Mengapa Kita Suka Makanan Bertekstur Renyah?
·waktu baca 3 menit

Makanan yang memiliki tekstur renyah memang digemari banyak orang. Sebut saja keripik, kacang goreng, hingga kerupuk. Makanan kriuk nan gurih benar-benar lekat dengan kebiasaan makan orang Indonesia, bahkan dunia. Eits, tapi tahukah kamu, ternyata menurut sains, ada alasan tersendiri mengapa kita suka makanan renyah, lho.
Diketahui tekstur yang kita rasakan pada makanan itu ditentukan oleh reseptor sensorik di mulut, dan juga dari suara yang dihasilkan makanan saat kita mengunyahnya. Namun, meskipun sifat fisik makanan dapat diukur secara ilmiah atau yang dikenal sebagai reologi, nyatanya tekstur adalah konsep yang sangat subjektif.
Mengutip Epicurious, dalam buku Food Texture and Viscosity, Concept and Measurement, mendiang Dr. Malcolm. C. Bourne, profesor emeritus ilmu pangan di Cornell University, menulis “Tekstur adalah konstruksi manusia,”
Kepekaan kita terhadap tekstur produk makanan adalah berdasarkan pengalaman dan harapan. “Kami telah belajar pengalaman tentang apa yang kami harapkan dari makanan tertentu. Kami mengharapkan tekstur tertentu, dan jika makanan sesuai dengan harapan kami, kami senang,” ujar Dr. Stephanie Bull, dosen senior di Departemen Ilmu Pangan dan Gizi di Universitas Reading.
Selanjutnya, Dr Charles Spence, Profesor Psikologi Eksperimental di Universitas Oxford, telah bekerja sama dengan para koki untuk membawa unsur-unsur ilmu sensorik ke restoran. Mereka pun telah mengembangkan serangkaian penelitian ilmiah yang disebut gastrofisika. Studi tentang variabel yang memengaruhi cara kita dalam menikmati minuman dan makanan. “Ini adalah ilmu tentang persepsi makanan,” ujarnya.
Selain itu, pada tahun 2014 ia juga pernah memenangkan IG Nobel Prize untuk eksperimen "chip sonic," dan menunjukkan fakta bahwa keripik terasa lebih enak. Meskipun belum ada bukti yang ditemukan, mengapa kita menyukai makanan renyah seperti halnya beberapa teori tersebut.
Namun, Dr Charles Spence berteori bahwa mungkin ada hal primitif tentang keadaan makanan dan kemungkinan bahwa sajian renyah menjadi standar sajian itu aman atau bergizi. Sebut saja buah-buahan dan sayuran. Mereka yang dalam kondisi segar cenderung memiliki tekstur renyah, yang tentu tidak akan ditemukan setelah menjadi busuk.
Lantas mengapa makanan renyah begitu disukai?
Bagaimana pun alasannya yang jelas tekstur memiliki peran besar dalam kenikmatan sebuah makanan. Dalam banyak masakan di seluruh dunia, menciptakan perbedaan tekstur dalam hidangan itu penting. Sehingga menciptakan keragaman tekstur adalah bagian penting dari setiap hidangan yang baik.
Perlu diketahui bahwa akar dari kenikmatan kita dengan tekstur renyah atau garing, adalah fakta sederhana bahwa mengunyah itu sendiri menyenangkan.
“Mengunyah adalah pengalaman sensorik yang menyenangkan yang memberikan kepuasan luar biasa. Ini adalah salah satu dari sedikit kesenangan indera yang berlangsung dari buaian sampai ke liang lahat,” tulis Bourne dalam bukunya.
Mengunyah berarti membuat suara bising di dalam mulut, yang mungkin juga merupakan bagian dari daya tarik evolusioner makanan renyah.
“Daya tarik makanan renyah muncul, seperti hak kita yang tidak dapat dicabut untuk hidup, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan. Semua orang sepertinya menikmati makanan yang renyah,” tulis Allen.
Reporter: Destihara Suci Milenia
