Kumparan Logo

Kolaborasi 3 Pegiat untuk Popularkan Kopi Indonesia

kumparanFOODverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perkebunan kopi di Gunung puntang Jawa Barat Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Perkebunan kopi di Gunung puntang Jawa Barat Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Terlihat jelas sudah, bagaimana industri kopi di Nusantara semakin hari kian berkembang. Kedai kopi berjajar di sepanjang jalan, bahkan tak segan untuk bertetangga. Mereka memamerkan bagaimana kualitas dan rasa kopi dari negeri sendiri tak kalah dengan produksi luar negeri.

Memangnya, sudah sejauh mana kepopuleran kopi Indonesia saat ini?

Penasaran dengan hal tersebut, kumparan sempat berbincang soal perkembangan kopi Indonesia bersama para pegiatnya. Ada Rio Dewanto sebagai pemilik kedai Filosofi Kopi, Muhammad Aga yang merupakan finalis World Barista Championship 2018, dan Handoko Hendroyono founder M Bloc sekaligus pencetus event 'Kopi Penyangga Bumi.'

Ketiganya punya fokus yang sama, yakni ingin memperkenalkan kopi Indonesia secara baik. Ini bukan hanya soal rasa tapi juga mengenai kualitas yang selalu dijaga oleh semua pelakunya. Kali ini, mari mengetahui soal keadaan kopi Indonesia lewat perbincangan kami berikut ini:

Rio Dewanto: Lebanon sampai Amerika Serikat

Rio Dewanto. Foto: Munady/kumparan

Nama Rio Dewanto kini bukan hanya dikenal sebagai aktor andal, melainkan juga pengusaha kedai kopi. Filosofi Kopi begitu nama kedainya yang diambil sama dengan judul film yang ia mainkan. Lewat film, Rio jadi dekat dengan industri kopi.

Bahkan ia menanam sendiri pohon kopinya di rumah, menjadikan lingkungannya laboratorium kecil. Suami Atiqah Hasiholan ini juga tak bisa lepas dari secangkir kopi. Kemana pun ia pergi, ada kopi yang menemani langkahnya. Apalagi soal kopi Indonesia, ia termasuk salah satu pegiat yang konsisten mengembangkannya.

"Yang saya rasakan, saya ke Lebanon, ada roaster di sana yang menghadirkan section kopi Sumatera. Terus di Amerika pun saya menemukan kopi Java dan Sumatera itu sudah cukup terkenal. Tapi kalau data statistik dan jumlahnya berapa persen, serta peningkatannya, saya kurang tahu," akunya saat kami temui usai konferensi pers 'Kopi Penyangga Bumi' di M Bloc Jakarta, Senin (20/1).

Kehadiran Dua Coffee di Washington DC dianggap Rio sebagai breakthrough, membuka peluang kopi Indonesia untuk bisa lebih dikenal di kancah internasional.

Laki-laki kelahiran 28 Agustus 1987 ini juga menunjukkan dukungannya, dengan terus melakukan perkembangan baik di dunia bisnis hingga produksi kopi Tanah Air. Salah satu yang membuatnya senang terjun dalam dunia ini, karena ia tak perlu saling sikut-sikutan.

"Yang saya suka di industri kopi ini, bahwa semua saling support meskipun kita sesama pelaku bisnis, dan pemilik coffee shop. Kita punya spirit yang sama, kita enggak ada persaingan. Karena kita sepakat kalau setiap kopi itu akan menemukan penikmatnya," tambahnya.

Selain konsen terhadap perkembangan industri kopi, Rio juga mengajak untuk tak lupa dengan kehadiran 'orang tua' kopi yakni para petani. Untuk itu, ia juga konsen terhadap kesejahteraan petani kopi itu sendiri yang dipercayanya juga akan meningkatkan produktivitas kopi Indonesia.

"Entry point kita, ya di kopi. Jadi saya enggak akan melupakan di mana tempat kita berpijak dan kita bisa menghargai sesuatu," tutur Rio.

Muhammad Aga: Branding barista bagus, popularitas kopi Indonesia bisa meningkat

Muhammad Aga (tengah) di Konferensi pers 'Kopi Penyangga Bumi' di M Bloc Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Punya konsen yang sama dengan Rio Dewanto, Muhammad Aga menambahkan untuk perlu juga membangun sebuah branding personal dari peracik kopinya; yakni para barista. Sebagai salah satu pengisi garda depan dari sekumpulan pegiat kopi, barista penting juga untuk memiliki branding yang bagus.

"Yang dikenal itu baristanya dulu, jangan kopinya dulu. Lagian kopi Indonesia sudah dari zaman bahela terkenal. Contohnya kaya kopi luwak. Jadi, kalau ngomongin kopi Indonesia itu sudah sangat terkenal. Masalahnya, gimana cara supaya orang melihat kopi Indonesia itu punya kualitas yang baik, berarti harus diangkat peran apa di dalamnya, nih," terang laki-laki yang sudah berkecimpung di dunia kopi sejak 10 tahun itu.

Ia juga menambahkan bahwa Indonesia sudah dikenal sebagai produsen kopi, tapi belum dikenal sebagai produsen kopi yang specialty. "Harus ada kolaborasi antar pelakunya dulu, sampai pelakunya sudah dikenal baru orang percaya sama kita," tambahnya.

Aga panggilan akrabnya, menganggap barista sebagai salah satu aktor utama untuk membawa kepopularitasan kopi Indonesia. Di tangan barista yang qualified, ia percaya kopi bisa terasa enak, di situ pula akan turut tertuang kepercayaan orang terhadap kualitas kopi yang akan dibelinya.

"Harus kita angkat, siapa aktor di balik kopinya dulu, nih sampai akhirnya mereka mencoba kopinya itu bisa merefleksikan aktornya," ucap Aga.

Sama seperti dirinya, yang mengikuti kompetisi sebagai personal branding dengan tujuan bisnis. Dengan cara ini pula, Aga memperkenalkan kalau kedai kopi miliknya yakni Shoot Me In The Head (SMITH) menyajikan kopi-kopi kualitas kompetisi.

Barista juga berperan sebagai aktivis kopi yang bertugas menjaga konsistensi kualitas kopi Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pula kolaborasi antar pelakunya sehingga dunia semakin percaya bahwa Indonesia punya kualitas kopi yang spesial.

Handoko Hendroyono: Kopi perlu kolaborasi

Petani memanen kopi arabika di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Sepakat dengan Aga, Handoko Hendroyono juga mengatakan, kalau kopi butuh kolaborasi agar manfaatnya semakin terasa. Sebab kopi, tak hanya bermanfaat bagi penikmatnya, namun juga dianggap sebagai penyangga bumi.

"Kopi punya impact dari segi sosial, kultural, dan ekonomi. Kopi perlu kolaborasi," tegasnya.

Untuk itu, melalui sebuah kolaborasi Handoko merasa kopi Indonesia bisa dinarasikan, agar topiknya semakin dekat dengan dunia. Menurutnya, kopi bukan hanya terhenti sampai di lidah saja, tapi juga berdampak pada keberlangsungan kehidupan di bumi.

Apalagi Indonesia berada dalam ring of fire, lanjut Handoko, ada banyak pegunungan berapi yang juga jadi lahan perkembangan kopi. Contohnya, Gunung Ijen dan Kerinci. Bentangan lahan kopi yang begitu kaya di Indonesia bisa jadi keuntungan tersendiri untu negeri ini.

Enggak heran, kalau Indonesia sekarang menjadi produsen kopi keempat terbesar di dunia, dengan harga jual yang lebih mahal dibandingkan Brasil.

"Kita lebih mahal karena dataran perkebunan kita yang miring dan nyempil, kalau Brasil itu lahannya datar. Menurut saya ini sebuah tantangan, tapi kita harus mengubah problem jadi opportunity. Karena kopi kita lebih enak, lebih kaya, indikasi geografisnya lebih banyak, itu yang bikin kopi kita bernilai lebih tinggi," tutupnya.

Bukan hanya Rio, Aga, dan Handoko, sebenarnya masih banyak lagi pegiat kopi lainnya yang ingin kopi Indonesia semakin lebih dikenal. Untuk itu, sebagai penikmat kita juga perlu turut andil di dalamnya. Sebab, apalah arti sebuah popularitas tanpa adanya kolaborasi.

embed from external kumparan