Food & Travel
·
27 Mei 2020 20:22

Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi (1024532)
searchPerbesar
Ilustrasi belanja di supermarket. Foto: Shutterstock
Selama masa pandemi, berbelanja ke supermarket seakan menjadi tantangan tersendiri. Demi menghindari risiko paparan virus, orang-orang pun mengubah kebiasaannya berbelanja. Misalnya, meminimalisir frekuensi belanja langsung ke supermarket.
ADVERTISEMENT
Berbagai supermarket juga memberikan layanan baru untuk beradaptasi di tengah pandemi, seperti menawarkan fasilitas belanja secara online, atau metode pick up di toko.
Nah, tak menutup kemungkinan, kebiasaan-kebiasaan yang sudah dilakukan selama beberapa bulan ini akan terus berlanjut meski pandemi telah usai. Cara kita berbelanja pun akan bertransformasi, tak lagi sama seperti sebelum pandemi terjadi.
Kira-kira, akan seperti apa ya nantinya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini:

1. Frekuensi belanja ke supermarket akan berkurang

Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi (1024533)
searchPerbesar
Seorang karyawan supermarket mengenakan masker dan sarung tangan di Wina, Austria. Foto: REUTERS / Lisi Niesner
Menurut survei perilaku konsumen yang dirilis oleh agensi pemasaran asal Florida bernama Acosta, frekuensi berbelanja para pembeli berkurang sebanyak 52 persen bila dibandingkan saat sebelum pandemi. Selain itu, 47 persen juga mengungkapkan akan tetap mengurangi frekuensi berbelanja ke supermarket usai pandemi berakhir.
ADVERTISEMENT
Bisa jadi, setelah pandemi berakhir, atau ketika new normal diterapkan, orang-orang tak akan berbelanja ke supermarket atau minimarket sesering biasanya.

2. Orang-orang akan menyetok makanan

Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi (1024534)
searchPerbesar
Ilustrasi menyimpan makanan dalam kulkas. Foto: Shutterstock
Kebiasaan menyetok makanan juga akan diteruskan oleh banyak orang. Menurut survei yang sama, hampir separuh responden berpikir untuk tetap menyimpan persediaan makanan.
Apalagi, setelah frekuensi untuk belanja ke supermarket berkurang, tren menyetok makanan ini akan terus berlanjut, meski tak sampai memborong dan menimbun bahan-bahan pokok. Sebab, kemampuan untuk menyetok makanan ini dianggap efektif dalam menghemat waktu, khususnya saat tempo aktivitas kembali normal nantinya.

3. Lebih banyak konsumen yang belanja secara online

Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi (1024535)
searchPerbesar
Ilustrasi belanja online. Foto: Shutterstock
Dilansir Today, Jon Roesser, manajer dari Weavers Way Co-op, toko sembako dengan berbagai cabang di Pennsylvania memprediksi bahwa konsumennya akan melanjutkan metode ambil belanjaan atau pick up order.
ADVERTISEMENT
Metode ini memungkinkan pembeli untuk memilih terlebih dahulu barang yang ingin dibeli lewat platform online, dan tinggal mengambil belanjaannya saat datang ke toko.
Ia juga memprediksi, setelah pandemi berakhir, banyak konsumen yang melanjutkan belanja secara online. Khususnya, bagi mereka yang punya jadwal sibuk dan tak sempat berbelanja secara offline.

4. Produk segar yang tahan lama lebih digemari

Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi (1024536)
searchPerbesar
Ilustrasi Supermarket Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Dari tahun ke tahun, penjualan produk segar terus meningkat, khususnya bahan makanan yang bisa tahan dalam jangka waktu lama. Misalnya, kentang, jeruk, dan lemon. Sebab, bahan-bahan makanan tersebut serba guna dan bisa diolah jadi berbagai jenis masakan, serta dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama.

5. Makanan beku dan kalengan banyak diminati

Prediksi 5 Perubahan Kebiasaan Berbelanja di Supermarket Usai Pandemi (1024537)
searchPerbesar
Ilustrasi kacang polong beku Foto: Shutter Stock
Dengan frekuensi belanja ke supermarket yang lebih jarang, berarti lebih banyak jenis makanan frozen yang perlu dibeli. Saat ini, beberapa toko bahkan membatasi jumlah sayuran frozen yang bisa dibeli oleh konsumen.
ADVERTISEMENT
Nantinya, meski jumlah pembeliannya tak lagi dibatasi, permintaan akan makanan beku akan tetap tinggi. Orang-orang tertarik membeli produk beku ini karena kepraktisannya, sehingga akan tetap mencarinya meski pandemi telah berakhir.
Selain makanan beku, makanan kalengan juga diprediksi akan tetap diminati banyak orang. Alasannya, tentu saja karena makanan ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun, sehingga bisa dijadikan sebagai stok.
***
Saksikan video menarik di bawah ini: