Ultras Malaya Klaim Terbaik di Asia, Sudah Away ke Indonesia Belum?

Indonesia dengan Malaysia itu ibarat tetangga. Hidup berdampingan. Tetapi, sayangnya sering tak akur. Tersulut sedikit saja, emosi langsung membuncah.
Begitu pula dengan sepak bolanya. Di atas lapangan hijau, dua negara serumpun ini merupakan musuh bebuyutan. Bahkan, merembet hingga luar lapangan.
Ya, suporter Malaysia dan Indonesia sering sekali terlibat bentrok. Masing-masing merasa harus mempertahankan harga dirinya.
Namun, bicara suporter, Indonesia tampaknya boleh sedikit berbangga. Karena, urusan dukung-mendukung kesebelasan kesayangan sudah tak perlu diragukan lagi. Bukti sudah terhampar luas. Baik mendukung klub, apalagi Tim Nasional (Timnas) Indonesia.
Kendati demikian, dalam beberapa tahun belakangan, geliat suporter Malaysia semakin lama semakin terlihat. Hingga akhirnya tercetuslah nama ‘Ultras Malaya’.
Mereka mendeklarasikan diri sebagai pendukung fanatik Timnas Malaysia. Berpakaian serba hitam, dengan dilengkapi atribut kuning. Biasanya berada di tribune Utara.
Ultras Malaya hampir tak pernah absen mendukung ‘Harimau Malaya’, termasuk ketika menjamu Bhutan dalam laga persahabatan pada Minggu (1/4) lalu. Di partai itu, Malaysia akhirnya meraih kemenangan perdana sejak 2016.
Namun, bukan kemenangan 7-0 yang menjadi perhatian pecinta sepak bola nasional, melainkan sebuah pernyataan oleh akun malayantiger.my melalui Instagram. Di situ, mereka mengklaim Ultras Malaya sebagai suporter terbaik di Asia. Hah, serius?
Sontak, klaim sepihak itu langsung mendapat komentar. Dan, siapa lagi yang berkomentar kalau bukan warganet Indonesia. Kebanyakan dari mereka mempertanyakan sekaligus menyindir caption tersebut.
Melihat unggahan itu, memori saya seketika melayang kepada pengalaman pada tahun lalu. Ketika itu, saya bertandang ke Malaysia untuk meliput SEA Games 2017. Cabang olahraga sepak bola, tentu saja, menjadi liputan utama yang harus dilakoni.
Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-22 asuhan Luis Milla waktu itu datang berbekal hasil minor usai gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23. Di laga perdana penyisihan grup, ‘Garuda Muda’ harus bertemu Thailand.
Jurnalis Malaysia yang kebetulan duduk di sebalah saya, sebelum pertandingan, sempat bertanya, “Tim ini (Timnas U-22) kuat tidak?”
Saya, sih, jawab apa adanya,”Nggak terlalu.”
Sialnya, celotehan saya terbukti. Ezra Walian dan kawan-kawan tertatih untuk bisa lolos ke semifinal. Lebih celakanya, Indonesia harus berhadapan dengan tuan rumah di semifinal.

Dan, tiba pada hari pertandingan, berangkatlah saya menuju Stadion Shah Alam. Ramainya bukan main. Penyokong tuan rumah mendominasi. Akan tetapi, suporter Indonesia dengan atribut Merah-Putih juga tak kalah semarak. Mereka sama sekali tak gentar meski berada di markas lawan.
Saya sempat keliling tribune sebelum laga. Setelah berjalan, langkah saya kemudian terhenti di salah satu tribune yang dijaga beberapa orang berbaju kuning bertuliskan 'Curva Crew'. Saya lantas nekat nyelonong ke dalam. Niatnya, sih, sok-sokan mau merasakan atmosfernya.
Kebetulan, sebelum pertandingan, media sosial saat itu tengah ramai dengan unggahan video ketika suporter Malaysia menghina Indonesia. Sebenarnya, video tersebut sudah lama. Tepatnya, terjadi waktu Piala AFF 2012 di Stadion Bukit Jalil. Mereka berseru,”Indonesia itu Anj**g”.
Setelah saya masuk, Ultras Malaya ternyata sedang bernanyi irama yang sama tetapi dengan lirik berbeda. Kali ini mereka berseru,”Tak boleh bilang Anj**g”. Terus-menerus seperti itu.
"Ngeledek banget, nih," ucap saya dalam hati.

Saya lantas refleks mengambil ponsel untuk mengambil video. Tetapi. baru sepersekian detik saja, ada satu orang yang datang menghalangi saya. Juga berbaju kuning bertuliskan Curva Crew. Saya lantas dipelototi seperti maling. Merasa keadaan tak kondusif, saya lantas perlahan mundur teratur.
Di luar, saya sempat berkenalan dan ngobrol dengan orang yang menjaga tribune. Namanya Nazrool. Saya tanya kenapa tak boleh ambil foto dan video di dalam.
“Memang sudah peraturannya begitu. Kalau setelah match baru boleh,” katanya.
Dengan bangganya, Nazrool mengaku bahwa ia bersama teman-temannya dengan mengusung nama Ultras Malaya telah berkeliling Asia Tenggara untuk mendukung kesebelasan Malaysia.
“Kami pernah ke Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Laos,” ucapnya.
Iseng-iseng, saya tanya, “Ke Indonesia sudah pernah Pak Cik?”
Nazrool pun agak kikuk menjawabnya. Menjawabnya pun cenderung muter-muter. Namun, pada intinya: belum.
Jawaban Nazrool itu membuat saya teringat sebuah kejadian menggelitik saat perhelatan Piala AFF 2010 di Jakarta. Ketika itu, Timnas Indonesia asuhan Alfred Riedl bertemu Malaysia di partai pembuka grup.
Saat itu, entah dari mana datangnya, ada segelintir orang mengibarkan bendera Malaysia. Tetapi, saya bisa pastikan bahwa itu bukan Ultras Malaya. Karena, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari dan tak membawa atribut khas Ultras Malaya.
Melihat hal itu, sontak suporter Indonesia langsung mengintimidasi. Untungnya, tribune yang ditempati mereka kosong dan jauh dari jangkauan.
Saya menyaksikan sendiri bahkan ada beberapa suporter Indonesia yang mencoba memanjat pagar untuk menyebrangi tribune tersebut. Melihat hal itu, polisi lantas mengamankan mereka dan membawa keluar dari tribune.

Kembali ke partai semifinal SEA Games 2017, saya harus mengakui Ultras Malaya punya militansi yang kuat. Sepanjang 90 menit, tak pernah sekalipun mereka berhenti bernyanyi. Bergerak mengikuti arahan sang komando. Memberikan teror bagi tim lawan.
Karena sorakan mereka pula, Timnas Malaysia, yang sebenarnya bermain tak terlalu bagus ketika itu, terpacu semangatnya. Hingga akhirnya, sebuah gol pada menit-menit akhir laga menghancurkan harapan seluruh rakyat Indonesia.
Ya, begitulah. Unik memang Ultras Malaya ini. Bagi mereka yang pernah melihat langsung, harus diakui, Ultras Malaya punya ‘daya ledak’ yang luar biasa.
Namun, kalau mengklaim sebagai Ultras nomor wahid di Asia, tunggu dulu. Karena, sudah away ke Indonesia, belum?
