ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa kita tidak mempertanyakan soal FFP? Bukankah dalam aturan dari UEFA sudah ditegaskan bahwa defisit neraca sebuah klub untuk musim 2015/16, 2016/17, dan 2017/18 adalah 30 juta euro? PSG sampai sekarang baru menjual Jean-Kevin Augustin dan Yoususf Sabaly yang nilai transfernya hanya sekitar 15 juta euro. Lalu, bagaimana mungkin mereka mengakali defisit ini?

Jawabannya ada di QSI selaku perusahaan induk mereka. Jadi, transfer Neymar ini tidaklah seperti transfer-transfer pemain sepak bola pada umumnya. PSG memang kaya raya, tetapi mereka tidak cukup kaya untuk memiliki surplus 222 juta euro di rekening mereka.

Dari sini, QSI kemudian bertindak. Caranya adalah dengan mengontrak Neymar sebagai duta Piala Dunia 2022 yang akan diselenggarkaan di Qatar. Nilai kontrak itu memang tidak pernah benar-benar dibeberkan, tetapi dari beberapa rumor yang beredar, jumlahnya mencapai 300 juta euro. Nah, dari uang "pribadinya" itulah Neymar kemudian membeli kontraknya agar bisa lepas dari Barcelona.

Neymar diperkenalkan di Parc des Princes. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)
zoom-in-whitePerbesar
Neymar diperkenalkan di Parc des Princes. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)

Itulah mengapa, secara teknis, Neymar bukanlah pemain termahal di dunia, karena secara teknis pula, PSG mengontraknya dengan status bebas transfer. Kalau tidak begini, Al Khelaifi tentu masih pening seribu keliling memikirkan sanksi FFP yang menanti.

Inilah kemudian yang membuat Arsene Wenger dan presiden La Liga, Javier Tebas, bereaksi keras. Seperti dilansir Independent, Wenger berkata, "Bagi saya, [transfer Neymar] ini merupakan konsekuensi dari sistem kepemilikan klub sepak bola yang sudah mengubah wajah olahraga ini dalam 15 tahun terakhir."

"Ketika sebuah negara memiliki sebuah klub, semuanya menjadi mungkin," sambungnya.

"Dengan demikian, menjadi sulit untuk menghormati Financial Fair Play karena bagi sebuah negara, ada banyak cara yang bisa digunakan agar seorang pemain bisa mewakili mereka."

"Angka [222 juta euro] itu mewujudkan passion, kebanggaan nasional, dan kepentingan publik, dan itulah mengapa, kita tidak bisa merasionalisasinya lagi. Selain itu, kita sudah tidak berada di titik di mana ketika kita berinvestasi, kita akan mendapatkan imbal balik. Fase itu sudah lewat," tegas manajer dengan masa bakti terpanjang di Premier League itu.

Wenger anggap transfer Neymar untungkan Qatar. (Foto: Reuters/Damir Sagolj)
zoom-in-whitePerbesar
Wenger anggap transfer Neymar untungkan Qatar. (Foto: Reuters/Damir Sagolj)

Di kesempatan lain, Tebas kembali menyuarakan ketidaksukaannya terhadap manuver yang dilakukan PSG tersebut. "Jika Neymar datang ke kantor Barca dan menyerahkan uang 222 juta euro, mereka takkan punya pilihan selain menerimanya," kata Tebas kepada AS.

"Kami ingin tahu dari mana uang itu berasal; apakah uang itu ilegal dan semacamnya. Jika, katakanlah, Manchester United datang dengan uang itu kami tidak akan rewel karena kami tahu mereka bukan klub dengan doping finansial."

"PSG adalah klub yang dimiliki oleh negara dan kita harus menghentikan situasi ini sesegera mungkin," pungkas pria 55 tahun ini.

Dari apa yang dikatakan Wenger dan Tebas, bisa ditarik satu kesimpulan, yakni bahwa PSG punya bekingan berupa negara kaya raya bernama Qatar. Untuk mengetahui seberapa kaya negara teluk satu ini, ada dua fakta yang paling sering dimunculkan ketika membicarakan Qatar: Mereka adalah negara dengan cadangan energi terbesar nomor tiga di dunia dan merupakan negara dengan penghasilan per kapita paling besar sejagat.

Dari sini, kemudian bisa ditarik sebuah hipotesis bahwa ada kepentingan lain yang bermain di sini. Bahwa sesungguhnya, yang benar-benar membutuhkan Neymar bukanlah PSG, tetapi Qatar.

Al Khelaifi, bos PSG dan QSI. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)
zoom-in-whitePerbesar
Al Khelaifi, bos PSG dan QSI. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)

Saat ini, Qatar masih belum mampu lepas dari problem regional yang sudah menimpa mereka sejak awal Juni 2017 lalu. Ketika itu, Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, dan Yaman memutus hubungan diplomatik dengan Qatar karena mereka menganggap bahwa negara yang beribu kota di Doha itu merupakan sponsor teroris.

Faktanya adalah, Qatar memang punya hubungan dekat dengan Iran, Hezbollah, dan Hamas. Meski begitu, mereka sebenarnya juga selalu berusaha untuk mendekatkan diri dengan tetangga-tetangga mereka. Namun, justru cara bermain "dua kaki" inilah yang tidak disukai Arab Saudi, selaku pemimpin de facto negara-negara Arab di Timur Tengah, beserta kroni-kroninya.

Qatar, kata beberapa orang, adalah negara yang berusaha terlalu keras untuk bisa disukai dan memiliki pengaruh. Celakanya, tak seperti Uni Emirat Arab yang sebenarnya juga melakukan hal serupa, Qatar bertindak tak ubahnya orang kaya baru yang mengesalkan.

Mereka dengan seenaknya membeli pengaruh, termasuk di sepak bola dengan mengambil alih PSG, menggunakan BeIN Sports (yang merupakan anak perusahaan Al Jazeera) untuk membeli hak siar liga-liga top Eropa, serta menyelenggarakan Piala Dunia 2022, dan menggunakan itu sebagai soft power. Dalam beberapa aspek, hal itu "berhasil" karena, misalnya, meski terus-terusan dihujani kritik akibat perlakuan buruk mereka terhadap pekerja migran di proyek Piala Dunia, Qatar belum juga mendapat sanksi tegas dalam bentuk apa pun.

Melihat manuver Qatar itu, tetangga-tetangga mereka kemudian bertindak tegas. Mereka mengisolasi Qatar dengan pemutusan hubungan diplomatik itu dan secara teoretis, hal itu memang masuk akal mengingat Qatar sangat mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Untuk memproduksi susu, misalnya, mereka harus mengimpor sapi dari Jerman.

Qatar yang kecil, kaya, tapi terkucil. (Foto: Reuters/Fadi Al-Assaad)
zoom-in-whitePerbesar
Qatar yang kecil, kaya, tapi terkucil. (Foto: Reuters/Fadi Al-Assaad)

Namun, Qatar ternyata tidak gentar. Meski masih berusaha untuk memperbaiki relasi dengan para tetangga, mereka juga senantiasa menunjukkan bahwa mereka tidak terpengaruh. Sebagai contoh, sepuluh hari setelah hubungan diplomatis dengan Arab Saudi dkk. diputus, Qatar segera bergerak untuk membeli jet tempur F-15 dari Amerika Serikat dengan nilai 12 miliar dolar AS.

Pembelian Neymar ini sebenarnya punya fungsi yang sama dengan pembelian jet-jet tempur canggih tersebut. Lewat pembelian Neymar, Qatar ingin menunjukkan bahwa mereka masih tetap punya kemampuan untuk menjadi negara berpengaruh. Ditambah dengan fakta bahwa persiapan Piala Dunia mereka bermasalah, transfer Neymar ini adalah kosmetik yang pas untuk menutupi borok mereka.

Prof. Stefan Szymanski, seorang pakar bisnis olahraga yang juga penulis buku Soccernomics, kepada Bloomberg menjelaskan bahwa ini adalah cara Qatar untuk melawan. "Transfer Neymar ini sangat berbau diplomasi," ujar Szymanski. "Hal yang paling tidak diinginkan Arab Saudi adalah bagaimana semua orang membicarakan Qatar."

Walau begitu, meski apa yang dilakukan Qatar ini fenomenal dan sanggup mencuri perhatian dunia, ia tetap berbau perjudian. Masalahnya, tidak ada jaminan bahwa apa yang mereka lakukan ini bisa mendapat tanggapan positif, khususnya dari para pencinta sepak bola sendiri.

Memang benar bahwa kepindahan ini bisa memicu pergeseran balance of power dalam konstelasi persepakbolaan Eropa yang tentu saja bisa menjadi angin segar tersendiri. Akan tetapi, ada dua skenario yang bisa membuat langkah ini menjadi senjata makan tuan.

Fans PSG bisa jadi korban transfer Neymar. (Foto: Reuters/John Schults)
zoom-in-whitePerbesar
Fans PSG bisa jadi korban transfer Neymar. (Foto: Reuters/John Schults)

Pertama, tentu saja jika kita melihat segi kompetisi di Liga Prancis itu sendiri. Tanpa Neymar saja, dengan pengecualian musim lalu ketika Monaco menjadi juara, PSG sudah menjadi hegemon.

Memang benar bahwa tujuan utama mereka bukan Ligue 1. Namun, Liga Champions adalah sebuah kompetisi yang sangat sarat tradisi dan PSG rasanya masih butuh waktu untuk bisa benar-benar berbuat sesuatu di sana. Jadi, efek Neymar ini, setidaknya dalam waktu dekat, baru bakal benar-benar terlihat di kompetisi domestik.

Kedua, soal relasi dengan fans. Meski Wenger telah menegaskan bahwa ini adalah investasi yang imbal baliknya tidak terlalu diharapkan, muskil rasanya membayangkan mereka tidak mengambil keuntungan dari sini. Harga tiket, sebagai parameter paling mudah dilihat untuk melihat relasi klub-fans, besar kemungkinan bakal meningkat.

Ketika masih ditangani Carlo Ancelotti dulu, atau pada masa awal kepemilikan QSI, sebagian fans Paris Saint-Germain sudah mengeluhkan matinya atmosfer Parc des Princes. Hal ini disebabkan karena harga tiket yang meningkat. Dengan harga tiket yang lebih tinggi, suporter kelas pekerja yang seharusnya menjadi nyawa stadion pun akhirnya termarginalisasi.

Demikianlah. Pada intinya, apa yang terjadi dalam transfer Neymar ini adalah hal yang luar biasa. Mulai dari soal besaran uang yang terlibat sampai spirit yang menggerakkannya. Apakah efek jangka panjangnya nanti bakal menguntungkan Qatar? Entahlah. Namun, untuk saat ini, setidaknya mereka berhasil membuat diri mereka jadi buah bibir.