Kumparan Logo

Foto: Proses Tradisional Kopi Ulee Kareng, Aceh

kumparanFOODverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengolahan kopi secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
zoom-in-whitePerbesar
Pengolahan kopi secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN

Kedai kopi yang terus menjamur di berbagai daerah membuat pesanan biji kopi meningkat. Secangkir kopi dengan ragam modifikasi bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja.

Berbagai jenis kopi juga bermunculan dari berbagai provinsi di Indonesia. Cara memproses biji kopi pun kini memiliki banyak cara.

Suasana pengolahan kopi secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
Warga saat menyangrai kopi secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN

Saat ini kebanyakan produsen kopi meroasting atau memanggang kopi menggunakan mesin untuk menghemat waktu produksi.

Berbeda dengan produsen kopi robusta di Ulee Kareng, Aceh. Warga di desa tersebut masih setia menyangrai kopi secara tradisional.

Suasana pengolahan kopi secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN

Setelah dicuci dan dijemur, kopi tersebut disangrai menggunakan metode tradisional. Kopi yang sudah kering dimasukkan ke dalam tong berukuran besar dan disangrai menggunakan kayu bakar.

Selama proses berlangsung mereka terus memutar tong dan mengatur api agar hasilnya merata.

Proses sangrai ini bertujuan untuk mengeluarkan rasa dan kadar kafein yang ada di dalam kopi.

Seorang wanita mengangkat kopi yang sudah disangrai secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
Kopi yang sudah disangrai secara tradisional dipindahkan kewadah untuk didinginkan. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
Proses pendinginan kopi yang sudah disangrai secara tradisional di desa Ulee Kareng, Aceh. Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN