Gorangin, Alternatif Gorengan Tanpa Minyak Bisa Jadi Pilihan Camilan Baru
·waktu baca 4 menit

Gorengan sudah menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Indonesia. Makanan apa saja, bila digoreng rasanya akan nikmat. Tapi sayangnya, kebanyakan makan gorengan juga tidak baik untuk kesehatan. Namun, kamu tak perlu khawatir karena zaman sekarang ada banyak cara untuk menikmati gorengan yang lebih sehat tapi tetap nikmat.
Salah satunya, inovasi Gorangin, yakni kudapan gorengan alternatif yang diolah tanpa menggunakan minyak. Salah satu mitra Gorangin, Nur Patria mengatakan, “Dengan kehadiran camilan baru ini, diharapkan masyarakat sadar bahwa ternyata ada alternatif gorengan yang tetap lezat, meskipun rendah minyak. Sesuatu yang bisa menjadi bagian dari hidup mereka."
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa kehadiran Gorangin bukan untuk mengubah budaya makan gorengan masyarakat Indonesia, melainkan untuk memperkaya pilihan yang ada. Jadi, gorengan tetap menjadi bagian dari identitas kuliner nasional, dan gorengan rendah minyak ini hadir sebagai bentuk adaptasi—mengenalkan teknologi baru dalam memasak sambil tetap menghormati selera lama.
“Gorengan yang direndam minyak panas sudah punya tempat tersendiri di budaya kita, sedangkan camilan yang kami hadirkan merupakan upaya menghadirkan budaya baru tanpa mengganggu budaya lama. Harapannya ada pergeseran pola konsumsi masyarakat,” tambahnya.
Menjadi pembeda dari camilan ini dibandingkan gorengan tradisional, adalah metode memasak yang memang menggunakan air fryer. Seperti kita ketahui, alat masak ini mampu membuat gorengan tetap renyah dan kering meski tanpa minyak.
Kendati demikian, teksturnya yang benar-benar kering rupanya menjadi tantangan terbesar, Nur dalam mengedukasi mengenai makanan satu ini. “Tekstur yang kering ini membuat sebagian besar konsumen merasa aneh, karena belum terbiasa dengan gorengan jenis ini. Inilah yang menjadi tantangan kami untuk terus mengedukasi konsumen, bahwa meski teksturnya kering, tetapi dari segi rasa tetap enak dan bisa dijadikan pilihan camilan baru, karena tanpa minyak,” ungkapnya.
Apalagi, Gorangin ini juga mengutamakan penggunaan bumbu alami. Camilan ini juga diungkapkan Nur tanpa MSG, pewarna sintetik, pengawet, garam, dan gula yang dibatasi penggunaannya.
Nur Patria juga mengatakan bahwa proses memasak camilan tanpa minyak ini menggunakan suhu dan waktu yang sudah diperhitungkan.
“Untuk menggoreng empat camilan butuh waktu sekitar 10–25 menit dengan suhu sekitar 200–230 derajat celsius. Paling lama proses memasaknya keripik tempe, bisa sampai 30 menit, sementara ubi, risol dan molen, sekitar 10–20 menit,” jelasnya.
Meski demikian, proses memasak ini bukan tanpa tantangan. Untuk mendapatkan tekstur, rasa dan kematangan yang pas membutuhkan waktu serta inovasi terus-menerus.
“Tantangan dari gorengan tanpa minyak ini memang di proses memasaknya untuk mendapatkan tingkat kematangan yang pas,” ujar Nur Patria.
Empat Varian Camilan: Molen, Risol, Keripik Tempe dan Ubi
Sebelum meluncurkan produk ke pasar, tim Gorangin melakukan riset dan uji coba terhadap berbagai jenis gorengan tradisional. Salah satu tantangan utama adalah proses memasak menggunakan air fryer yang menghasilkan tekstur berbeda dari metode menggoreng biasa.
Akhirnya, dipilihlah empat varian awal yang mampu bertahan dalam uji cita rasa dan tekstur: molen (molennyaman), risol dengan isian wortel dan kentang (risol sama sisi), keripik tempe (tempetizer), dan bola ubi (ubi-ubi manja).
Khusus untuk produk berbahan tempe, tim Gorangin mengaku menghadapi tantangan unik saat memilih beberapa camilan berbasis tempe untuk dijadikan produknya.
Mendoan misalnya, salah satu gorengan tempe paling popular ini, kata anggota tim Gorangin lainnya, ternyata tidak cocok diproses dengan air fryer karena perubahan rasa yang drastis. Oleh karena itu, dipilihlah varian keripik tempe (tempe chips) —yang diiris tipis dan dibumbui dengan rempah-rempah khas untuk mempertahankan rasa gurih yang disukai masyarakat.
Sebagai testimoni, food influencer yang sudah mencoba Gorangin yakni Cherlie Andriani menilai bahwa secara keseluruhan Gorangin berhasil menghadirkan sensasi makan gorengan tanpa rasa bersalah.
“Solusi banget buat yang suka gorengan tapi enggak mau merasa terlalu bersalah,” kata Cherlie.
Misalnya, menurut Cherlie, pada varian tempetizer tidak ada bedanya dengan tempe chips pada umumnya, rasanya tetap renyah. Begitu juga dengan molennya. Meski agak beda dari molen yang digoreng dengan minyak, teksturnya, kata Cherlie, tetap renyah dan lembut. “Kalau blind test, mungkin nggak akan terlalu ketahuan bedanya,” imbuhnya.
“Gorengan kan makanan favorit masyarakat Indonesia, tapi kita juga tahu dampaknya buat kesehatan. Inovasi kayak Gorangin ini penting banget dan sangat bagus untuk mengajak masyarakat hidup lebih sehat dengan cara yang tetap nikmat,” ujar Cherlie.
Ia berharap hadirnya gorengan tanpa minyak ini bisa menjadi gaya hidup baru yang ke depannya bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi pilihan utama bagi yang ingin camilan lebih sehat.
