Kisah Chef MBG yang Nyambi Jadi Ojol, Sehari Masak 3.800 Porsi Makanan
ยทwaktu baca 3 menit

"Saya masak dari jam 12 malam sampai jam 9 pagi, lalu lanjut narik sampai jam 8 malam, jam 9 malam tidur, jadi sehari cuma tidur paling empat jam," ujarnya kepada salah satu tim kumparanFOOD saat tengah menjadi penumpang As'ad, Selasa (28/4).
Muhamad As'ad adalah seorang juru masak yang nyambi menjadi driver ojek online (ojol) usai bekerja di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Cipete Utara. Saat tengah menjadi penumpangnya, saya sempat berbincang dengan As'ad mengenai pengalamannya selama menjadi chef di dapur MBG.
As'ad sendiri sudah sejak lama bekerja sebagai koki. Ia mengatakan bahwa telah bekerja sebagai chef di sebuah restoran di Bali selama sembilan tahun. Kemudian, karena harus mengurus orang tua di Jakarta, dia pun kembali ke kampung halamannya.
"Karena enggak bisa jauh dari orang tua makanya saya pulang ke Jakarta. Di Jakarta saya kerja di Gohan-Ku selama satu setengah tahun, kemudian saya iseng daftar jadi chef MBG, eh ternyata keterima, mungkin karena melihat pengalaman saya juga," kisahnya kepada kumparan.
Saat ditanya tentang pendidikan masaknya, As'ad menuturkan bahwa awalnya dia hanya belajar otodidak mengenai pisau dari membaca sebuah buku tebal. Kemudian, saat bekerja di Bali dia baru mendapat sertifikasi sebagai seorang chef.
"Jadi kalau jadi chef MBG itu enggak bisa sembarangan orang, harus yang bersertifikat chef-nya. Kalau saya otodidak, awalnya belajar tentang pisau, saya beli buku. Sebenarnya saya kuliahnya IT, tapi suka masak. Terus pas di Bali saya dapat sertifikat chef," lanjut As'ad.
Laki-laki yang mengendarai motor Honda PCX ini kemudian mengatakan bahwa ia juga tidak menyangka bisa diterima menjadi juru masak di dapur MBG. Ia pun saat ini bekerja di Dapur SPPG Cipete Utara. Ia bekerja bersama tujuh chef lainnya. Setiap harinya dia juga harus membuat daftar menu makanan yang sesuai dengan rekomendasi ahli gizi.
"Ada delapan chef di dapur saya, sehari bisa masak untuk 3.800 porsi untuk 14 sekolah. Menunya juga ganti setiap hari, harus acc ahli gizi. Setiap dapur ada ahli gizinya yang memantau," tuturnya.
As'ad mengatakan dia harus memikirkan menu makanan lengkap mulai dari protein hewani, nabati, sayuran, buah-buahan, hingga susu untuk pemenuhan kalsium anak-anak.
Ia menjelaskan lebih lanjut, proses memasak MBG biasanya bahan makanan mulai diantarkan oleh supplier jam 10 malam. Ia bersama teman chef lainnya biasa mulai mengolah bahan mulai jam 12 malam.
"Kalau bahan daging atau protein lain biasanya kita minta didatangkan terakhir, jam 11 malam, supaya lebih fresh, enggak bau dan enggak biru," tambahnya.
Kendati demikian, bahan protein menjadi yang pertama diolah karena biasanya lebih awet, menurut As'ad. Ia mencontohkan misalnya ayam goreng, menurutnya bisa awet sehari atau dua hari. Namun berbeda dengan sayuran yang justru menurutnya harus diolah terakhir karena tidak tahan lama atau mudah basi.
"Kebanyakan yang masak itu enggak bisa prediksi waktunya, mereka cuma bisa masak saja, tapi bukan chef bersertifikat sehingga enggak pakai ilmunya. Misalnya kayak sayur taoge itu enggak bisa lama-lama. Kalau di dapur saya biasanya sayuran dimasak terakhir, sekitar jam setengah 4 (pagi). Terus air, itu juga harus diperhatikan. Kalau bak habis dicuci juga enggak bisa langsung dipakai, karena air mentah itu bisa sebabkan keracunan," katanya.
Barulah biasanya setiap makanan yang sudah siap di pagi hari didistribusikan ke sekolah-sekolah. Ia juga mengaku bahwa sekolah-sekolah di Cipete umumnya berstandar baik sehingga sangat memperhatikan asupan harian murid-muridnya.
Meski harus bekerja setiap hari dari tengah malam menjadi chef, kemudian nyambi menjadi driver ojol, bahkan hanya berisitirahat empat jam sehari, As'ad mengaku tetap semangat. Dia pun juga memperhatikan kesehatannya agar tidak mudah terserang sakit.
"Pokoknya supaya enggak sakit saya tiap hari minum vitamin, cuma satu vitamin saya, biar kuat terus," tutupnya.
