Mengapa Lontong Menjadi Sajian Utama Perayaan Cap Go Meh?
·waktu baca 3 menit

Pernah mendengar lontong cap go meh? Eits, tunggu dulu, ini bukan sekadar nama menu makanan, lho. Cap Go Meh sejatinya merupakan festival penutupan hari raya Imlek yang dilaksanakan setiap hari ke-15 sesudah tahun baru China itu.
Hanya saja, kehadiran sajian berupa lontong menjadi tradisi dalam perayaan Cap Go Meh; sehingga dinamakan lontong cap go meh. Namun, mengapa lontong jadi hidangan utama saat festival Cap Go Meh?
Lontong cap go meh yang identik dengan kuah opor ini menjadi favorit saat penutupan Imlek. Tidak terlalu berbeda dengan menu lontong pada umumnya, lontong cap go meh berisi ayam opor, sambal goreng ati, sayur lodeh, telur pindang, acar, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.
Lantas, mengapa memakai lontong sebagai hidangan utama?
Rupanya bukan tanpa alasan, penggunaan lontong dalam makanan tradisional itu mengandung kisah sejarah dari kedatangan warga China ke Indonesia, dan akhirnya budaya antara keduanya bercampur termasuk melalui makanan.
Menurut Prof. Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada mengatakan kepada kumparanFOOD, “Warga Tionghoa terpesona dengan bentuk lontong yang bulat, menyerupai bulan purnama, yang bulat dan indah.”
Dari warna opor pun juga merupakan penyatuan budaya Tionghoa dan Jawa. Lantaran, orang Jawa biasa memasak lontong dengan kuah kuning; sementara ketika budaya China masuk, mereka mengajarkan masyarakat untuk membuat kuah opor putih yang mereka sukai. Maka, sampai sekarang pun banyak dari masyarakat Indonesia terutama di Jawa menyukai lontong dengan kuah opor yang putih ini.
Selain itu, menurut kisah yang beredar luas bahwa lontong digunakan sebagai pengganti yuanxiao atau bola bola tepung beras yang biasa dimakan oleh masyarakat Tionghoa. Lontong menjadi bintang tamu yang digemari orang Tionghoa karena bentuk bulatnya, dan akhirnya dipadukan pula dalam makanan khas kala Cap Go Meh.
Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa pula, bentuk bulat pada lontong yang panjang merupakan lambang panjang umur. Sementara untuk kuah opor yang terbuat dari kunyit, melambangkan keberuntungan dari dasar warna keemasan rempah tersebut. Meskipun masakan China asing dengan penggunaan santan, namun kuah putih pada opor menjadi dekat dengan kuliner Tionghoa karena lontong bulat yang digunakan untuk Cap Go Meh.
Saat ini, lontong cap go meh pun disukai berbagai kalangan masyarakat dan justru menjadi menu saat berkunjung ke restoran tak hanya sebatas perayaan Cap Go Meh saja. Di berbagai daerah, khususnya pulau Jawa lontong cap go meh sangat disukai masyarakat. Terutama di kota Semarang yang populer menjadi tempat akulturasi budaya China dan Jawa.
Jadi, apa kamu sudah menyiapkan lontong cap go meh untuk perayaan besok?
Penulis: Ade Naura Intania
