Food & Travel
·
31 Agustus 2018 15:22

5 Fakta Unik di Balik Kesederhanaan Warteg

Konten ini diproduksi oleh kumparan
5 Fakta Unik di Balik Kesederhanaan Warteg (247729)
Retno Wulandhari Handini (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)
Warung tegal atau lebih dikenal dengan nama warteg merupakan salah satu warung makan yang populer di Indonesia. Memiliki ciri khas sajian lauk pauk yang sangat beragam, warteg juga sangat mudah dikenali karena bangunannya yang sangat ikonik, berbentuk persegi dengan cat warna cerah pada dinding luarnya.
ADVERTISEMENT
Tak cuma itu, warung makan ini juga dikenal dengan porsinya yang melimpah dan harga yang miring. Karenanya, warteg sering menjadi andalan saat sedang berhemat. Bahkan, ia telah melekat dalam kehidupan masyarakat, dinikmati oleh banyak orang dari berbagai lapisan kelas sosial.
Lucunya, meski berasal dari Tegal, namun di daerah asalnya, warteg justru jarang ditemukan. Mereka tak memiliki embel-embel Warung Tegal yang biasanya melekat, dan hanya dikenal sebagai warung nasi biasa.
Walau tampak sederhana, namun nyatanya warteg menyimpan banyak hal-hal menarik di baliknya, lho. Apa saja? Berikut kumparanFOOD rangkum lima fakta unik seputar warteg:
1. Warteg sudah ada sejak tahun 1960-an
Meski terdapat berbagai versi mengenai sejarah warteg, namun salah satu yang paling meyakinkan adalah keterangan dari Koperasi Warung Tegal (KOWARTEG) yang dikutip dari Jurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung. Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa warteg sudah berterbaran di sudut-sudut kota Tegal berupa warung-warung tenda, dan banyak ditemukan di pinggir jalan, layaknya angkringan.
ADVERTISEMENT
Lalu, pada tahun 1960-an, perkembangan infrastruktur di ibu kota meningkat pesat, dan membuat banyak orang Tegal hijrah untuk mencari pekerjaan sebagai kuli bangunan. Setelah itu, istri mereka pun membuka usaha warung makan yang dibanderol dengan harga murah, namun porsinya melimpah, dan menjadi cikal bakal dari warteg yang terus menjamur hingga kini.
2. Terdapat plastik berisi air yang selalu digantungkan di setiap sudut warteg
Bila kamu sering berkunjung ke warteg, tentu tak asing dengan plastik berisi air yang sering digantungkan di sudut atau dekat pintu ruangannya, bukan? Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya fungsi dari plastik berisi air tersebut (bahkan banyak yang mengira itu adalah jimat penglaris).
Ternyata, plastik tersebut di gantung untuk mengusir lalat yang berkeliaran di dalam warteg. Air di dalam plastik tersebut dapat membiaskan cahaya ke segala arah, sehingga membutakan penglihatan lalat dan membuatnya menjauh dari makanan.
ADVERTISEMENT
3. Pelayan warteg mampu membaca karakter pelanggannya
Berdasarkan keterangan pemilik warteg legendaris, “Kharisma Bahari”, pelayan warteg harus memiliki kemampuan membaca karakter pelanggannya. Mereka akan menyajikan porsi makanan yang berbeda, sesuai dengan latar belakang pembeli.
Misalnya saja, porsi yang disajikan untuk karyawan kantoran akan lebih sedikit dibandingkan porsi makanan untuk kuli bangunan. Hal ini dikarenakan kebutuhan makan masing-masing pembeli yang berbeda, dan mencegah membuang-buang makanan karena tak habis dimakan.
4. Warteg juga memiliki franchise
Sama halnya seperti restoran cepat saji, warteg ternyata juga punya banyak cabang atau franchise, lho. Salah satu warteg yang paling populer dan telah memiliki ratusan cabang adalah Kharisma Bahari. Bahkan, warteg yang satu ini juga sudah tersebar dan menjamur di berbagai sudut ibu kota.
ADVERTISEMENT
Dan, meski terlihat sangat sederhana, namun jangan meremehkan omzet dari bisnis usaha ini. Setiap harinya, omzet yang dihasilkan oleh warteg mencapai kurang lebih Rp 2 juta.
5. Warteg telah mendunia
Ternyata, kepopuleran warteg tak hanya sebatas di dalam negeri saja. Warung makan sederhana ini sudah mulai merambah hingga ke negeri orang, seperti Malaysia, Korea Selatan, Amerika Serikat, hingga beberapa negara di Eropa.
Bisnis warteg bahkan laris manis saat diboyong ke luar negeri, dan banyak orang asing yang menyukainya. Tak hanya itu, persepsi bahwa warteg hanya identik dengan kaum menengah ke bawah sepertinya layak dihapus, mengingat banyak tokoh publik yang gemar menyambangi warteg, mulai dari artis, pejabat, hingga presiden negara.