Kumparan Logo

Menilik Alasan Popcorn Jadi Camilan Wajib Saat di Bioskop

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi popcorn. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi popcorn. Foto: Shutter Stock

Seiring dengan melandainya kasus COVID-19, bioskop mulai ramai kembali, terlebih dengan berbagai tayangan film seru yang dihadirkan. Namun, kamu sadar tidak, ya? Apa pun film yang kamu tonton, camilan yang selalu hadir adalah popcorn.

Ya, popcorn memang telah begitu identik sebagai camilan wajib bagi kamu ketika menonton ke bioskop. Bahkan, tak cuma di bioskop saja, kebiasaan makan popcorn pun telah banyak dilakukan orang ketika menonton film di rumah masing-masing.

Namun, tentu sensasi paling menyenangkan makan popcorn adalah ketika menonton film di bioskop. Bahkan, hal ini pun telah diteliti oleh para peneliti di University of Southern California, sebuah studi yang diterbitkan tahun 2011 dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin, mengatakan bahwa lingkungan memengaruhi kebiasaan makan seseorang.

Tentu, dalam hal ini adalah lingkungan atau suasana bioskop yang redup telah mendorong seseorang untuk dapat begitu menikmati popcorn; sekalipun ketika camilan tersebut tidak enak. Oleh karena itu, bagi yang sudah terbiasa menonton film di bioskop dengan memakan popcorn, kamu mungkin dapat mengatakan bahwa film yang ditonton kurang bagus. Akan tetapi, kamu tidak bisa mengatakan bahwa popcorn yang dimakan tidak enak, karena pada akhirnya akan habis juga.

Sementara itu, untuk menjawab pertanyaan mengapa popcorn begitu lekat sebagai camilan di bioskop? Mengutip Britanica, ternyata terdapat tiga alasan yang terlihat begitu sederhana. Namun, jangan salah, meskipun sederhana tapi telah terbukti eksistensi popcorn di bioskop dapat bertahan hingga sekarang.

Harga popcorn murah

Ilustrasi menonton bioskop sambil makan popcorn. Foto: Shutterstock

Menurut Andrew F. Smith, penulis Popped Culture: A Social History of Popcorn in America, mengatakan bahwa popcorn merupakan produk yang murah, baik itu bagi penjual maupun pelanggan.

Hal ini dikarenakan dalam pembuatan popcorn tidak memerlukan banyak peralatan sehingga biaya produksinya cenderung murah. Berawal dari biaya produksi yang murah, membuat camilan tersebut juga dijual dengan harga terjangkau bagi para pelanggan.

Selain itu, pada masa “great depression” sejak tahun 1929, telah membuat perekonomian dunia mengalami penurunan. Pada masa sulit tersebut, banyak masyarakat membutuhkan hiburan dan salah satunya adalah pergi ke bioskop.

Momen tersebut tidak disia-siakan oleh para penjual popcorn pada masa itu. Camilan yang mulai populer tersebut dijajakan di depan bioskop dan ternyata mendapatkan antusias yang baik dari para penonton bioskop. Sejak saat itu, popcorn mulai tak bisa dipisahkan dengan bioskop. Terlebih, ketika bioskop mulai membuat popcorn-nya sendiri.

Kenyamanan

com-Ilustrasi nonton film di bioskop sambil ngemil popcorn Foto: Shutterstock

Mengapa kamu dapat menghabiskan makanan dengan sebutan lain berondong jagung ini, sementara mata terfokus pada layar lebar di depan? Ya, hal ini tidak terlepas dari sebuah kenyamanan. Nyaman menikmati popcorn di bioskop dengan kursi empuk, layar lebar, suara menggelegar, membuat setiap suara kunyahan dari popcorn seakan menghilang. Tak lagi bikin berisik, apalagi sampai mengganggu penonton lain.

Durasi film

Ilustrasi menonton film di bioskop (3/7/2019). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Popcorn dianggap sebagai camilan ringan, tetapi dapat mengenyangkan. Hal ini cukup masuk akal, mengingat popcorn terbuat dari jagung yang juga merupakan makanan pokok alternatif selain nasi.

Oleh karena itu, popcorn dinilai cocok untuk menemani setiap adegan film di bioskop yang kamu tonton, tanpa harus merasakan lapar. Terlebih, durasi film di bioskop umumnya tergolong cukup lama.

Nah, itulah alasan mengapa popcorn selalu disajikan sebagai camilan di bioskop. Berawal dari harganya yang murah, ternyata telah membuat popcorn begitu identik, bahkan sepertinya akan sulit dilepaskan dari industri pemutaran film di bioskop.

Penulis: Riad Nur Hikmah