Diet Yin dan Yang, Keseimbangan dalam Pola Makan Masyarakat China yang Barbar
·waktu baca 3 menit

Hampir setiap masyarakat di suatu negara memiliki pola makan masing-masing. Salah satunya China, yang dikenal memiliki pola makan tinggi daging bahkan mengonsumsi makanan ekstrem pula.
Mengutip Web MD, selama berabad-abad, baik untuk alasan ekonomi maupun sejarah, makanan tradisional Tiongkok sebagian besar pada dasarnya adalah vegetarian; seperti kombinasi sayuran, nasi, dan kedelai. Ternyata, kehadiran daging hanya sebagai penyedap saja.
Namun, tampaknya di China banyak sekali restoran yang menghidangkan daging hewan apa pun untuk dimakan; mulai dari daging ayam, sapi, babi, hingga yang ekstrem seperti anjing dan kucing. Meski terkesan “barbar” tetapi nyatanya China masih memiliki pola makan yang lebih sehat daripada orang Amerika Serikat.
Makanan tradisional China sebagian besar terdiri dari bahan-bahan nabati; lalu sejumlah kecil ikan dan unggas, serta daging merah. Hal ini dijelaskan oleh Campbell, seorang direktur Cornell-China-Oxford Project on Nutrition, Health, and Environment.
Ia turut melakukan sebuah studi jangka panjang yang membandingkan pola makan masyarakat pedesaan China dengan rata-rata orang Amerika. Dia telah meneliti kebiasaan makan orang-orang yang tinggal di 100 desa di China sejak awal 1980-an. Menurut penelitian Campbell, pola makan tradisional China hanya terdiri dari 20 persen makanan hewani.
Di mana makanan hewani jumlahnya jauh lebih sedikit daripada jumlah porsi daging yang dikonsumsi warga Amerika. Pola makan masyarakat China banyak mengandung antioksidan, penangkal penyakit dan nutrisi nabati yang disebut fitokimia; yang memang termasuk makanan sehat.
Inilah mengapa, masyarakat di China terlihat lebih sehat daripada warga Amerika, karena memang mereka mengimbangi pola makan dengan makanan sehat.
Pola diet Yin & Yang ala masyarakat Tionghoa
Bukan sekadar pepatah, Yin & Yang yang melambangkan keseimbangan juga berlaku dalam hukum diet masyarakat Tiongkok. Hal ini sudah terlihat dari pola makan sehari-hari masyarakat China yang terdiri dari empat kelompok; biji-bijian, sayuran, buah, dan daging.
Lantaran intoleransi laktosa, orang China umumnya jarang mengonsumsi produk susu dalam jumlah besar. Sebaliknya, masyarakat China menggantinya dengan susu kedelai dan tahu, yang juga mengandung sejumlah besar protein dan kalsium.
Sayuran, buah-buahan, dan daging yang biasanya dikonsumsi pun kebanyakan masih segar. Selain itu, masakan etnis Tionghoa tidak melibatkan banyak proses menggoreng dengan banyak minyak.
Kendati, bila sebagian besar restoran China di Amerika memiliki hidangan yang digoreng seperti babi asam manis, ayam goreng almond, dan udang goreng, hanyalah alasan untuk mempromosikan bisnis dan menyenangkan selera masyarakat Barat. Ini jelas mencerminkan mengapa ada lebih banyak masalah kelebihan berat badan dan tekanan darah tinggi dalam budaya kuliner Barat daripada kuliner China.
Sedangkan, teori diet Yin&Yang juga dapat dilihat dalam praktik budaya kuliner masyarakat China Utara dan Selatan. Masyarakat yang tinggal di China Utara memiliki cuaca dingin dan lembab, karena itu mereka makan lebih banyak makanan panas dan pedas; seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih.
Mereka percaya makanan ini akan meningkatkan sirkulasi darah dan membantu menghilangkan rasa dingin dan lembab. Umumnya orang dari selatan suka makan makanan yang lebih ringan dan dingin karena iklim yang lebih hangat. Makanan ini mengurangi rasa panas dan kering.
Penulis: Ade Naura Intania
