Ruwahan, Tradisi Menyambut Ramadhan di Jawa

29 Mei 2018 16:29
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tradisi Ruwahan di Jawa (Foto: Instagram/@nanafelly @deasydandry)
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Ruwahan di Jawa (Foto: Instagram/@nanafelly @deasydandry)
ADVERTISEMENT
Menjelang bulan Ramadhan, beberapa daerah di Indonesia biasanya memiliki tradisinya masing-masing untuk menyambut bulan suci tersebut. Tradisi yang dilakukan pun berbeda-beda, namun sebagian besar memiliki konsep yang sama, yakni untuk mendoakan para leluhur mereka dan berbagi sedekah dengan orang-orang sekitar.
ADVERTISEMENT
Salah satu tradisi yang masih kerap dilakukan adalah ruwahan. Tradisi kebudayaan menyambut bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ini biasanya diadakan saat pertengahan bulan Ruwah, atau bulan kedelapan kalender Jawa, yang bertepatan dengan Sya’ban dan kalender Hijriah. Bisanya, ruwahan ditandai dengan kegiatan ziarah kubur dan makan besar bersama kerabat.
Saat tradisi ruwahan dilakukan, seluruh anggota keluarga biasanya akan mengunjungi makam leluhur mereka seperti kakek atau nenek yang telah meninggal, lalu membersihkan area makam dan berdoa bersama. Selain itu, tradisi ini juga diwarnai dengan berbagai makanan lezat yang wajib hadir untuk melengkapi tradisi ruwahan.
Aneka jenis makanan yang kerap disajikan saat tradisi ruwahan dilakukan antara lain adalah kolak, kue apem, dan ketan. Berbagai makanan tersebut kemudian dibagikan kepada tetangga sekitar sebagai salah satu bagian dari pelaksanaan tradisi. Selain lezat, berbagai makanan tersebut ternyata sarat akan makna, lho.
ADVERTISEMENT
Kolak, misalnya, melambangkan hubungan dalam persaudaraan yang semakin dewasa dan penuh rejeki. Beberapa orang juga menyebutkan bahwa kolak menjadi simbol untuk mengingatkan kita terhadap Khaliq atau Sang Pencipta. Sedangkan kue apem yang bertekstur lengket menjadi simbol eratnya tali silaturahmi antar masyarakat. Lain lagi dengan kue apem yang memiliki makna sebagai ungkapan saling memaafkan jika terjadi kesalahan.
Selain membagikan tiga makanan tersebut, beberapa orang biasanya juga melakukan sedekah ruwahan secara bersama-sama. Biasanya, setiap kelurga besar akan menyajikan nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, dan dibagikan bagi para warga yang datang.
Tentunya, kegiatan pada tradisi kebudayaan ruwahan tersebut juga memiliki arti tersendiri. Bersedekah dengan membagikan makanan tersebut merupakan bentuk amal, sedangkan membersihkan makam leluhur merupakan bentuk perhatian yang menjadi penanda bahwa kita tidak melupakan orang tua dan para leluhur.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020