Kedai Pizza 1 Dolar di New York Terpaksa Menaikkan Harga karena Inflasi
·waktu baca 3 menit

New York memang telah dikenal karena beragam kedai pizza potongnya. Seperti di antaranya adalah beberapa kedai ikonik yang hanya menjual pizza dengan harga 1 dolar AS atau setara dengan Rp 14 ribu.
Pizzeria murah ini telah meramaikan kota selama beberapa dekade. Mereka menawarkan pizza potong dengan topping polos, dengan harga yang begitu rendah. Bahkan kedai itu telah berdiri di sebelah toko pizza yang menawarkan harga tiga kali lipat atau lebih. Hal ini mungkin membuat beberapa pelanggan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa menjaga harga murah itu.
Tapi sayangnya, karena inflasi yang dipicu oleh pandemi mereka dikabarkan tidak dapat mempertahankan lagi harga yang terbilang cukup rendah itu. Mengutip NY Post, di New York itu terdapat banyak tempat pizza seharga 1 dolar yang terkenal. Namun, kini mereka tidak bisa lagi menggunakan biaya satu dolar per potong.
Seperti yang terjadi pada kedai 2 Bros. Mereka mengiklankan irisan pizza seharga 1,50 dolar AS atau setara dengan Rp 22 ribu pada papan menu yang diletakkan di trotoar. Papan iklan itu berada tepat di bawah tenda merah 1 dolar mereka.
"Inflasi memengaruhi setiap bahan, setiap barang yang kami gunakan. Tepung, keju, tomat, sarung tangan, barang-barang kertas, piring kertas, serbet. Semuanya. Tenaga kerja juga pasti habis," ujar Oren Halali, salah satu pendiri 2 Bros.
Sejalan dengan hal itu, Lenny Giordano pemilik Mona Lisa Pizzeria di Staten Island, juga menjelaskan penyebab kenaikan harga tersebut. Membandingkan harga pada Oktober tahun lalu hingga Oktober tahun ini, ia mengatakan bahwa bahan-bahan untuk membuat pizza mengalami lonjakan harga.
Seperti halnya, keju yang mengalami kenaikan hingga 10 persen, tepung yang naik hingga 50 persen, pepperoni naik hingga 67 persen, tomat naik hingga 76 persen, serta bawang putih yang juga ikut naik hingga 400 persen.
Sementara itu, disusul juga harga kotak pizza dan piring aluminium yang naik hampir dua kali lipat. Pada tahun lalu, sepotong pizza polos di Mona Lisa dijual dengan harga 2,25 dolar AS atau setara dengan Rp 32 ribu. Kini mereka telah menaikkan harga hingga 22 persen, menjadi 2,75 dolar AS atau setara dengan Rp 39 ribu. Sedangkan harga kue keju juga ikut naik menjadi 20 persen, dari 15 dolar AS atau setara dengan Rp 215 ribu menjadi 18 dolar AS atau setara dengan Rp 258 ribu.
"Margin keuntungan kami turun setiap hari, kami berusaha untuk tidak menakut-nakuti orang dengan harga yang lebih tinggi. Jika kami menaikkan harga sesuai dengan kenaikan biaya makanan, maka kami tidak akan memiliki pelanggan," ujar Giordano.
Pada survei yang dilakukan oleh Dewan Industri Pizza Asosiasi Restoran Nasional menemukan, bahwa sebanyak 97 persen dari restoran casual mengalami kekurangan makanan dan minuman atau keterlambatan pengiriman dalam beberapa bulan terakhir; 81 persen terpaksa mengubah penawaran menu; 88 persen melaporkan margin keuntungan di bawah tingkat pra-pandemi.
“Penundaan dan kekurangan rantai pasokan memiliki dampak luar biasa pada restoran dan menaikkan biaya segala sesuatu mulai dari tepung dan daging sapi hingga produk kertas,” ujar juru bicara dewan Vanessa Sink.
Sementara itu, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengatakan restoran juga harus menghadapi kenaikan dramatis dalam biaya energi. Diketahui gas yang digunakan untuk menyalakan oven pizza mengalami kenaikan hingga 20,6 persen selama setahun terakhir.
Reporter: Destihara Suci Milenia
