Memasak Bersama Pasangan Tingkatkan Keharmonisan Rumah Tangga

16 Oktober 2018 12:49 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:05 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi suami dan istri memasak bersama (Foto: Shutter Stock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suami dan istri memasak bersama (Foto: Shutter Stock)
ADVERTISEMENT
Kegiatan memasak di dapur kerap dikaitkan dengan peran perempuan, bahkan menjadi sebuah kewajiban saat ia telah menjadi seorang istri. Terlepas dari apakah ia seorang ibu rumah tangga atau wanita karir, masih banyak anggapan yang muncul bahwa ujung-ujungnya, wanita harus mampu berurusan dengan dapur.
ADVERTISEMENT
Karenanya, walau tengah bekerja sekalipun, banyak yang masih menyempatkan untuk memasak, menyiapkan makanan bagi keluarga.
Menariknya, kewajiban memasak bagi perempuan telah membentuk sebuah kultur tersendiri di masyarakat Indonesia. Bisa dibilang, kesetaraan gender belumlah menyentuh urusan saat mengurus rumah tangga, khususnya di bagian dapur.
Dari penelitian yang dilakukan oleh HILL ASEAN 2018, urusan dapur atau memasak merupakan pekerjaan rumah tangga yang paling rendah dibagikan antara suami dan istri. Bila dikira-kira dengan angka, hanya tiga dari sepuluh suami yang membantu istrinya di dapur.
Terdengar biasa dan tak mengherankan memang, bila dikaitkan dengan budaya yang ada di Indonesia. Namun, tanpa disadari, ternyata kegiatan memasak di dapur bisa menjadi salah satu cara bagi suami untuk mengapresiasi peran istri dan mempertahankan hubungan pernikahan.
ADVERTISEMENT
Bagaimana bisa?
Apresiasi terhadap pasangan menjadi satu faktor kunci untuk menjaga keharmonisan suatu hubungan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberikan apresiasi, mulai dari hal terkecil dengan cara memuji dan mengucap terima kasih, hingga ikut terjun dalam urusan domestik--perihal rumah tangga, mulai dari mengurus anak, hingga ikut memasak di dapur.
"Salah satu masalah terbesar dalam konflik rumah tangga adalah kurangnya apresiasi. Apresiasi suami terhadap istri sangatlah besar (lingkupnya), bisa dimulai dengan mengungkapkan rasa terima kasih, hingga ikut membantu di dapur," jelas Adri Reksodipoetro selaku perwakilan dari lembaga penelitian Nation Insights dalam acara konferensi pers Akademi Suami Sejati oleh Kecap ABC di Fairmont Hotel, Jakarta Pusat pada Senin (15/10).
Konpers Kecap ABC (Foto: Safira Maharani/ kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konpers Kecap ABC (Foto: Safira Maharani/ kumparan)
Jelas, kesetaraan gender dalam hal masak-memasak di rumah ini tak akan bisa terjadi bila tak diusahakan oleh kedua belah pihak. Menurut Indra Noveldy, seorang konsultan pernikahan, istri bisa ikut melibatkan suami di dapur dengan mengkomunikasikannya, bahwa ia butuh sedikit bantuan. Dengan membagi bagaimana kesibukan yang terjadi di dapur, suami juga bisa tahu bahwa perannya juga dibutuhkan di sana.
ADVERTISEMENT
"Bila tak sempat untuk membantu di dapur karena sibuknya pekerjaan di kantor, sebagai suami kita juga bisa merencanakan kegiatan memasak bersama saat weekend tiba. Tak hanya sebagai apresiasi, tapi juga bisa menjadi waktu untuk bonding," imbuh Indra.
Memasak Untuk Pasangan (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Memasak Untuk Pasangan (Foto: Thinkstock)
Lantas, apakah keseimbangan peran yang berhubungan dengan urusan dapur ini hanya bisa 'menyentuh' kalangan menengah ke atas dengan pola pikir terbuka saja?
Tak banyak diketahui, namun kegiatan memasak di dapur yang dilakukan oleh laki-laki atau suami ternyata bukan lagi menjadi sesuatu yang awam. Di lapisan kelas sosial menengah ke bawah, misalnya, ternyata memasak juga telah menjadi salah satu tanggung jawab para suami. Eko Bambang, pendiri Aliansi Laki-laki Baru yang menyuarakan kesetaraan hak perempuan mengisahkan bahwa pada keluarga petani atau buruh, suami justru tak bisa berpangku tangan saja tanpa harus menyiapkan makanannya sendiri.
Ilustrasi memasak (Foto: Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memasak (Foto: Pexels)
Hal ini dikarenakan sang istri juga harus bekerja hingga hampir seharian penuh--bahkan tak sempat untuk menyiapkan makanan terlebih dahulu. Karenanya, mau tak mau mereka pun harus bisa memasak sendiri.
ADVERTISEMENT
"Untuk meningkatkan peran laki-laki atau suami dalam hal masak memasak di dapur rumah, diperlukan juga apresiasi bagi mereka. Jangan menganggap bahwa laki-laki yang memasak adalah sesuatu yang aneh dan tak wajar. Dengan adanya apresiasi ini, laki-laki akan semakin mau untuk ikut memasak, dan bukanlah sesuatu yang aneh bahwa laki-laki dan perempuan memiliki ketrampilan yang sama," pungkas Eko.