Kumparan Logo

Jangan Salah Kaprah, Ini 4 Mitos Seputar Teh

kumparanFOODverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi macam-macam teh Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi macam-macam teh Foto: Shutter Stock

Tiap orang punya alasannya sendiri untuk minum teh, entah mencari manfaat kesehatannya, menjadikannya alternatif dari kopi, atau karena cita rasanya. Apapun tujuannya, kita tentu ingin menyeduhnya dengan benar untuk mendapat kenikmatan maksimal.

Namun sayangnya, banyak informasi tentang teh —cara menyeduh, atau sekadar informasi dasar— yang tak sepenuhnya benar. Tak jarang, saran-saran ini membuat cita rasa secangkir teh yang kita buat jadi tak enak, atau bahkan kehilangan manfaat kesehatannya.

Apa saja sih, mitos-mitos yang sering muncul tentang teh, dan bagaimana fakta sebenarnya? Simak ulasannya berikut ini, yuk!

1. Teh hitam punya kadar kafein lebih tinggi dari teh hijau

Black tea. Foto: Pixabay

Semua jenis teh mengandung kafein, namun tiap jenisnya punya kadar berbeda. Banyak orang menganggap, makin gelap tehnya, makin tinggi pula kadar kafeinnya. Padahal, kandungan kafein pada teh tak ditentukan oleh warnanya.

Teh hijau, misalnya, justru menjadi jenis teh yang punya kandungan kafein paling banyak. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Analytical Toxicology mengukur kadar kafein pada 20 produk teh di pasaran, dan menemukan tak ada hubungan antara tipe penyajian teh (teh hijau, hitam, dan lain-lain) dengan tingkat kafein.

Perbedaan kadar kafein dipengaruhi oleh beberapa faktor; seperti tempat tumbuh teh, ukuran daun, serta proses pengolahannya. Selain itu, semakin lama teh diseduh, akan semakin banyak pula kafein di dalamnya. Seduhlah teh sekitar lima menit untuk meningkatkan kadar kafein hingga dua kali lipat.

2. Air mendidih akan merusak rasa halus dari teh

Ilustrasi Teh Foto: Shutterstock/Zadorozhnyi Viktor

Metode penyeduhan teh tradisional ala Barat, menyarankan kita untuk menyeduh teh hitam dengan air yang hampir mendidih. Sedangkan, teh hijau atau putih sebaiknya diseduh dengan air yang lebih dingin. Dengan suhu sekitar 71 - 79 derajat celsius agar tak merusak rasanya yang halus, dan mencegah perubahan antioksidan menjadi neurotoksin berbahaya.

Hal ini sedikit banyak benar, karena jenis teh gelap dan pekat membutuhkan air panas untuk mengekstraksi rasanya dengan dosis tanin yang tepat. Sementara, teh hijau akan terasa lebih manis bila diseduh dengan air yang lebih dingin.

Kuncinya, semakin panas air yang kita gunakan, teh akan semakin gelap dan pahit. Semakin dingin airnya, cita rasa teh akan jadi lebih manis dan halus.

3. Teh hitam harus diseduh lebih lama

Menuang air seduhan teh ke gelas kecil Foto: dok. Nurvita Indarini/ kumparan

Banyak orang percaya, waktu seduh teh hitam harus lebih lama ketimbang varian teh lainnya. Padahal, hal ini tak bisa diterapkan secara general.

Dilansir Serious Eats, tiap ukuran teh membutuhkan waktu seduh yang berbeda. Misalnya saja, teh kantong hanya memerlukan waktu seduh selama satu atau dua menit, sedangkan 1000 gram daun teh English Breakfast butuh waktu yang lebih lama.

Tipsnya adalah, selalu coba teh saat sedang menyeduhnya. Menyeduh teh sama halnya seperti memasak, dengan mencicipinya, kita bisa memaksimalkan cita rasa dari teh.

4. Teh organik punya kualitas lebih tinggi

Ilustrasi teh herbal Foto: Shutterstock

Apapun yang berlabel organik selalu dianggap punya kualitas lebih tinggi, begitu juga teh. Namun, pada praktiknya, tak semua yang diberi embel-embel organik benar ditanam dan dirawat dengan metode tersebut.

Cita rasanya juga belum tentu lebih enak dibanding teh yang ditanam secara konvensional. Bahkan, banyak teh organik yang terasa lebih buruk dibanding teh biasa. Maka itu, jangan terpatok dengan label organik pada teh, dan masih banyak hal lain yang harus dipertimbangkan untuk memilih kualitas teh terbaik.

embed from external kumparan