5 Ciri-ciri Spanduk Pecel Lele Khas Lamongan

13 November 2022 18:01
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi warung pecel lele dengan spanduk yang ikonik. Foto: Artcloud/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi warung pecel lele dengan spanduk yang ikonik. Foto: Artcloud/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Dengan harga murah dan rasa jempolan, telah membuat pecel lele begitu digemari banyak orang. Selain itu, warung pecel lele juga mudah ditemukan karena kehadiran spanduk yang ikonik. Namun, sebenarnya ciri-ciri apa saja, ya yang membedakan spanduk pecel lele khas Lamongan dengan yang lain?
ADVERTISEMENT
Ya, untuk menjawab pertanyaan tersebut, kumparanFOOD telah melakukan wawancara bersama dengan seorang pelukis spanduk pecel lele, bernama Hartono, pada Senin (24/10). Hartono telah menjadi pelukis spanduk pecel lele selama 14 tahun, dan sekarang karyanya telah tersebar ke seluruh Indonesia.
Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih jauh mengenai spanduk pecel lele khas Lamongan tersebut, kami telah merangkum setidaknya lima ciri-ciri dari spanduk warung makan ini. Penasaran apa saja? Yuk, simak informasinya di bawah:

1. Warna “ngejreng” spanduk pecel lele

Proses pembuatan spanduk pecel lele lukis oleh pengrajin, Hartono. Foto: Dok. Hartono
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembuatan spanduk pecel lele lukis oleh pengrajin, Hartono. Foto: Dok. Hartono
Kalau kamu cermati, warna pada spanduk pecel itu selalu terdiri dari ragam warna cerah dan ngejreng. Sebut saja warna-warna stabilo, seperti hijau, kuning, oranye, dan warna cerah lainnya; serta tak lupa warna putih sebagai latar belakang.
ADVERTISEMENT
Menurut Hartono, pemberian warna cerah tersebut bukan tanpa sebab, lho. Beragam warna mencolok tersebut, disinyalir dapat membantu banyak orang menemukan warung pecel lele di gelapnya malam hari.
“Jadi bukan tanpa alasan, alasan utamanya itu biar pewarnaannya ketika dilihat malam hari, menambah pamor warung itu sendiri; biar kelihatan jreng. Jadi konsumen tertarik ‘oh ternyata ini jualan lele’ dari ciri khas spanduk itu udah ketahuan dari pemilihan warna stabilo,” ujar Hartono kepada kumparanFOOD dalam wawancara secara virtual.

2. Gambar hewan di spanduk melambangkan pilihan makanan

Spanduk pecel lele lukis karya Hartono. Foto: Dok. Hartono
zoom-in-whitePerbesar
Spanduk pecel lele lukis karya Hartono. Foto: Dok. Hartono
Ciri kedua adalah, gambar hewan yang ternyata bukan untuk hiasan semata, melainkan benar-benar ada di menu makanan. Ya, jika kamu menemukan warung pecel lele dengan spanduknya terdapat gambar kerang; maka itu artinya warung tersebut juga menjual menu kerang.
ADVERTISEMENT
Ketika tim kami menanyakan hal tersebut, Hartono pun mengkonfirmasi bahwa gambar yang terdapat pada spanduk pecel lele tergantung pada menu yang dijual oleh pemilik warung.
“Ada beberapa yang jual seafood, (maka) gambar (pada spanduknya) ada bebek, ayam, kerang, dan sebagainya. Nah, rata-rata pecel lele paling gambarnya cuman ayam sama lele, dan lain sebagainya,” terang Hartono.

3. Gambar hewan menyesuaikan tren

Ilustrasi warung tenda pecel lele Lamongan. Foto: FarisFitrianto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi warung tenda pecel lele Lamongan. Foto: FarisFitrianto/Shutterstock
Ciri ketiga adalah setiap spanduk pecel lele, meskipun dibuat oleh orang yang sama; tetapi besar kemungkinan bahwa beberapa gambar hewannya tidak sama persis setiap waktu.
Dalam artian, gambar ayam yang dibuat oleh pelukis spanduk pecel lele hari ini, kemungkinan akan berbeda dengan gambar ayam yang dilukis pada bulan-bulan mendatang.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Menurut Hartono, hal ini dikarenakan, meskipun setiap pengrajin memiliki kebebasan untuk memilih bentuk atau rupa dari gambar hewan yang akan dilukis. Akan tetapi, semuanya akan bermuara pada tren atau gaya terbaru hari ini.
ADVERTISEMENT
“Setiap pengrajin masing-masing punya gaya pemilihan bentuk di gambar itu sendiri. Bebas memilih mana kira-kira hari ini yang tren, mengikuti gaya kekinian,” ungkap Hartono.

4. Ukuran spanduk menyesuaikan lapak

Detail spanduk soto dan pecel lele Lamongan karya Hartono. Foto: Dok. Hartono
zoom-in-whitePerbesar
Detail spanduk soto dan pecel lele Lamongan karya Hartono. Foto: Dok. Hartono
Ciri keempat adalah ukuran spanduk pecel lele yang digunakan oleh pemilik warung. Menurut Hartono, ukuran spanduk pecel lele sudah bisa dipastikan akan sesuai dengan luas warung yang berjualan; baik itu besar maupun kecil.
“Ukuran tergantung kondisi konsumen (warungnya). Jadi kalo untuk rata-rata spanduk kaki lima, kan ciri khasnya lima kan, bisa empat meter, lima meter. Kalo tempatnya kecil, ya ada yang tiga meter, bahkan ada yang 2,5 meter,” jelas Hartono.

5. Kemiripan font yang digunakan

Detail spanduk soto dan pecel lele Lamongan karya Hartono. Foto: Dok. Hartono
zoom-in-whitePerbesar
Detail spanduk soto dan pecel lele Lamongan karya Hartono. Foto: Dok. Hartono
Menurut Hartono, meskipun setiap pengrajin memiliki ciri khasnya masing-masing dalam melukis spanduk pecel lele. Akan tetapi, dalam hal pemilihan font umumnya serupa satu sama lain. Oleh karena itu, tak heran bila setiap spanduk pecel lele, memiliki font yang identik sehingga semakin lama, semakin mudah untuk dikenali konsumen.
ADVERTISEMENT

Lantas, mengapa spanduk pecel lele masih menggunakan teknik konvensional?

Ya, ciri terakhir dalam spanduk pecel lele yang telah begitu ikonik, adalah cara pembuatannya yang masih menggunakan teknik konvensional. Meskipun, terdapat juga beberapa spanduk pecel lele yang mungkin menggunakan teknik cetak secara digital. Akan tetapi, umumnya dan yang telah dikenal adalah, spanduk yang dilukis secara manual oleh si pengrajin spanduk pecel lele.
Menurut Hartono, spanduk yang dilukis secara langsung menggunakan tangan, memiliki kelebihan dalam hal ketahanan barang. Oleh karena itu, spanduk pecel lele yang sering dijumpai, kebanyakan tidak menggunakan teknik cetak secara digital.
“Menurut mereka (konsumen) spanduk yang dilukis asli, ketahanannya itu bisa nyampe tiga, empat nyampe lima tahun. Alasannya karena dilipat dibuka, dilipat dibuka itu awet,” papar Hartono.
Sementara spanduk yang dicetak secara digital, khususnya yang dibuat dari bahan plastik akan cepat rusak. Hal ini dikarenakan ketika spanduk tersebut dilipat dan dibuka untuk keperluan bongkar pasang tempat, maka gambarnya akan cepat pecah dan mengharuskan memesan spanduk baru.
ADVERTISEMENT
Namun, Hartono juga menegaskan bahwa, baik itu konvensional maupun modern memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Salah satunya dalam hal ketahanan spanduk.
“Ya, kita kembalikan lagi ke konsumen itu sendiri. Jadi kita enggak mau ego dengan hasil atau kualitas yang kita bikin. Namun, semuanya itu mempunyai ciri khasnya masing masing. Keawetan atau kondisinya barang itu, memiliki kelebihan masing-masing dan memiliki kekurangan masing-masing,” pungkas Hartono.
Reporter: Riad Nur Hikmah
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020