kumparan
17 Maret 2019 13:35

Kenal Lebih Dekat 3 Kuliner Langka di Festival Jajanan Bango 2019

Tiga makanan langka di Festival Jajanan Bango 2019. Foto: Dok. Istimewa
Acara kuliner tahunan bertajuk Festival Jajanan Bango (FJB) kembali digelar pada 16-17 Maret 2019. Berlokasi di lapangan Parkir Squash, Gelora Bung Karno, tahun ini FJB mengusung tema ‘Kelezatan Asli, Lintas Generasi’ yang menghadirkan puluhan penjaja kuliner tradisional autentik dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
Mengusung tema kuliner Indonesia dari generasi ke generasi, pengunjung bisa menjumpai lebih dari 80 penjaja kuliner tradisional dari berbagai daerah. Bahkan, kali ini FJB juga menghadirkan tiga makanan yang mulai langka dan sulit dijumpai saat ini.
“Sesuai dengan tema, di antara lebih dari 80 penjaja, kami mendedikasikan area khusus bagi 10 penjaja kuliner lintas generasi yang telah membuktikan tekadnya meregenerasi pelestarian kuliner Indonesia. Yang sangat istimewa, Bango juga menghadirkan tiga kuliner langka di tengah FJB 2019. Di antaranya Bubur Ase Bu Neh, Sate Kuah Pak Haji Diding, dan Cungkring Pak Jumat,” ujar Food Director PT Unilever Indonesia Tbk, Hernie Raharja, saat pembukaan Festival Jajanan Bango yang kumparan hadiri (16/3).
Tiga makanan langka di Festival Jajanan Bango 2019. Foto: Dok. Istimewa
Menurut Hernie Raharja, sekarang tiga kuliner ini sudah sangat sulit untuk dicari keberadaannya. Padahal, penjaja kuliner langka memiliki peran besar untuk menjaga kuliner asli Indonesia dari ambang kepunahan.
ADVERTISEMENT
Nah, apa kamu tertarik untuk mencicipi kuliner langka di FJB 2019? Yuk, kenal lebih dekat dengan tiga kuliner langka ini.
Bubur Ase Bu Neh
Bubur Ase Bu Neh. Foto: Dok. Istimewa
Mendengar nama bubur ase, pasti langsung ter-ngiang salah satu makanan khas Betawi. Tapi, akhir-akhir ini penjual bubur ase makin sulit saja ditemukan di ibu kota, apalagi di tengah gempuran makanan kekinian yang tak henti.
Nah, salah satu penjaja bubur ase yang masih bertahan adalah Bubur Ase Bu Neh yang biasa berjualan di kawasan Kebon Kacang 3, Jakarta Pusat. Kini dikelola oleh anak Bu Neh, Muhammad Nasrullah, Bubur Ase Bu Neh telah ada sejak tahun 1968.
Bubur Ase sendiri merupakan hidangan khas Betawi yang terdiri dari; bubur putih, semur tahu, asinan sawi, taoge segar, kacang, sambal, dan taburan kerupuk merah mencolok. Perpaduan ini membuat cita rasa bubur ase terbilang unik, yakni campuran manis, gurih, pedas, dan sedikit asam.
ADVERTISEMENT
Menurut Nasrullah, karena rasanya yang lebih segar, bubur ase juga cocok disajikan dalam berbagai kesempatan, baik untuk sarapan, menu santap siang, maupun makan malam. Sayangnya, karena keterbatasan modal, untuk sehari-hari Nasrullah mengaku hanya membuat bubur ase saat ada permintaan. Tertarik mencicipinya? Di FJB 2019, Bubur Ase Bu Neh bisa kamu jumpai di distrik B.
Sate Kuah Pak H. Diding
Sate Kuah Pak H Diding. Foto: Dok. Istimewa
Selain bubur ase, sate kuah bisa dibilang sebagai salah satu makanan langka dari Betawi. Bahkan, mungkin tak semua orang yang tinggal di ibu kota tahu mengenai keberadaan makanan unik ini.
Sesuai namanya, keunikan sate racikan Sate Kuah Pak H. Diding terletak pada penyajiannya yang dilengkapi kuah. Telah ada sejak 1960, Sate Kuah Pak H. Diding bahkan pernah mendapat penghargaan di ajang kuliner World Street Contest yang diadakan di Singapura.
ADVERTISEMENT
Sekilas, tampilan sate kuah terlihat mirip dengan soto tangkar pada umumnya. Kombinasi potongan daging sapi, lemak, tomat, dan taburan daun bawang yang disiram kuah santan gurih membuat tampilannya terlihat kaya rasa.
Benar saja, saat kami cicipi, rasa manis, gurih, dan sedikit berlemak langsung terasa di lidah. Menariknya, tambahan sate sapi menghasilkan aroma sangit khas yang justru membuat sate kuah terasa semakin lezat. Bila penasaran dengan rasanya, sate kuah juga bisa kamu temukan di distrik B tepat di sebelah stand bubur ase.
Cungkring Pak Jumat
Cungkring Pak Jumat. Foto: Dok. Istimewa
Bogor memang terkenal dengan kulinernya yang beragam, salah satunya cungkring. Berasal dari kata 'cingur' atau hidung sapi dan garing, cungkring bisa dibilang sebagai salah satu street food legendaris yang telah ada sejak 1975.
ADVERTISEMENT
Cungkring sendiri terbuat dari irisan cingur atau kikil kaki sapi, peyek tempe, dan lontong yang disiram saus kacang kental. Agar rasanya lebih lezat, cingur atau kaki sapi akan direbus terlebih dahulu selama 7 jam agar empuk dan tidak amis.
Setelah itu, cingur dibumbui dengan racikan bumbu spesial yang terbuat dari kunyit dan bawang putih. Perpaduan rasa kenyal dari cacahan cingur atau kaki sapi, garingnya peyek tempe, dan saus kacang gurih memang menjadi daya tariknya.
Kini, satu-satunya penjual cungkring yang ada di Bogor adalah Cungkring Pak Jumat yang dijual secara pikulan. Meski berjualan di tempat sederhana, usaha yang kini telah diwariskan ke generasi kedua ini punya banyak pelanggan setia, lho. Ingin mencicipinya? Cungkring Pak Jumat bisa kamu jumpai di stand paling depan yang ada di distrik B.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan