Mengenal Lapis Malang, Kue Asli Indonesia dari Zaman Belanda

1 Agustus 2022 14:11
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi kue lapis malang Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kue lapis malang Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Mungkin kamu biasa mengenal kue lapis berupa lapis legit atau lapis Surabaya saja. Tapi, tahukah kamu, ternyata kue lapis pertama yang muncul justru datang dari kota Malang?
ADVERTISEMENT
Ya, kue lapis Malang merupakan pelopor dari ragam kue lapis khas Indonesia. Chef Yongki Gunawan menceritakan kepada kumparanFOOD bahwa sebelum hadirnya kue lapis legit ataupun lapis Surabaya, kue inilah yang pertama kali hadir dalam sejarahnya.
"Kue lapis malang itu kue Indonesia asalnya dari Malang. Kue ini hanya dua lapis, yaitu kuning dan cokelat. Kue ini merupakan camilan sehari-hari di zaman Belanda," ujar chef Yongki saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu (19/6).
Lebih lanjut, chef Yongki mengatakan bahwa kue lapis bukan merupakan kue khas Belanda. Melainkan, kue-kue seperti lapis malang, lapis surabaya (spikoe), kue mandarin, hingga lapis legit, adalah kue asli Indonesia yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda.
Ilustrasi Kue Lapis Malang. Foto: JohanHarinto/Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kue Lapis Malang. Foto: JohanHarinto/Shutterstock.
Hanya saja, menurutnya, masyarakat kerap menyebut kue ini sebagai "kue Belanda" agar tak meninggalkan kesan sejarahnya; yang mana lahir di zaman penjajahan Belanda. Sama halnya, dengan sajian klapertart hingga nastar, chef Yongki mengungkapkan bahwa kedua kue ini juga asli kuliner Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Itu memang semua dari Indonesia, bukan kue Belanda. Kue khas Indonesia itu yang banyak telurnya, di Belanda itu enggak ada yang bikin kue pakai telur segitu banyak. Seperti juga halnya klapertart. Enggak ada di Belanda, mau berapa harganya? Kelapanya mahal di sana susah nyarinya," tambah Chef yang juga menulis buku resep "Kue-kue Kuno" itu.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020

Perbedaan kue lapis khas Malang, Surabaya, hingga lapis legit

Chef Yongki Gunawan. Foto: Azalia Amadea/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Chef Yongki Gunawan. Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Memang jenis kue lapis asli Indonesia ini memiliki tampilan yang mirip. Terkecuali kue lapis legit yang terdiri dari lebih banyak lapisan. Namun, banyak orang kerap keliru dengan tampilan kue lapis malang, lapis surabaya (spikoe), dan kue mandarin.
"Lapis ini (kue lapis malang) hanya dua lapis, kuning dan cokelat asalnya dari Malang. Kalau spikoe Surabaya lapisannya kuning-cokelat-kuning. Kalau kue mandarin dari Solo itu kuning-putih," jelas chef Yongki.
ADVERTISEMENT
Meski demikian yang menjadi kunci kenikmatan dari aneka kue lapis ini, yakni penggunaan telur yang banyak. Chef Yongki memberikan tipsnya, "pilihlah telur ayam kampung yang segar, umurnya masih lima hari. Cara membedakannya mana yang segar dengan tidak, itu dengan mencelupkan telur ke dalam air. Kalau tenggelam berarti segar, namun kalau sudah mulai mengapung artinya sudah lama," terangnya.
Ilustrasi Kue Lapis Malang. Foto:  Yes And Yes/Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kue Lapis Malang. Foto: Yes And Yes/Shutterstock.
Dengan begitu, chef Yongki menjamin kue lapis malang buatanmu akan bertahan seminggu dalam suhu ruang. Selain menggunakan telur, kue lapis juga berbahan utama butter, tepung terigu, dan gula.
Untuk tips lainnya, chef Yongki mengatakan gunakan suhu 180 derajat celsius dan panggang dalam oven selama 30-40 menit. Usai dipanggang, kedapkan terlebih dahulu 10-15 menit agar kue lebih lembut.
ADVERTISEMENT
Saat menikmatinya pun kamu bisa menjadikan kue lapis sebagai kudapan sehari-hari. Kue ini juga nikmat sebagai pendamping kala minum kopi di sore hari.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020