kumparan
15 September 2019 17:25

Kam's Roast, Sensasi Makan Tengah dengan Pork BBQ Nan Lumer

Makan Tengah di Kam's Roast.
Makan Tengah di Kam's Roast. Foto: Toshiko/kumparan
Siang itu (10/9), kumparan menghadiri grand opening Kam’s Roast di Plaza Indonesia. Restoran yang berasal dari Macau, Hong Kong ini sudah lima tahun menyabet satu bintang dari Michelin Guide.
ADVERTISEMENT
Uniknya, kami disambut dengan sangat hangat dan dipersiapkan untuk makan tengah bersama jurnalis dan food writer lainnya. Sebenarnya, makan tengah memang bikin canggung; terutama untuk yang belum pernah bertemu sebelumnya.
Tersaji beberapa makanan andalan Kam's Roast, seperti Kam’s Roast Duck, suckling pig, toro char siu, dan beberapa menu pendamping lainnya. Untuk diketahui, Kam Roast’s terkenal dengan olahan daging babi bakar khas Hong Kong.
Butuh proses yang cukup panjang bagi hidangan ini untuk sampai ke meja makan. Sebelum dipanggang, daging babi perlu diolah tiga sampai empat jam, hanya untuk dibersihkan, dimarinasi, dan dikeringkan. Tak heran kalau Kam’s Roast benar-benar mengunggulkan hidangan babi mereka.
Pork belly di Kam's Roast.
Pork belly di Kam's Roast. Foto: Toshiko/kumparan
Tentu makanan yang kami incar pertama adalah toro char siu khas Kam’s Roast. Hidangan ini terbuat dari perut babi dengan keseimbangan lemak dan daging yang begitu tepat. Potongannya tebal. Sejujurnya saya kurang suka lemak babi, namun Kam’s Roast membuat lemak babinya tidak bandel. Mudah digigit dan lumer di mulut.
ADVERTISEMENT
Toro Char Siu.
Toro Char Siu. Foto: Toshiko/kumparan
Soal rasanya, aroma kulit hangus dari daging yang dimarinasi. bikin hidangan ini stand out. Makan begini saja dengan nasi hainan sudah cukup. Bagi yang benar-benar tidak bisa mentolerir lemak babi, mereka juga menyediakan yang daging saja
Kemudian kami pun mencoba suckling pig, signature dish lainnya dari Kam’s Roast. Bagi kamu yang suka tekstur daging kenyal, suckling pig bisa jadi pilihan. Pasalnya, suckling pig ini menggunakan daging babi yang menyusui sehingga ada kandungan kolagen di dalamnya. Sementara itu, kulitnya sangat garing. Sedap!
Selesai makan, kami berbincang dengan Handy Kim, Director dari Kam’s Roast, sembari menikmati red bean soup. Rupanya, Kim adalah generasi ketiga yang melanjutkan bisnis restoran yang juga sudah buka di Singapura ini.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, Kam's Roast merupakan sebuah warisan keluarga yang dimulai dari mendiang kakeknya, Kam Shui Fai, dan sang ayah, Kam Kinsen Kwan Sing. Kuliner keluarga ini sudah dimulai pad 1942. Saat itu berupa restoran Yung Kee di Wellington Street di Hong Kong.
“Fokus kami adalah memberikan makanan terbaik dengan kehangatan khas keluarga kami,” jelasnya
Aneka daging di Kam's Roast.
Aneka daging di Kam's Roast. Foto: Toshiko/kumparan
Kejujuran, kualitas, serta pelayanan terbaik jadi kunci Kam’s Roast tetap bertahan dengan satu bintang Michelin Guide dari tahun ke tahun.
Kehangatan keluarga khas Macau dalam konsep makan tengah juga ini juga jadi kunci. Tak heran, kami, beberapa jurnalis, dan food writer jadi akrab.
Kam's Roast.
Kam's Roast. Foto: Toshiko/kumparan
Meja yang agak luas, bikin kami saling berkomunikasi. Dimulai dari minta tolong diambilkan makanan hingga sama-sama berbincang soal rasa makanan yang baru saja kami cicipi.
ADVERTISEMENT
Sungguh sebuah pengalaman makan enak yang tak terlupakan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan