kumparan
17 Juni 2019 18:31

Cakue Ko Atek: Cakwe Legendaris di Tengah Lorong Sempit Pasar Baru

Cakue Ko Atek
Cakue Ko Atek di Pasar Baru Foto: Safira Maharani/ kumparan
Teriknya matahari siang itu tak menghalangi kami untuk makan enak di Pasar Baru. Kawasan yang berada di pusat Jakarta ini memang lebih dikenal sebagai sentra tekstil.
ADVERTISEMENT
Namun, di antara puluhan toko kain yang berjejer, ada lorong-lorong yang dipenuhi oleh berbagai kuliner nikmat dan legendaris.
Salah satunya, kios Cakue Ko Atek. Bagi mereka yang sering bertandang ke Pasar Baru, tentu tak asing dengan sosok laki-laki baya yang kerap memamerkan kemahiranya dalam menguleni adonan cakue.
Ko Atek, namanya. Ia adalah penjaja cakue yang sudah berjualan di Pasar Baru sejak tahun 1971.
Cakue Ko Atek
Cakue Ko Atek di Pasar Baru Foto: Safira Maharani/ kumparan
Kiosnya hanya berupa bilik kecil dengan dinding triplek warna hijau. Setiap sisi dindingnya dipenuhi dengan aneka tempelan; ada foto Ko Atek bersama istrinya, potret wajahnya semasa muda, hingga berbagai ulasan media.
Sebuah wajan besar penuh minyak diletakkan di pojok depan. Di sampingnya, terdapat sebuah meja kayu; tempat Ko Atek menyiapkan adonan cakue. Sembari menunggu pesanan, kami seakan tengah menonton sebuah demo memasak.
Cakue Ko Atek
Adonan cakue diuleni hingga mulur Foto: Safira Maharani/ kumparan
Dengan lihai, Ko Atek menguleni dan menarik adonan cakue hingga mulur. Adonan tersebut lalu dipotong-potong dan ditekan bagian tengahnya menggunakan lidi.
ADVERTISEMENT
"Kalau disediakan meja sepanjang 20 meter juga saya bisa bikin sepanjang itu, tinggal sediakan mejanya saja," cetusnya saat ditemui kumparan.
Adonan cakue langsung mengembang begitu dimasukkan ke dalam minyak panas. Warnanya pun berangsur-angsur berubah jadi kuning keemasan.
Cakue Ko Atek
Adonan cakue sedang digoreng Foto: Safira Maharani/ kumparan
Kress! Tekstur renyah langsung terasa begitu cakue digigit. Bagian dalamnya berongga, tapi tak padat, membuatnya tetap ringan. Untuk menikmatinya, tersedia saus dari campuran cuka dan cabai untuk menambah rasa cakue.
Sausnya terasa asam dan sedikit manis. Samar-samar tercecap sedikit rasa pedas, menyatu dengan gurihnya cakue.
Cakue Ko Atek
Cakue yang sudah matang Foto: Safira Maharani/ kumparan
Selain cakue, Ko Atek juga menjual kue bantal. Proses pembuatannya tak kalah unik, masih menggunakan botol sebagai gilingan. Adonan yang sudah dipotong persegi digiling hingga pipih, lalu digoreng hingga mengembang.
ADVERTISEMENT
Kulit luarnya berwarna keemasan. Tak seperti kue bantal pada umumnya, permukaannya tak dilapisi dengan taburan wijen.
Cakue Ko Atek
Kue bantal buatan Ko Atek Foto: Safira Maharani/ kumparan
Tekstur luarnya renyah, sedangkan bagian dalamnya kopong. Tak berongga sama sekali. Manisnya pun pas, tak membuat eneg.
Tiap buah cakue dan kue bantal ini dibanderol seharga Rp 5 ribu.
Meski Ko Atek hanya dibantu oleh satu orang pegawai, ia tak terlihat kewalahan sama sekali. Bahkan, jumlah pesanan yang membeludak bisa disiapkannya dengan cekatan.
Cakue Ko Atek
Ko Atek sedang menyiapkan adonan cakue Foto: Safira Maharani/ kumparan
Sesekali, ia melempar celotehnya kepada pembeli yang tengah mengantre. Mengajak mereka bercengkrama, ditemani aroma harum cakue yang baru matang di tengah riuhnya pasar.
Tertarik untuk mampir di kios Cakue Ko Atek? Sebaiknya datanglah sekitar pukul 11.00 WIB karena belum banyak pembeli yang datang memesan.
ADVERTISEMENT
Cakue Ko Atek
Alamat: Jl. Belakang Kongsi No.31, Pasar Baru, Jakarta Pusat (belakang Bakmi Gang Kelinci Pasar Baru)
Jam buka: Setiap hari, (pukul 10.00 - 14.00 WIB)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan