Kenapa Ada Orang yang Gak Tahan Pedas Seperti Jennie Blackpink?
·waktu baca 3 menit

Video Jennie Blackpink saat tampil di acara Hot Ones dari kanal YouTube First We Feast baru-baru ini mencuri perhatian. Dalam acara tersebut, Jennie terlihat menjawab pertanyaan dari pembawa acara Sean Evans sambil menyantap sayap ayam dengan saus pedas yang tingkatannya terus meningkat.
Hot Ones memang dikenal sebagai acara yang unik. Di tengah sesi wawancara, para bintang tamu diajak mencicipi sayap ayam dengan saus pedas dari level sedang hingga ekstrem. Bukan hanya menguji ketahanan lidah, tapi juga kemampuan menjawab pertanyaan di tengah rasa panas yang menyerang.
Menariknya, Jennie mengaku bukan penggemar makanan pedas. "Aku enggak suka makanan pedas atau apa pun yang berhubungan dengan pedas. Kalau bisa, aku lebih suka makanan yang hambar. Tapi lihat sekarang, aku di sini, tanpa rasa takut," ujar Jennie dalam video tersebut.
Ya, sebetulnya bukan hanya Jennie, banyak orang yang juga tidak suka makan makanan pedas. Bagi sebagian orang, makan cabai memang bisa terasa menyiksa bahkan seperti mengalami rasa sakit fisik. Namun menurut Chef Bill Phillips, pakar makanan pedas dan profesor di Culinary Institute of America, rasa terbakar saat makan makanan pedas sebenarnya hanyalah persepsi otak.
“Meski rasanya seperti terbakar saat makan makanan pedas, sebenarnya itu hanya persepsi,” ujarnya seperti dikutip dari Thrillist, Senin (23/6).
Chef Bill menjelaskan bahwa capsaicin, senyawa aktif dalam cabai mengaktifkan reseptor rasa sakit di lidah yang biasanya merespons suhu panas. Itulah sebabnya pedas terasa seperti panas, padahal tidak membakar secara nyata.
"Ini lebih ke sensasi panas daripada rasa sakit fisik," tambahnya. Menariknya, ia juga menyebut bahwa spearmint bisa mengaktifkan reseptor yang sama, namun menciptakan sensasi dingin.
Lalu, kenapa ada orang yang lebih tahan pedas dibandingkan yang lain?
Selain soal kebiasaan, faktor genetik juga memainkan peran penting. Dikutip dari The Dish on Science, penelitian terbaru menunjukkan bahwa gen dan kepribadian seseorang jauh lebih berpengaruh terhadap toleransi pedas dibandingkan hanya sekadar jumlah reseptor perasa di lidah.
Secara genetik, beberapa orang terlahir dengan lebih sedikit reseptor capsaicin, sehingga mereka tidak terlalu sensitif terhadap rasa pedas. Sebaliknya, orang yang memiliki lebih banyak indra pengecap bisa merasakan sensasi pedas lebih kuat.
Penelitian terhadap saudara kembar pun dilakukan untuk melihat sejauh mana genetik berperan. Saudara kembar identik, yang memiliki DNA dan lingkungan yang sama, dibandingkan dengan kembar fraternal yang hanya berbagi lingkungan. Mereka diberi jeli stroberi yang dicampur capsaicin. Hasilnya, preferensi terhadap rasa pedas pada saudara kembar identik cenderung lebih mirip. Dari situ disimpulkan bahwa genetik menyumbang 18–58% terhadap toleransi seseorang terhadap pedas.
Selain faktor genetik, pola makan dan paparan capsaicin sejak kecil juga berpengaruh. Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan pedas cenderung memiliki toleransi yang lebih tinggi saat dewasa. Dalam budaya atau keluarga yang menyajikan makanan pedas secara rutin, anak-anak biasanya lebih terbiasa dan tidak terlalu sensitif terhadap sensasi tersebut.
Hal senada diungkap oleh Dr. Paul Terry, profesor epidemiologi dari University of Tennessee Medical Center. Ia menjelaskan bahwa jumlah dan variasi reseptor TRPV1, reseptor yang merespons rasa panas, berbeda-beda pada setiap orang. Seseorang yang memiliki reseptor lebih sedikit atau jenis reseptor yang kurang sensitif mungkin lebih tahan terhadap pedas.
"Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa paparan berkelanjutan, seperti orang yang tumbuh besar dengan makanan pedas, dapat membangun toleransi," kata Terry dikutip dari Today.
Kalau kamu tim pedas atau tidak kuat pedas seperti Jennie nih, Gais?
