Kumparan Logo

Efek Global Warming, Dunia Akan Mengalami Krisis Cokelat pada 2048

kumparanFOODverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cokelat (Foto:  Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Cokelat (Foto: Pixabay)

Memiliki rasa yang manis dan aroma yang khas membuat cokelat begitu disukai oleh semua kalangan usia. Baik muda atau tua menggemari makanan manis yang satu ini.

Sayangnya, ada kabar sedih yang patut menjadi perhatian. Pasalnya, pasokan cokelat diperkirakan akan menurun drastis pada 30 tahun mendatang. Dilansir Metro, efek global warming yang kini tengah mengancam dunia dianggap sebagai penyebab utamanya.

Tanaman kakao yang hanya bisa tumbuh dalam kondisi tertentu, yaitu pada kelembaban tinggi akan terancam punah karena tidak mampu bertahan dengan kondisi kenaikan suhu yang diprediksi akan berubah dalam beberapa dekade mendatang.

Curah hujan yang tak lagi bisa memberikan suhu kelembaban yang sama akan memaksa para petani cokelat memindahkan lahan pertanian cokelatnya ke daerah pegunungan. Jika hal ini terjadi tentu ekosistem satwa liar juga bisa ikut terganggu.

Cokelat sumber energi (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Cokelat sumber energi (Foto: Pixabay)

Sebenarnya berita mengenai defisit pasokan cokelat telah ramai diberitakan dari beberapa tahun yang lalu. Bahkan, prediksi tahun 2014 menyebutkan jika dunia akan mengalami krisis biji kakao pada 2020 mendatang.

Permintaan yang tinggi akan produksi cokelat menyebabkan banyak perusahaan cokelat tak mampu memenuhi permintaan para konsumen. Perubahan lingkungan yang membuat tanaman kakao sulit tumbuh menjadi faktor pendukung defisit produksi cokelat akan terjadi lebih cepat.

Dan tak sedikit ahli yang berkomentar bahwa 100 ribu ton cokelat akan menurun setiap tahunnya. Tentu hal ini adalah kabar buruk bagi para chocoholics atau penggemar cokelat di dunia.

Cokelat untuk kesehatan otak (Foto: pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Cokelat untuk kesehatan otak (Foto: pixabay)

Salah seorang ahli tanaman dari Hardman Agribusiness, Doug Hawkins mengatakan tanaman kakao tidak seperti tanaman lainnya yang bisa tumbuh dengan pemanfaatan teknologi kultura.

"Tak seperti tanaman lainnya, teknik pengelolaan hasil panen modern untuk mengembangkan potensi genetika tidak bisa diterapkan pada tanaman kakao," katanya pada Mail Online.

"Defisit produksi cokelat sebanyak 100 ribu ton per tahunnya akan jelas terlihat pada beberapa tahun ke depan," pungkas Doug merasa miris dengan fakta tersebut.