Perjalanan Tempe, dari Golongan Bawah hingga Mencuri Perhatian Dunia

Meski sederhana, kehadiran tempe di meja makan bisa bikin selera membuncah. Tak perlu ribet diolah, digoreng saja dan dinikmati dengan sambal cobek, rasanya tempe bisa jadi ‘bintang’; membuat kita tak segan-segan nambah nasi.
Kalau selama ini kita kerap mengabaikan potensi tempe dalam kuliner indonesia, di tengah maraknya pegiat makanan sehat, tempe kian digemari hingga ke mancanegara. Padahal, tempe merupakan makanan hasil fermentasi kedelai dengan koloni jamur ini sudah ada di tanah Jawa sejak masa lampau.
Mengutip buku Gastronomi Indonesia jilid 1 karya Prof. Murdijati Gardjito, keberadaan tempe pertama kali diketahui melalui Serat Centhini pada pemerintahan Pakubuwana V Surakarta. Serat Centhini merupakan naskah Jawa Klasik yang terdiri dari 12 jilid. Naskah tersebut ditulis oleh Sunan Pakubuwana V yang dibantu Kiai Ngabei Ranggasutrasna, Kiai Ngabei Yasadipura II, dan Kiai Ngabei Sastradipura pada Januari 1814-1823.
Di dalam naskah tersebut tertulis bahwa pada zaman dulu, tempe sudah dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari, terutama di Jawa. Tempe digunakan sebagai suguhan, kudapan, lauk pauk makanan, maupun bagian dari makanan untuk selamatan.
Kata tempe ditemukan dalam bagian perjalanan mas Cebolang yang singgah di dusun Tembayat. Ia dijamu makan siang oleh Pangeran Bayat, menunya sambel lethokan atau saat ini dikenal sebagai sambel tumpang. Samabl ini dibuat menggunakan tempe yang telah mengalami fermentasi lebih lanjut. Dalam buku itu juga disebut bahwa tempe disajikan mentah.
Tak hanya dalam buku tersebut, tapi Dr. Sastroamijoyo pernah menulis bahwa tempe sudah ada lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sebelumnya, masyarakat China membuat makanan (kecap) yang diproduksi melalui proses inokulasi kedelai dengan Aspergillus oryzae. William Morse menyebutkan adanya makanan seperti tempe di Beijing pada tahun 1931 yang bernama tou chiah ping.
Cara ini kemudian dibawa ke Jawa oleh pedagang Cina. Ia mengalami adaptasi dengan lidah lokal yang menggunakan Rhizopus yang sesuai dengan iklim Indonesia.
Nikmatnya hidangan tempe bikin masyarakat Indonesia terutama Jawa membawa makanan ini kian mendunia. Popularitas tempe kian berkembang karena migrasi orang Jawa ke berbagai wilayah; baik dalam maupun luar negeri. Referensi awal soal hadirnya tempe di Eropa datang dari Gericke dan Roorda pada tahun 1975.
Bahkan, Mr. dan Mrs. Wedding belajar langsung cara pembuatan tempe di Indonesia. Kemudian, mereka membuka usaha tempe di Belanda pada April 1946.
Dari menu keluarga golongan rendah ke bawah hingga ke meja pegiat makanan sehat
Ada satu hal yang unik dari tempe. Bila kita mengibaratkan tempe sebagai sebuah produk, personal branding-nya agak tidak menarik. Beberapa istilah seperti golongan tempe atau mental tempe ditujukan kepada golongan atau mental yang rendah kualitasnya. Sedih, ya?
Memang, nilai sosial tempe bisa dilihat dari berbagai persepsi dan cara ia dikonsumsi. Masyarakat pedesaan biasa menikmati tempe sebagai pelengkap dalam menu sehari-hari. Di perkotaan, tempe umumnya dihidangkan dalam menu golongan menengah ke bawah.
Namun, nama tempe kini kian tenar. Tingginya protein dan ramah untuk vegan dan vegetarian bikin tempe makin diburu. Tempe jadi alternatif pengganti daging yang dinilai luar biasa. Ia dibuat jadi steak, burger, hingga topping salad.
Laman The Kitchn yang merekomendasikan tempe (mereka menyebutnya tempeh) sebagai alternatif plant-based menuliskan, karena relatif tidak diproses - dibuat dari kacang-kacangan utuh atau biji-bijian - tempe mempertahankan banyak nutrisi dan serat. Proses fermentasi itu membuatnya jauh lebih mudah dicerna. Itu berarti banyak nutrisi dan antioksidan menjadi lebih mudah diserap. Tak heran kalau di luar negeri, tempe banyak dijajakan di toko-toko bahan makanan sehat.
Mereka juga mendeskripsikan rasa tempe dengan kalimat yang menarik. Menurut The Kitchn, tempe memiliki tekstur chunky dan rasa mirip jamur karena merupakan protein yang difermentasi. Tempe sarat dengan umami, yang memberikannya rasa seperti daging yang gurih. Polos, tidak mengandung garam, sehingga sering dibumbui dengan kecap asin untuk meningkatkan rasanya.
Itulah kisah tempe yang kini mencuri perhatian dunia. Enggak heran kalau pada tahun 2013, Forum Tempe Indonesia mengusulkan bahwa setiap 6 Juni merupakan peringatan Hari Tempe Sedunia.
Alasannya sederhana, karena 6 Juni merupakan hari kelahiran Presiden Soekarno yang suka makan tempe dan terkenal dengan pidatonya yang berisi: “Jangan jadi bangsa tempe”. Maksudnya, ini merujuk kepada proses pembuatan tempe yang diinjak-injak; jangan sampai jadi bangsa yang diinjak-injak.
Menarik ya? Dari personanya yang dulu dikaitkan dengan sesuatu yang tidak kompeten, kini tempe justru dicari-cari. Kalau dulu orang malu makan tempe, justru saat ini ia berhasil mengganti peran daging untuk mereka yang bergaya hidup sehat. Jadi, jangan malu kalau suka makan tempe!
