Food & Travel
·
3 Maret 2020 13:56

5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun

Konten ini diproduksi oleh kumparan
5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun (476842)
Ilustrasi jamu Foto: Shutterstock
Rempah-rempah bukan hanya bisa digunakan sebagai bumbu masakan saja. Di balik khasiatnya yang membuat rasa masakan lebih sedap, rempah juga memiliki manfaat untuk kesehatan.
ADVERTISEMENT
Beberapa rempah bahkan bisa kamu manfaatkan untuk menjaga sistem imun. Rempah tersebut kaya akan antioksidan, yang mampu menjaga tubuh dari serangan radikal bebas penyebab berbagai macam penyakit.
Apalagi saat ini kita sangat membutuhkan asupan yang bersifat imunomodulator (bisa meningkatkan sistem imun). Salah satu sifat asupan seperti ini bisa kamu temukan dalam rempah-rempah, lho. Bumbu dapur itu bisa kamu gunakan untuk dijadikan minuman sehat di rumah.
Apa saja rempah yang bisa dijadikan obat herbal untuk penguat sistem imun? Berikut selengkapnya:

1. Meniran

5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun (476843)
Ilustrasi minuman herbal dari meniran Foto: dok.shutterstock
Berdasarkan studi in vitro 2014, ekstrak tanaman dengan nama ilmiah Phyllanthus niruri ini menunjukkan adanya aktivitas antioksidan yang kuat. Antioksidan tersebut bisa membantu tubuh melawan radikal bebas penyebab kerusakan sel dan penyakit.
ADVERTISEMENT
Selain itu, penelitian dalam jurnal Phytotherapy Research 2012 juga menemukan, bahwa meniran memiliki sifat antimikroba. Terutama meniran dapat melawan mikroba seperti H. pylori yang sering menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan; seperti tukak lambung, sakit perut, dan mual.

2. Temulawak

5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun (476844)
Jamu tradisional Indonesia Foto: Shutterstock
Punya nama latin Curcuma xanthorrhiza, temulawak kerap diolah jadi bahan utama berbagai jamu tradisional. Rempah yang fisiknya mirip kunyit ini, menghasilkan senyawa curcumin yang jadi senjata ampuh untuk menjaga daya tahan tubuh.
Berdasarkan jurnal Antioxidant and Anti-inflammatory Properties of Curcumin tahun 2007, antioksidan tersebut meningkatkan metabolisme serta mengeluarkan racun yang mengendap di dalam tubuh.
Sementara penelitian lain juga menemukan kemampuan curcumin dalam merangsang dopamin dan serotonin. Contohnya, penemuan jurnal Antidepressant Activity of Curcumin: Involvement of Serotonin and Dopamine System mengungkapkan, konsumsi temulawak bisa meningkatkan kemampuan otak sekaligus menjaga kestabilan mood.
ADVERTISEMENT

3. Jahe

5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun (476845)
Air jahe Foto: Shutterstock
Jahe memiliki senyawa gingerrol, zat yang sangat kuat. Sehingga enggak heran, kalau ketika batu ataupun flu kita disarankan untu minum air rebusan jahe.
Menurut penelitian Natural Product Communications 2014 menemukan, gingerol dalam jahe bertanggung jawab sebagai anti-inflamasi dan antioksidan yang kuat. Dengan begitu, jahe bisa membantu tubuh melawan radikal bebas dan serangan penyakit lainnya.

4. Serai

5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun (476846)
serai Foto: Shutterstock
Serai kaya akan antioksidan, seperti vitamin C dan flavonoid yang mampu melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas. Selain itu, kandungan antioksidan tersebut juga bisa meningkatkan imunitas tubuh, dan mencegah timbulnya berbagai penyakit.
Selain itu, serai juga bersifat diuretik yang dapat membantu membuang racun berbahaya dan bahan kimia yang tak diperlukan tubuh, menurunkan kadar asam urat, serta meningkatkan fungsi hati dan ginjal.
ADVERTISEMENT

5. Kunyit

5 Rempah-rempah untuk Penguat Sistem Imun (476847)
Ilustrasi Susu Kunyit Foto: Shutterstock/Alphonsine Sabine
Kunyit juga mengandung senyawa kuning curcumin yang bermanfaat menjaga daya tahan tubuh juga kesehatan otak. Menurut penelitian Department of Pharmacology, Peking University, curcumin dapat meningkatkan kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF) di otak. BDNF adalah hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan saraf otak.
Selain itu, kunyit juga bisa membantu tubuh menangkal radikal bebas. Soalnya kunyit mengandung antioksidan yang bisa menetralkan radikal bebas. Ini bahkan telah terbukti dalam beberapa penelitian, yang salah satunya dipublikasikan dalam jurnal Antioxidants and redox signaling tahun 2005.