Kumparan Logo

5 Kesalahan Saat Mengonsumsi Roti yang Bisa Gagalkan Proses Diet

kumparanFOODverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sandwich Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Sandwich Foto: Shutter Stock

Roti adalah salah satu sumber karbohidrat yang kerap dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Kendati begitu, roti juga sering dihindari oleh mereka yang sedang menjalani program diet. Padahal nyatanya, roti tidak seburuk itu, dan masih aman dikonsumsi untuk seseorang yang ingin menurunkan berat badan, lho.

Mengutip Livestrong, seorang ahli gizi sekaligus pendiri dan CEO dari NY Gizi Grup, Lisa Moskovitz, RDN mengatakan ketakutan akan mengonsumsi roti saat sedang diet itu tidaklah mendasar. Ini karena, karbohidrat dalam roti tidak otomatis menambah sel lemak atau berat badan.

"Mengurangi diri kamu dari karbohidrat, terutama yang kamu sukai (seperti roti), mungkin hanya menjadi bumerang di kemudian hari dan menyebabkan peningkatan keinginan," jelasnya.

Moskovitz lebih lanjut mengatakan bahwa karbohidrat akan membuat proses makan lebih memuaskan, mengenyangkan, dan memberi energi, karena mereka memasok bahan bakar yang dibutuhkan tubuh.

Untuk itu, roti bisa aman dikonsumsi saat diet, hanya saja ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan dan berujung menggagalkan program diet. Apa saja? Berikut selengkapnya:

1. Pilih roti rendah serat

Ilustrasi roti putih Foto: Dok.Shutterstock

Sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa serat memang memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Moskovitz mengatakan bahwa serat sangat baik untuk membantu melancarkan pencernaan, menyeimbangkan gula darah, dan membantu menciptakan defisit energi yang diperlukan untuk pembakaran lemak.

Tak hanya itu, makanan berserat tinggi juga akan membuat kamu merasa kenyang lebih lama. Moskovitz menyarankan bila ingin aman melakukan program diet, pilih roti yang mengandung setidaknya 3-5 gram serat per porsi.

2. Roti dengan tambahan gula

Roti cokelat pisang kismis yang tidak hanya lucu tapi lezat dan sehat Foto: Shutterstock

Roti yang memiliki cita rasa manis memang memberikan sensasi yang berbeda dan terasa lebih lezat dari roti tawar. Akan tetapi, gula tambahan termasuk sirup jagung fruktosa kemungkinan akan menyebabkan lonjakan berat badan.

Moskovitz menjelaskan, zat aditif manis ini memiliki efek yang berbanding terbalik dengan serat. Alih-alih menstabilkan gula darah, hal itu justru bisa menyebabkan lonjakan secara tiba-tiba. Diketahui, begitu selesai makan, kadar gula darah akan turun dan bisa sebabkan keinginan untuk lebih banyak makan.

3. Lebih memilih roti putih daripada roti gandum

com-Roti Gandum Foto: Shuttertsock

Diketahui, roti putih mengandung serat dan nutrisi yang lebih sedikit akibat proses penggilingan. Moskovitz mengungkapkan biji-bijian yang telah melalui proses tersebut dapat meningkatkan gula darah serta nafsu makan. Jadi, alangkah baiknya untuk memilih roti gandum yang minim proses agar tidak menggagalkan dietmu. Pilihlah roti gandum yang mengandung 100 persen gandum utuh, ya.

4. Tidak memasangkan roti dengan protein tanpa lemak atau lemak sehat

Ilustrasi Schotel Roti Gandum Isi Tuna. Foto: Shutter Stock

Jika kamu ingin merasa kenyang dalam waktu yang lama sehingga mendukung penurunan berat badan yang sehat, maka roti memang paling cocok disajikan dengan pendamping lain. Ya, karbohidrat seperti roti membutuhkan pelengkap, seperti protein tanpa lemak atau lemak sehat. Untuk membangun makanan yang seimbang.

Ini akan bermanfaat dalam memperlancar pencernaan dan meningkatkan rasa kenyang. Moskovitz menyarankan untuk menambahkan protein tanpa lemak pada roti. Seperti ayam, tuna, telur, atau lemak anti-inflamasi; seperti mentega almond, hummus, alpukat hingga minyak zaitun.

5. Makan roti dengan karbohidrat lain

com-Grilled Cheese Sandwich Foto: Shutterstock

Menggabungkan terlalu banyak karbohidrat dalam satu kali makan roti diketahui dapat menyebabkan masalah kesehatan. Oleh karena itu, saat kamu makan roti, jangan memasangkannya dengan makanan sumber karbohidrat lain.

Tetapi, Moskovitz menyarankan untuk cukup pada satu porsi karbohidrat per makanan yang diberi jarak setiap tiga hingga lima jam. Cara ini akan membantu memodulasi kadar gula darah. "Ini juga dapat mencegah makan karbohidrat berlebihan di kemudian hari atau dalam sekali waktu bersantap," tutupnya.

Reporter: Destihara Suci Milenia