kumparan
5 Juni 2018 10:21

Yaya Toure: Guardiola Bermasalah dengan Pemain Afrika

Toure di laga perpisahan bersama Man. City. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
Josep Guardiola dicecar omongan tak sedap. Keberadaannya lantas seperti menjadi retak yang bila tak segera ditambal bukannya tak mungkin akan meruntuh bangunan nama baik dan reputasi Guardiola sebagai salah satu pelatih terbaik di Eropa.
ADVERTISEMENT
Terlebih, kali ini, omongan itu berkisar tentang perlakuan yang tidak adil kepada pemain dengan ras tertentu. Adalah mantan anak asuhnya di Manchester City, Yaya Toure, yang mengutarakan pendapat ini. Menurut pemain asal Pantai Gading ini, ia kerap menerima perlakuan tak adil dari Guardiola. Bila ditanya sebabnya, maka jawabannya akan menjadi karena dia seorang pemain berdarah Afrika.
Toure sendiri tercatat sebagai salah satu anak asuh Guardiola di Barcelona dan Manchester City. Selama empat tahun ia digembleng dengan kepelatihan ala Guardiola, Toure mengungkapkan adanya kejanggalan sikap Guardiola terhadap pemain-pemain tertentu.
Pengakuan ini pertama kali disampaikan Toure dalam sebuah wawancara kepada media Prancis, France Football, yang bila diterjemahkan judulnya akan menjadi: 'Yaya Toure: Saya Ingin Menjadi Satu-satunya Orang yang Merusak Mitos Guardiola'.
ADVERTISEMENT
"Dia mempelakukan saya dengan kejam. Bisakah Anda membayangkan bahwa dia akan melakukan hal yang sama kepada (Andres) Iniesta di Barcelona? Perlakuannya ini membuat saya bertanya-tanya, apakah ini semua karena saya pemain berkulit hitam," ungkap Toure, dilansir ESPN.
Toure juga merasa, ia tidak menjadi satu-satunya pemain berkulit hitam yang diperlakukan oleh juru taktik yang mengantarkan dua gelar juara kepada Manchester City di musim 2017/2018 itu. Namun, pesepak bola yang berlabuh ke Etihad Stadium pada 2010 itu menilai, Guardiola pasti akan menampik bila ditanyai persoalan macam ini.
"Dia hanya berlagak tidak punya masalah, dia itu kelewat pintar. Mana mungkin dia akan mengakuinya. Seandainya dia menurunkan lima pemain Afrika di dalam skuatnya yang bukan pemain naturalisasi, saya akan memberinya kue," ucap Toure.
ADVERTISEMENT
Yaya Toure telah memutuskan untuk meninggalkan Manchester City di akhir musim. Mantan pemain AS Monaco ini tidak memperpanjang kontraknya yang kedaluwarsa terhitung per 30 Juni 2018. Toure sendiri sempat menambah masa baktinya selama satu tahun pada Juni 2017.
Selama menjadi skuat City, Toure kerap hadir dalam momen-momen bersejarah klub. Pada final Piala FA musim 2010/2011, Toure mencetak gol penentu kemenangan ke gawang Stoke City. Dalam partai puncak Piala Liga Inggris dua musim berselang, dia juga sukses membuat kiper Sunderland menatap nanar ke arah gawang.
Toure di laga vs Brighton & Hove Albion. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
Sosok Toure juga begitu dikenal karena kesuksesannya dalam memainkan peran box-to-box. Ketika masa primanya bersama City, Toure dinilai sebagai salah satu gelandang box-to-box terbaik di dunia. Kemampuannya mengisi ruang-ruang tengah membuatnya jadi andalan utama untuk menjembatani lini belakang dan depan tim.
ADVERTISEMENT
Selama membela City, Toure tampil dalam 315 laga di semua ajang dengan raihan 79 gol dan 50 assist. Bersama City pula, Toure meraih tiga gelar Premier League (2011/2012, 2013/2014, 2017/2018), dua gelar Piala Liga Inggris (2013/2014, 2015/2016), satu gelar Community Shield (2012), dan satu gelar Piala FA (2010/2011). Toure juga berhasil mengantarkan City ke partai semifinal Liga Champions musim 2015/2016.
Menyoal keputusan Toure untuk tak memperpanjang kontrak, Guardiola sudah angkat bicara. Sebagai pengingat, kala itu ia mengakui, Toure punya andil tak sedikit untuk ikut mengangkat City dari tim semenjana menjadi tim raksasa.
"Yaya datang di awal perjalanan City menjadi tim besar. Berkat apa yang sudah dia lakukan, City bisa menjadi klub yang sekarang ini. Jasanya, bersama dengan Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini, tak boleh dilupakan. Yaya adalah pemain kuncinya," ujar Pep dalam wawancaranya jelang laga perpisahan Toure, pada Mei 2018.
ADVERTISEMENT
Karena dianggap begitu berjasa, City pun mempersiapkan upacara perpisahan untuk Toure di laga kandang terakhir mereka (melawan Brighton & Hove Albion) di gelaran Premier League 2017/2018.
Guard of honour untuk Toure. (Foto: REUTERS/Andrew Yates)
Lantas bila menilik catatan pertandingan Toure bersama City pada musim terakhirnya, ia memang tidak mendapat menit bermain yang banyak: hanya bermain 17 kali dalam semua kompetisi. Malahan, ia cuma sekali melakoni laga sebagai starter, itu pun dilakoninya dalam laga terakhir City di Premier League.
Spekulasi yang muncul, seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan Toure mulai menurun. Bukan hanya karena cedera, banyaknya pemain-pemain lain yang mampu menggantikan perannya membuat posisi Toure di City mulai tersingkir. Lantas, dalam wawancaranya tersebut, Toure menjawab spekulasi ini.
ADVERTISEMENT
"Saya mencoba memahami apa yang jadi keputusannya, makanya saya bertanya dengan sopan tentang catatan statistik saya kepada staf kebugaran. Saya lihat hasilnya bagus, bahkan lebih baik ketimbang sejumlah pemain yang lebih muda daripada saya. Makanya, saya paham bahwa ini bukan perkara fisik."
"Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi saya merasa ia (Guardiola) iri terhadap saya. Saya pikir, ia selalu menganggap saya sebagai rival, sebagai orang yang kerap membayang-bayangi cahayanya," ungkap Toure.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan