kumparan
8 Desember 2017 16:25

Pentingnya Ubah Cara Memasak agar Makanan yang Dikonsumsi Lebih Sehat

Cooking Demo #ThePowerofHomemadeFood (Foto: Dok. Philips)
Memasak adalah salah satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun dengan alasan kesibukan pekerjaan, banyak yang lebih memilih membeli makanan yang telah jadi karena dianggap lebih praktis dan menghemat waktu serta biaya.
ADVERTISEMENT
Padahal banyak dampak positif yang didapat jika mengolah sendiri makanan di rumah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Julia A. Wolfson, MPP yang menganalisa data survei dari National Health and Nutrition Examminaton, orang yang lebih sering memasak di rumah mengkonsumsi lebih sedikit karbohidrat, gula, dan lemak daripada orang yang jarang memasak di rumah.
Namun, memasak di rumah tidak serta-merta menghasilkan makanan yang sehat. Bahan-bahan yang higienis dan bergizi saja tidaklah cukup. Bahan makanan yang diolah dengan tidak tepat malah akan membuat kandungan gizi pada makanan rusak dan akan berdampak kurang baik untuk tubuh.
“Sangat disayangkan apabila bahan bakunya sudah sehat namun proses memasaknya justru menghasilkan makanan yang tidak sehat sehingga gizi makanan tidak maksimal,” ujar Dr. Cindianawaty di acara peluncuran alat masak terbaru Philips di Satoo Garden, Shangri-La Hotel, Jakarta Pusat, Kamis (7/12).
Chef Arimbi (Foto: Dok. Philips)
Apalagi jika proses masak yang kurang tepat itu diolah pada masakan Indonesia yang didominasi dengan masakan yang digoreng dan berbumbu banyak. Padahal jika diolah dengan lebih tepat, makanan khas Indonesia memiliki kandungan gizi yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.
ADVERTISEMENT
Beberapa tahun belakangan ini tingkat kepedulian masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi sudah semakin meningkat. Namun sayangnya, kadang proses pengolahan makanan masih kurang diperhatikan.
Beberapa makanan ada yang tidak boleh diolah dua kali seperti bayam dan kangkung. Atau penggunaan minyak yang tidak boleh dipakai lebih dari dua kali. Hal ini masih sering luput dari perhatian masyarakat Indonesia.
Chef Arimbi memasak (Foto: Dok. Philips)
“Sebenarnya Ibu dan keluarga Indonesia tahu dan paham soal gaya hidup sehat termasuk bagaimana pola makan sehat bagi keluarga. Namun sering diabaikan proses memasaknya. Misalnya proses menggoreng yang tentu saja menggunakan minyak banyak. Penggunaan minyak ini akan meningkatkan total asupan kalori yang dapat meningkatkan resiko obesitas,” tambah dr Cindianawaty menjelaskan tentang kurangnya pemahaman masyarakat tentang proses memasak yang benar.
ADVERTISEMENT
Kudapan buatan Chef Arimbi (Foto: Dok. Philips)
Mengubah proses memasak akan meningkatkan kualitas masakan yang dibuat. Hal ini dapat dilakukan dengan mengganti proses masak yang kurang sehat ke proses yang lebih sehat. Misalnya kebiasaan menggoreng dapat dirubah dengan mengukus atau merebus masakan.
Kemudian, penggunaan MSG juga harus sangat diperhatikan. Sebenarnya rempah dan bumbu seperti bawang putih dan merica sudah cukup untuk membuat makanan lebih sedap.
“Mengkombinasikan beragam bahan masakan dan mengubah teknik memasak misalnya dari digoreng menjadi dipanggang atau dikukus merupakan solusi pola hidup sehat,” tutup Chef yang telah lama menerapkan pola makan sehat.
Pola hidup sehat berawal dari rumah. Dengan masakan yang sehat dan cara pengolahan yang tepat, hal itu merupakan investasi agar dapat menjalani masa tua yang sehat, sejahtera, dan bahagia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan