Kumparan Logo

Mengintip Kue Keranjang Berbalut Daun Pisang di Semarang

kumparanFOODverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kue keranjang Foto: Antara/Oky Lukmansyah
zoom-in-whitePerbesar
Kue keranjang Foto: Antara/Oky Lukmansyah

Menjelang perayaan Imlek, berbagai tradisi pun dilakukan oleh masyarakat Tionghoa mulai dari membersihkan kelenteng hingga menyiapkan makanan. Nah, yang paling khas dan selalu ada ialah kue keranjang.

Kue keranjang dibuat dengan bahan dasar tepung ketan dan gula yang diproses hingga mempunyai tekstur kenyal dan lengket. Selanjutnya kue dibentuk membulat seperti silinder. Kue berwarna cokelat ini lazim dijumpai terbungkus plastik dengan label kertas berwarna merah.

Di Kota Semarang ternyata masih ada pengrajin kue keranjang asli yang dibungkus menggunakan daun pisang. Bertempat di Jalan Kentangan Tengah 67, Kota Semarang, Eng Hwat (67), masih mempertahankan tradisi yang telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

Kepada kumparanFOOD, Eng Hwat mengaku baru akan memulai produksi kue tersebut 10 hari menjelang Imlek. Kue buatannya, kata Eng, dijualnya tak hanya di Semarang.

"Ada (pembeli) dari Jakarta, Bandung, Tulungagung. Selama 10 hari produksi biasanya sampai 10 ton kue keranjang," terang dia, Kamis (31/1).

Eng Hwat menuturkan dirinya merupakan pengelola generasi ketiga. Ditanya tentang nama kue, Eng Hwat menjelaskan makanan yang diproduksi turun-temurun itu tidak mempunyai nama khusus.

Kuer Keranjang Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Produknya, kata Eng, memang masih asli seperti zaman dahulu yaitu dengan bungkus daun pisang. Namun demikian, dalam perjalanannya, kue keranjang buatannya mengalami inovasi dalam varian rasa. Beberapa varian kue keranjang juga dibungkus dengan plastik kaca.

"Yang zaman dulu itu memang dibungkus daun, sampai sekarang ada yang masih, ada yang pakai kertas kaca. Sekarang ada rasa cokelat, vanili, frambos, pandan, kacang dan durian," tutur Eng.

Untuk harga, kue keranjang buatan Eng Hwat dibanderol mulai Rp 53 ribu per kilogram yang dibungkus kertas kaca. Sementara yang dibungkus daun sedikit lebih mahal, yakni Rp 56 ribu per kilogram. Untuk kue keranjang dengan rasa durian juga sedikit lebih mahal, karena ada tambahan Rp 15 ribu.

Menurut Eng, kue buatannya itu bisa bertahan lama meski tanpa bahan pengawet. "Kita berusaha melestarikan ini," ucapnya.

Kue keranjang simbol eratnya hubungan kekeluargaan Foto: Thinkstock

Sejarawan dari Semarang, Jongkie Tio, mengamini dulunya kue keranjang memang dibungkus daun pisang. Kini, meski sudah banyak yang dibungkus dengan plastik dan memiliki varian rasa, maknanya tetap tidak berubah.

"Rasa manisnya itu dimaksudkan agar berpikiran baik dan bicara yang manis. Lengketnya itu merupakan satu kesatuan, dengan falsafah pliketnya (lengket) itu," ujar Jongkie mengungkap falsafah dari kue keranjang.