Digitalisasi Jadi Solusi Kedai Kopi di Masa Transisi

24 Juni 2020 18:44 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi coffee shop Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi coffee shop Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Selayaknya industri hospitality dan F&B lainnya, pandemi turut menghantam bisnis kedai kopi. Semenjak virus corona menyebar, semuanya tak lagi sama. Pembatasan sosial yang harus dilakukan, membuat banyak tempat makan, termasuk coffee shop, harus tutup sementara.
ADVERTISEMENT
Kini, memasuki masa PSBB transisi, mereka telah diperbolehkan untuk buka kembali. Tentunya, dengan menjalankan berbagai protokol kesehatan yang ada. Sanitasi diperketat, jumlah pengunjung pun dibatasi.
Yang jelas, ada satu elemen yang harus hilang, dan dikompromikan; keleluasaan untuk kembali menikmati secangkir kopi tanpa kekhawatiran, atau bercengkrama bersama kawan hingga larut senja.
Pemandangan para barista dan server yang memakai masker sampai face shield juga akan sering kita temui, karena telah menjadi salah satu aturan wajib yang harus ditaati. Coffee shop .TEMU, misalnya. Mereka punya beberapa aturan bagi para pengunjung dan pegawainya selama buka di masa pandemi.
Pengunjung yang tak memakai masker dan suhu tubuhnya di atas 37,5 derajat tak diizinkan untuk masuk. Kapasitas tempat duduk pun dikurangi sebesar 50 persen.
Ilustrasi kedai kopi di tengah pandemi Foto: dok.ShutterStock
Hand sanitizer, cashless payment, dan menyemprot disinfektan secara rutin telah jadi aturan kebersihan baru. Kalau ruangan sudah penuh terisi, pengunjung yang baru datang pun tak boleh mengantre di dalam kafe. Mereka harus menunggu di mobil, atau di luar dengan tetap menerapkan social distancing.
ADVERTISEMENT
"Kalau untuk pembatasan waktu kunjungan, saat ini masih belum ada, karena secara traffic juga masih rendah. Nanti jika semakin ramai, kita akan review kebijakan yang diperlukan. Tapi untuk di cabang M Bloc, secara kawasan menerapkan dine-in 90 menit," ungkap Joseph Erwin, COO .TEMU saat dihubungi kumparan.
Dengan adanya pengurangan kapasitas ini, jumlah kunjungan diperkirakan hanya sebesar 30-50 persen, bila dibandingkan saat normal.
Hal yang sama juga diterapkan oleh Tujuhari Coffee, sebuah coffee shop yang berada di bilangan Jakarta Selatan. Menurut Fauzan, CFO dari Tujuhari Coffee, selain mengurangi kapasitas bangku hingga 50 persen dan melakukan disinfeksi seminggu sekali, para pegawainya juga sudah menjalani rapid test sebelum kafe mulai dibuka kembali.
ADVERTISEMENT
Masker, face shield, dan sarung tangan seakan sudah jadi peralatan tempur. Para pengunjung yang akan masuk ke kafe juga harus mencantumkan nama dan beberapa informasi terkait, untuk menanggulangi terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.
Demi meminimalisir risiko, waktu kunjungan turut dibatasi, hanya selama satu jam saja.
Digitalisasi sebagai solusi
Ilustrasi sistem barcode di kedai kopi Foto: dok.ShutterStock
Barista yang selalu ramah menyapa, sambil menanyai kopi apa yang ingin kita nikmati, adalah kehangatan yang tak pernah luntur dari sebuah coffee shop.
Tapi, pandemi terpaksa membuat interaksi sosial antara pelanggan dan karyawan harus diminimalisir sebisa mungkin. Inovasi digital, solusinya.
Gordi, kedai kopi sekaligus penyedia jasa kopi berlangganan di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, berinovasi dengan penggunaan menu digital. Mereka tengah mengembangkan sistem yang memungkinkan pelanggan melihat menu yang tertera di situsnya, hanya melalui scan barcode.
ADVERTISEMENT
Pembayaran pun hanya bisa dilakukan secara cashless. Pengunjung diminta untuk membayar lewat mesin EDC, atau QR code berbagai pembayaran digital.
Joseph dari .TEMU juga melontarkan hal yang sama. Saat ini, pihak .TEMU sedang mendesain sistem QR code, dan pemesanan melalui WhatsApp, agar interaksi bisa diminimalisir.
Meski interaksi tak bisa dilakukan di tempat, namun engagement dengan para pelanggan tetap bisa dilangsungkan, lewat peran media sosial juga tentunya.
Suasana di Titik Temu M Bloc Foto: Safira Maharani/ kumparan
Tujuhari Coffee, yang tak hanya sebagai kedai kopi tapi juga merangkap coworking space dan venue berbagai acara, mencoba menjaga kedekatan dengan pelanggannya via digital.
Informasi dan pengetahuan yang ingin disampaikan dari suatu event yang belum sempat diadakan, pengunjung bisa melihatnya dalam postingan akun Instagram.
ADVERTISEMENT
"Seperti kita pengin bikin exhibition tentang arsitektur, di online saja, itu kita post di Instagram kita, jadi tetep sampai meskipun beda. Sempat kepikiran bikin virtual event juga," tutur Fauzan, CFO Tujuhari Coffee.
Lantas, seiring dengan meningkatnya tren delivery dan digitalisasi, bagaimana coffee shop bisa mempertahankan identitas yang mereka usung? Karena kembali lagi, kedai kopi bukan hanya menawarkan produk, namun juga suasana, experience, dan jasa bagi para pengunjung.
Guntur Prahara Mukti, Brand Manager dari Gordi menjelaskan, untuk saat ini, mereka fokus ke kebersihan dan kesehatan. Identitas dan experience belum lagi jadi prioritas, sebab saat ini customer masih sangat khawatir dengan kondisi pandemi. Tapi, di sisi lain mereka juga rindu untuk nongkrong bareng lagi.
ADVERTISEMENT
"Jadi, kayak experience ngopi di kedai kopi memang terpaksa tak akan lagi sama persis seperti dulu. Namun, sebagai seorang barista, kita harus tetap menjaga produk apa yang kita sajikan ke pelanggan," tutur laki-laki yang akrab dipanggil Arra tersebut.
Setali tiga uang, Joseph dari .TEMU juga berpendapat sama. Mempertahankan identitas coffee shop belum menjadi prioritas. Yang penting adalah bagaimana mereka bisa survive, dan recovery.
"Dengan konsep .TEMU yang mengusung kolaborasi, mungkin bisa dibilang saat ini kita juga beradaptasi dengan new normal dari kata kolaborasi tersebut," jelas Joseph.
Kendati saat ini belum banyak orang yang siap untuk melakukan dine-in, namun Joseph optimis bahwa ini hanyalah sementara. Untuk saat ini, trend dine-in kembali meningkat, karena orang-orang sudah merasa bosan di rumah.
ADVERTISEMENT
Namun, perlu dilakukan analisa dan pengamatan perilaku dari konsumen dan peraturan pemerintah secara berkala. Apalagi, pandemi ini belum pernah terjadi.
Suatu saat, ketika pandemi berakhir, orang-orang akan merasa aman untuk keluar rumah dan dine-in kembali.
"Di industri seperti coffee shop, kita enggak cuma menjual produk, tapi juga menjual service. Pastinya, bentuk service-nya akan berbeda setelah pandemi ini, ya semua bidang F&B sekarang pakai masker, pakai face shield, untuk membangun kepercayaan customer dengan produk yang akan disajikan," imbuh Arra.
Memang, kita tak bisa lagi menyesap kopi sambil menyelesaikan deadline, menikmati harumnya yang baru diseduh, diiringi riuhnya suara para pengunjung yang bercengkrama.
ADVERTISEMENT
Hingga pandemi berakhir, perasaan bebas untuk menikmati kopi sampai tetes terakhir mungkin masih mustahil.
Tapi yang jelas, langkah kita akan tetap disambut dengan kehangatan kedai kopi, dan aromanya yang menguar, tanpa mengurangi kenikmatan dari secangkir si hitam yang kita sesap.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.