Kumparan Logo

Ie Bu Peudah, Kuliner Ramadhan yang Terbuat dari 44 Jenis Rempah

kumparanFOODverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Setiap daerah tentu memiliki tradisi Ramadhan yang berbeda-beda, baik dari segi tradisi ibadah hingga penyajian hidangan. Termasuk di Aceh yang juga mempunyai tradisi Ramadhan yang hanya ditemukan saat bulan penuh berkah itu tiba.

Tepatnya pada sore itu, sekelompok pemuda dari arah belakang mushalla desa Bueng Bak Jok, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, terlihat sibuk menjaga api di bawah belanga besar. Dua di antaranya mengaduk 44 jenis rempah-rempah yang ada di dalamnya menggunakan sebilah rotan.

Dua pemuda itu mengaduk secara bergantian, asap mengepul mengeluarkan semerbak wewangian khas. Sekolompok anak-anak dan pria dewasa mengelilingi mereka seraya membawa mangkuk untuk mengambil masakan ie bu peudah.

Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Menu ini merupakan makanan khas tradisional Aceh yang hanya ada saat bulan Ramadhan, serta telah menjadi tradisi turun-temurun sejak zaman dahulu. Ie Bu Peudah juga disebut sebagai perekat silaturahmi sesama masyarakat.

Ie bu peudah adalah masakan sejenis bubur yang dimasak dari 44 jenis rempah-rempah, yang diambil dari hutan seperti daun peugaga, capa, oen tahe, daun muling dan lainnya. Jauh hari menjelang Ramadhan, bahan-bahan ini memang telah dipersiapkan oleh masyarakat yang bekerja secara bergotong royong.

Untuk memasak ie bu peudah membutuhkan waktu yang lama, yakni dimulai dari sejak siang atau usai salat zuhur dan akan selesai saat bakda ashar. Masakan ini dimasak dengan campuran lada, kunyit, lengkuas, dan bawang putih. Adonan rempah itu kemudian dicampur dengan beras dan kelapa yang telah diparut.

Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Rempah-rempah yang digunakan sebagai bumbu itu terasa sedikit pedas. Karenanya, makanan ini disebut ie bu peudah atau yang berarti air nasi pedas dengan warna sedikit kecokelatan. Warga meyakini bahwa selain untuk menambahkan gizi, makanan ini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit seperti gatal-gatal pada kulit.

“Tradisi ini sudah lama, cuma hanya ada di bulan Ramadhan. Biasanya, kita gunakan 44 dedaunan dalam campurannya. Makanan ini punya khasiat, bisa menghangatkan tubuh karena dari rempah-rempah,” kata kepala Desa Bueng Bak Jok, Hafidh Maksum, saat ditemui kumparan.

Masakan ie bu peudah, kata Hafidh, kemudian dibagikan ke seluruh warga desa yang berjumlah sekitar 270 kepala keluarga. Di desanya, masakan ini telah menjadi tradisi setiap tahunnya.

Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ie Bu Peudah (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Dilakukan secara bergotong royong, perempuan mendapatkan bagian untuk menyiapkan bahan, sementara laki-laki bertugas sebagai koki atau juru masak.

“Yang memasak khusus pria, dan dilakukan di Masjid. Kalau wanita hanya menyiapkan bumbunya saja,” ucap Hafidh.

Ie bu peudah dibagikan ke masyarakat usai salat ashar atau sekitar pukul 17.00 sore menjelang berbuka. Warga tampak berbondong-bondong datang ke masjid untuk mengambil bagian mereka.