Food & Travel
·
25 Juli 2021 12:00
·
waktu baca 2 menit

Cek Dulu, Yakitori di Jepang Tak Selalu Terbuat dari Daging Ayam

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cek Dulu, Yakitori di Jepang Tak Selalu Terbuat dari Daging Ayam (57319)
searchPerbesar
Ilustrasi Yakitori Foto: Shutterstock/Patara
Yakitori merupakan salah satu sajian favorit khas Jepang. Jika diartikan, maka yakitori adalah seporsi ayam panggang dengan saus manis gurih. Sajian ini mirip sate ayam, terdiri dari susunan potongan ayam yang ditusuk lalu dipanggang.
ADVERTISEMENT
Kadang kala yakitori di Jepang disajikan dalam bentuk bento. Lengkap dengan nasi hangat, tumisan sayur, lalu ditaburi biji wijen supaya makin harum. Lantaran kuliner tradisional ini bukanlah makanan mewah, jadi mudah untuk menemukannya. Bisa dibeli di pinggir jalan hingga minimarket.
Tampilan yakitori yang kecokelatan dengan minyak daging ayam yang gurih memang menggugah selera. Hampir semua orang, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa gemar menyantapnya. Namun, pengalaman berbeda justru dilaporkan oleh Seiji Nakazawa.
Mengutip SORA News 24, Seiji telah dikecewakan oleh makanan favoritnya sendiri. Ya, diketahui dirinya penggemar berat yakitori. Setiap kali berkesempatan ke minimarket, ia selalu membeli seporsi yakitori bento.
Cek Dulu, Yakitori di Jepang Tak Selalu Terbuat dari Daging Ayam (57320)
searchPerbesar
com-Ilustrasi Yakitori Foto: Shutterstock
Sayangnya, ketika ia kembali menemukan yakitori di toko kelontong A-Coop, makanan khas itu tidak sesuai ekspektasi. Memang, satu porsi makanan tersebut sangat besar, jelas menggugah rasa penasaran Seiji. Tapi, saat dibuka, tampilan ayam panggang khas Jepang itu membuat Seiji cukup kebingungan.
ADVERTISEMENT
Sesaat tutup bento dibuka, yakitori tidak terlihat seperti ayam sungguhan. Berkali-kali seiji mencoba memastikan, apakah ini benar-benar daging ayam atau bukan? Pasalnya yang ia lihat, adalah daging marinasi berlimpah saus yang menjadi topping seporsi nasi; lebih terlihat layaknya daging babi.
Setelah memeriksanya lagi, dalam bungkus makanan tertulis label ‘Yakitori Higashi Matsuyama’. Seiji pun menemukan label lainnya yang berisi keterangan, yakitori terbuat dari daging babi Saitama. Sejenak, laki-laki itu berpikir, mungkinkah ini kesalahan koki dari dapur?
Cek Dulu, Yakitori di Jepang Tak Selalu Terbuat dari Daging Ayam (57321)
searchPerbesar
Ilustrasi yakitori ayam Foto: Dok. Thinkstock
Oh, nyatanya, yakitori ala Higashi memang bukan sepenuhnya berbahan dasar daging ayam. Seiji menanyakan pada petugas toko kelontong perihal yakitori yang berbeda tersebut. Mereka mengatakan kalau seporsi yakitori di kota tersebut memang sengaja dibuat dari daging babi.
ADVERTISEMENT
Hal ini lantas membuat Seiji masih penasaran dan bingung. Ia masih berusaha membuktikan pada pihak industri pariwisata Higashi Matsuyama. Pihak perusahaan pariwisata itu menyetujui pernyataan pemilik toko. Dijelaskan kalau daging kepala babi dulu harganya murah. Daripada bagian kepala babi terbuang begitu saja, di tahun 1955 yakitori yang tadinya terbuat dari ayam diganti menjadi potongan daging kepala babi.
Cek Dulu, Yakitori di Jepang Tak Selalu Terbuat dari Daging Ayam (57322)
searchPerbesar
Daging babi panggang. Foto: Pixabay
Kisah ini juga beriringan dengan dampak yang ditimbulkan saat Perang Dunia II. Dulu, kondisi finansial Jepang cukup terbatas. Supaya masyarakat tetap bisa makan enak, penduduk di sana berkreasi agar bisa menyajikan bahan harga murah jadi makanan mewah. Tak terkecuali yakitori Higashi.
Pada akhirnya, Seiji memahami kalau tidak semua yakitori khas Jepang berbahan dasar ayam atau unggas. Setelah menjelajah ke sejumlah tempat, rupanya ia menemukan kreasi baru dalam seporsi bento favoritnya itu. Dirinya juga mengaku, yakitori daging babi punya rasa yang tak kalah gurih, nikmat, serta saus kental yang menggoda.
ADVERTISEMENT
Reporter: Balqis Tsabita Azkiya
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020