Aplikasi Reservasi Resto Mulai Bikin Fitur Survei Kesehatan untuk Penggunanya

Selain restoran dan kafe yang merasakan dampak cukup besar akibat pandemi COVID-19, aplikasi reservasi tempat makan juga bisa dikatakan berhenti sejenak. Namun, selamat 'istirahat' beberapa aplikasi reservasi makanan di luar negeri justru mencari akal untuk menambah fitur yang menunjang apa pun yang berhubungan dengan pemesanan meja makan saat new normal.
Beberapa waktu lalu, saat banyak orang mulai menyetok makanan, OpenTable bikin fitur yang memberikan informasi waktu belanja yang tepat. Aplikasi pemesanan makanan dari California membuat fitur yang memastikan agar toko tak terlalu padat sehingga pembeli dapat mempraktikkan jarak sosial yang aman.
Saat ini, beberapa kota di dunia mulai membuka kembali restoran mereka; baik dengan kapasitas kurang atau hanya dengan tempat duduk di luar ruangan. Indonesia pun akan menuju saat itu, dengan aturan yang mungkin tak jauh berbeda.
Kini, banyak aplikasi reservasi yang sedang bergerak dalam informasi seputar kesehatan si pemesan makanan. Beberapa aplikasi reservasi seperti OpenTable, Tock, dan Resy berharap dapat membantu pelanggan dan pekerja restoran tetap aman dengan memasang survei dalam aplikasi yang harus diisi oleh pengunjung mereka.
Dilansir Eater, beberapa aplikasi reservasi telah memasukkan survei yang berisi pertanyaan tentang diet dan kebutuhan aksesibilitas. Sekarang, mereka berencana untuk memasukkan lebih banyak pertanyaan yang berfokus pada penyakit. Misalnya saja informasi mengenai riwayat kesehatan pelanggan; apakah mereka pernah berada di sekitar seseorang yang sakit, dan tentu saja suhu tubuh mereka.
Menerapkan kuesioner ini tidak dimaksudkan untuk menyerang privasi siapa pun, tetapi lebih merupakan langkah tambahan untuk menjaga keamanan semua orang.
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, jika karyawan atau pengguna akhirnya sakit, maka pelacakan akan lebih mudah. Ini karena aplikasi tersebut melacak di mana tempat duduk mereka, siapa servernya, dan siapa yang telah kontak langsung dengan pengunjung tersebut.
Dengan demikian, setiap orang yang berpotensi terpapar dapat diberi tahu dengan benar. Harapannya tentu agar penyebaran virus COVID-19 tidak meluas lagi.
