Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.94.1
ADVERTISEMENT
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, beragam produk pun mengalami peningkatan dari segi kualitas barang hingga kepraktisannya. Termasuk dengan tempat pembungkus makanan.
ADVERTISEMENT
Jika dulu makanan dibungkus menggunakan daun, batok kelapa, atau rantang logam yang berat. Kini kita dapat dengan mudah menemukan makanan baik yang cepat saji atau bahan makanan segar dibungkus menggunakan plastik seperti styrofoam.
Sebagai salah satu bahan pembungkus makanan yang saat ini paling banyak digunakan di seluruh dunia, styrofoam atau juga dikenal sebagai polistirena foam dianggap lebih murah, ringan, namun kuat dan lebih tahan lama.
Namun dibalik praktisnya styrofoam sebagai tempat makanan, ada anggapan-anggapan negatif tentang bahaya bungkus makanan yang terdiri dari 90 persen gas ini. Styrofoam dianggap berbahaya tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga kesehatan manusia. Ditambah lagi isu yang menyebutkan bahwa makanan panas yang ditempatkan pada wadah styrofoam dapat menyebabkan kanker dan gagal ginjal.
ADVERTISEMENT
Menanggapi isu ini, BPOM selaku badan resmi yang menangani perihal peraturan pangan di Indonesia menyebutkan bahwa makanan yang ditempatkan pada wadah dari styrofoam masih aman untuk dikonsumsi.
Regulasi tentang pengaturan styrofoam bahkan telah diatur dalam UU no 18 tahun 2012 tentang pangan serta PerKa BPOM no HK 03.1.23.07.11.6664 tahun 2011 dan no 16 tahun 2014 tentang pengawasan kemasan pangan. Disebutkan bahwa styrofoam aman digunakan sebagai pembungkus makanan, asalkan memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
“Styrofoam masih aman dan diizinkan untuk dipakai selama tidak melebihi batas residu stirena yaitu sebesar 5000 ppm (part per million),” ujar Dra. Ani Rohmaniyati MSi., selaku Kasubdit Standarisasi Produk dan Bahan Berbahaya BPOM Indonesia di acara 'Mitos dan Fakta Di Balik Kemasan Makanan Styrofoam yang berlokasi di Hotel Mulia, Jakarta Pusat (18/1).
ADVERTISEMENT
Diketahui pada 2009 lalu BPOM telah melakukan penelitian 17 jenis kemasan polistirena dan ditemukan fakta bahwa residu stirena dalam styrofoam masih berada di bawah batas maksimal yakni hanya 10 sampai 43 ppm saja per kemasan.
Meski aman dipakai sebagai wadah daging, buah, sayur, dan beragam makanan siap santap lainnya. Isu-isu lingkungan yang selalu dikaitkan dengan limbah styrofoam harus benar-benar diperhatikan.
Limbah bungkus makanan termasuk styrofoam selalu menjadi masalah yang selalu menemui jalan buntu untuk diselesaikan. Salah satunya adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai tata cara mengolah sampah sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
Cara paling mudah adalah dengan memilah-milah sampah styrofoam agar dapat dikumpulkan dan didaur ulang menjadi bahan-bahan rumah tangga daur ulang yang lebih ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT
“Sampah polistirena adalah sampah yang 100 persen dapat digunakan kembali. Styrofoam dapat dipecah dan dibentuk kembali menjadi produk baru,” demikian ujar Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D, Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung saat ditemui di acara yang sama.