Kata Ahli Ini Jenis Spatula yang Paling Memicu Gangguan Kesehatan
·waktu baca 3 menit

Spatula atau yang sering disebut sodet merupakan alat wajib di dapur yang berfungsi untuk mengaduk hingga membalikkan makanan di wajan. Alat masak ini tersedia dalam berbagai bahan, mulai dari plastik, logam, kayu, hingga silikon.
Beragam pilihan bahan ini membuat kita lebih leluasa dalam memilih spatula, tapi ternyata tidak bisa asal. Menurut ahli biomedik Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Benedikta Diah Saraswati, bahan spatula perlu diperhatikan, terutama karena alat ini sering bersentuhan langsung dengan suhu panas. Soalnya, pemilihan bahan yang salah bisa membahayakan kesehatan.
Dilansir laman resmi IPB, Diah mengungkapkan bahwa salah satu bahan spatula yang paling berisiko adalah plastik. Hal ini dikarenakan saat terkena panas tinggi, spatula plastik dapat meleleh atau rusak, lalu berpotensi mencemari makanan.
“Ikatan kimia di dalam polimer bisa terurai dan melepaskan senyawa berbahaya ke makanan,” ungkap Diah, dikutip dari laman IPB.
Senyawa berbahaya yang mungkin terpapar ke makanan, antara lain, Bisphenol A (BPA), ftalat, formaldehida, dan amina aromatik yang bisa mengganggu regulasi hormon tubuh. “Paparan jangka panjang dapat memicu gangguan kesuburan, resistensi insulin, masalah perkembangan janin, hingga risiko kanker,” tambah Diah.
Ia juga menjelaskan, ketika spatula plastik meleleh, struktur kimianya atau ikatan polimernya bisa rusak dan melepaskan zat-zat kecil seperti styrene, ethylene, dan propylene. Senyawa ini bersifat neurotoksik (berisiko merusak saraf) dan hepatotoksik (berisiko merusak hati), bahkan berpotensi karsinogenik (zat yang dapat menyebabkan atau meningkatkan risiko kanker).
Tak berhenti di situ, gesekan dan panas dari proses memasak juga bisa melepaskan partikel mikroplastik dari spatula plastik. Partikel ini dapat mencemari makanan, lalu tertelan dan masuk ke aliran darah hingga mengendap di jaringan tubuh.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa memicu stres oksidatif dan peradangan kronik yang mengganggu sel dan sistem imun tubuh.
Alternatif Bahan Spatula yang Lebih Aman
Diah pun menyarankan untuk memilih bahan spatula yang lebih aman digunakan dalam jangka panjang. Salah satunya adalah spatula berbahan silikon food-grade karena lebih tahan panas dan tidak mudah rusak.
“Silikon tersusun dari rantai silika yang stabil secara kimia, tahan panas hingga sekitar 250 derajat celsius, dan tidak mengandung BPA, ftalat, maupun PVC. Karena sifatnya inert, silikon tidak mudah bereaksi dengan minyak atau asam makanan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebaiknya pilih silikon jenis platinum-cured silicone atau silikon murni karena lebih terjamin ketahanannya terhadap panas. Selain silikon, spatula berbahan kayu dan bambu alami juga bisa menjadi pilihan karena memiliki sifat antimikroba yang membantu mencegah pertumbuhan bakteri.
Tips Memilih dan Menggunakan Spatula
Selain bahan, cara penggunaan spatula juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan memasak. Diah menyarankan untuk memakai spatula silikon food-grade pada wajan antilengket, spatula kayu untuk masakan bersuhu sedang, dan spatula stainless steel untuk masakan bersuhu tinggi. Namun, spatula stainless sebaiknya tidak digunakan di wajan antilengket karena bisa merusak lapisan wajannya.
Ia juga mengingatkan agar memilih spatula yang memiliki label “BPA-free,” “Phthalate-free,” dan “Platinum-cured silicone” agar lebih aman. Saat membeli spatula silikon, sebaiknya juga perhatikan lebih dalam agar tidak memilih bahan yang mengandung campuran plastik.
Nah, ternyata ada cara sederhana untuk mengetahuinya. “Tekuk spatula silikon. Jika muncul warna putih atau retak, berarti ada campuran plastik. Silikon murni tidak berubah warna,” pungkas Diah.
Reporter Salsha Okta Fairuz
