Riset: Krisis Pangan di Kalangan Mahasiswa Menurunkan Jumlah Tingkat Kelulusan
·waktu baca 2 menit

Permasalahan food insecurity atau krisis pangan di kalangan mahasiswa tampaknya menjadi semakin serius. Keterbatasan akses pangan dan kurangnya sumber produksi bahan makan di tiap rumah tangga, menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan lagi.
Pasalnya, bukan saja berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan gizi tiap orang. Melainkan, performa akademik mahasiswa maupun pelajar juga dapat terganggu. Hal ini jelas berpotensi pada kualitas pembelajaran masing-masing mahasiswa, terlebih di masa-masa pembelajaran daring kini.
Mengutip New Food Magazine, studi John Hopkins, Bloomberg School of Public Health, mengkaji pengaruh masalah krisis pangan terhadap akademik mahasiswa. Mereka telah meneliti sebanyak 1.574 mahasiswa sejak tahun 1999-2003. Hasilnya mereka menemukan 15 persen mahasiswa menjadi korban dari masalah ini.
Sementara, peneliti menindaklanjuti studinya hingga tahun 2017 silam. Mengejutkannya, mahasiswa korban krisis pangan sendiri meningkat sampai 40 persen.
Hasil penelitian ini berhubungan dengan tingkat kelulusan perguruan tinggi. Disebutkan, mereka yang mengalami permasalahan ini 60 persen kemungkinannya sulit untuk bisa meraih gelar sarjana ataupun profesional.
Lebih parahnya lagi, bagi siswa yang berasal dari keluarga minim pengetahuan, atau tak menempuh pendidikan tinggi. Cenderung lebih sulit memberi edukasi seputar pentingnya nutrisi dan kebutuhan makanan pada anaknya.
“Oleh karenanya, kita benar-benar butuh kebijakan kuat dalam mengatasi masalah ini. Dikhawatirkan, populasinya kian meningkat, apalagi di masa pandemi,” jelas Julia Wolfson, PhD, asisten profesor Departemen Internasional Kesehatan Bloomberg School.
Sampai detik ini pun, peneliti mengungkap sebanyak 43 persen mahasiswa yang tak mendapatkan pangan berkualitas. Dampak kerugian terbesarnya, kemungkinan mereka terhambat dalam memperoleh gelar associate.
Analisis peneliti pun ikut menunjukkan, kebanyakan korbannya sendiri datang dari anak pertama dalam keluarga. Bahkan, bagi mahasiswa yang sudah tergolong aman sekalipun, peluang dapat lulus tepat waktu hanya 47 persen.
Melihat dampak yang begitu merugikan, tentunya mampu mengancam pendidikan mereka dan masa depan. Untungnya, studi Wolfson dan peneliti lainnya membuka wawasan mendasar, perihal efek krisis pangan akan rendahnya kualitas pendidikan mahasiswa.
Diharapkan, ke depannya masalah ini akan lebih dilirik dan akses kebutuhan makanan bernutrisi yang memadai mampu diperoleh oleh tiap keluarga di seluruh dunia.
Reporter: Balqis Tsabita Azkiya
