Kumparan Logo

Kisah 3 Kartini Masa Kini, Berhasil Bawa Perubahan Sebagai Merchant ShopeeFood

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Owner Takoyaki Pekoo Pekoo, Lulu Ulwiyah; pendiri Pisang Goreng Madu Bu Nanik, Nanik Soelistiowati; dan Co-Founder Bloomery Patisserie, Vania Rahardjo. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Owner Takoyaki Pekoo Pekoo, Lulu Ulwiyah; pendiri Pisang Goreng Madu Bu Nanik, Nanik Soelistiowati; dan Co-Founder Bloomery Patisserie, Vania Rahardjo. Foto: Istimewa

Dulu, perempuan seringkali dianggap hanya cocok mengurus rumah tangga. Namun, seiring berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi, mindset tersebut perlahan bergeser.

Kini, perempuan tak hanya berperan di sektor rumah tangga, tetapi juga memiliki peran penting di masyarakat, bahkan bisa menjadi pemimpin, profesional di berbagai industri, hingga CEO yang sukses memimpin bisnis mereka sendiri.

Seperti tiga sosok Kartini modern ini. Pendiri Pisang Goreng Madu Bu Nanik, Nanik Soelistiowati, Co-Founder Bloomery Patisserie, Vania Rahardjo, dan owner Takoyaki Pekoo Pekoo, Lulu Ulwiyah, membuktikan bahwa ketekunan dan konsistensi dapat membawa mereka ke titik keberhasilan sehingga bisnisnya bisa menjangkau lebih banyak orang. Yuk, langsung simak kisah inspiratifnya di bawah ini!

Bloomery Patisserie: Dari Dapur Keluarga hingga Buka Toko di Berbagai Kota

Vania Rahardjo, Co-Founder Bloomery Patisserie. Foto: Istimewa

Keberaniannya memulai bisnis terlihat dari perjalanan Vania Rahardjo dan ketiga saudaranya dalam membangun Bloomery Patisserie, yang kini telah berkembang menjadi usaha pastry dengan konsumen di berbagai kota di Indonesia.

“Karena banyak waktu luang dan kebetulan kita hobi baking. Pas mama ulang tahun, kita bikin mille crepes buat mama. Ternyata mama suka banget dan malah minta kita untuk tawarin ke teman-teman dan keluarga,” kenang Vania yang dikenal dengan spesialisasi cake dan gifting.

Setelah mendapat respons positif, Vania dan ketiga saudaranya mulai menjual kue secara pre-order. Tak disangka, mille crepe yang dijajakan menarik banyak peminat. Kepopuleran Bloomery Patisserie pun semakin meningkat seiring banyaknya media yang meliput.

Permintaan pun terus meningkat dan mendorong Bloomery Patisserie untuk membuka toko pertama di kawasan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Usaha ini berkembang pesat hingga kini menjangkau Semarang, Solo, Jakarta hingga Surabaya.

Bagi Vania, perjalanan ini menunjukkan bagaimana usaha yang dimulai dari langkah kecil dapat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Kehadiran platform digital seperti ShopeeFood juga turut membantu memperluas jangkauan Bloomery hingga dikenal oleh lebih banyak pelanggan.

Perjalanan Bloomery tidak lepas dari peran orang-orang di baliknya. Selain dukungan keluarga, tim menjadi bagian penting dalam perkembangan usaha ini. Menariknya, sebagian besar tim Bloomery diisi oleh perempuan yang tumbuh bersama dalam lingkungan kerja yang saling mendukung.

“Intinya, siapa pun harus punya growth mindset, terutama perempuan. Kita bisa jadi apa pun yang kita mau,” ucap Vania.

Pisang Goreng Madu Bu Nanik: Dari Penolakan hingga Dikenal Luas

Nanik Soelistiowati, Founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik. Foto: Istimewa

Pisang Goreng Madu Bu Nanik kini menjadi salah satu ikon kuliner Jakarta favorit banyak orang. Bagi Bu Nanik, semangat Kartini adalah tentang ketekunan dan keberanian untuk terus melangkah, menjadi pedomannya ketika menghadapi berbagai keterbatasan. Nilai itulah yang ia pegang dalam membangun usahanya dari nol.

“Saya mengambil semangat Ibu Kartini, yang mendorong saya untuk terus berjuang dan pantang menyerah hingga bisa sampai di titik ini,” tuturnya.

Meski begitu, perjalanan Bu Nanik tidak selalu mulus. Produk yang kini dikenal luas tersebut sempat beberapa kali ditolak karena tampilannya yang dianggap kurang menarik.

Saat awal bisnis berdiri, Bu Nanik pun coba menghadirkan pisang goreng madu sebagai hidangan penutup dari usaha katering yang ia jalankan. Namun, warna gelap yang dihasilkan dari proses karamelisasi madu membuat produk Pisang Goreng Madu Bu Nanik dipandang kurang menarik. Di balik itu, penggunaan madu sendiri terinspirasi dari kondisi sang ibu yang mengidap diabetes, sehingga ia mencari alternatif pemanis yang lebih sesuai.

Penolakan tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia terus mencari cara untuk memperkenalkan produknya, mulai dari promosi sederhana menggunakan fotokopi, berjualan dengan gerobak, hingga mengikuti berbagai bazar UMKM. Jerih payahnya turut membuahkan hasil positif, sehingga produk pisang gorengnya perlahan mulai dikenal dan semakin diminati oleh masyarakat.

Di sisi lain, Bu Nanik juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar dengan aktif berbagi pengalaman dengan sesama pelaku UMKM melalui berbagai kegiatan edukasi. Berangkat dari pengalamannya merintis dari nol, ia ingin semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha mereka sendiri.

Dari Osaka ke Indonesia: Awal Mula Takoyaki Pekoo Pekoo

Lulu Ulwiyah, pemilik Takoyaki Pekoo Pekoo. Foto: Istimewa

Berawal dari pengalamannya melakukan studi di Jepang, Lulu Ulwiyah tak pernah menyangka bahwa ketertarikannya pada takoyaki akan berkembang menjadi bisnis kuliner dengan puluhan cabang.

Saat pulang ke Indonesia, perempuan yang akrab disapa Uli ini kebingungan untuk membawa oleh-oleh khas dari Negeri Sakura. Dari situlah, ia justru memutuskan untuk membawa pulang pan takoyaki dari Jepang dan mulai mencoba membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di Indonesia.

Siapa sangka, takoyaki buatannya justru menjadi favorit. Uli memutuskan untuk menjual takoyaki dengan nama Pekoo Pekoo yang artinya “lapar” dalam bahasa Jepang.

Seiring meningkatnya permintaan, Uli memutuskan untuk bergabung dengan ShopeeFood. Pekoo Pekoo pun berkembang pesat hingga kini memiliki sekitar 20 cabang yang tersebar di Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Uli mengakui, ShopeeFood membantunya untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dengan kehadiran berbagai promo menarik, terutama pada tanggal kembar dan tanggal gajian.

“Penjualan tertinggi Pekoo Pekoo dari ShopeeFood. Sebelumnya kami punya 2 cabang, berkat ShopeeFood jadi 20 cabang,” ucapnya bangga.

Karena pertumbuhannya yang sangat pesat, pada 2023 lalu Pekoo Pekoo menjadi nominasi Super ShopeeFood Growing Merchant dan kembali menjadi nominasi sebagai pada kategori Top ShopeeFood Inspiring Merchant pada 2025 dalam ajang penghargaan Shopee Super Awards.

Selain merintis bisnis kuliner, perempuan lulusan Sastra Jepang ini tetap aktif bekerja sebagai penerjemah serta menjalankan peran sebagai seorang ibu.