Sayur Lodeh Kala Pageblug, Tradisi Jawa dalam Menolak Wabah

25 Maret 2020 20:02 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi sayur lodeh Foto: dok.shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sayur lodeh Foto: dok.shutterstock
ADVERTISEMENT
Makanan bagi masyarakat Indonesia bukan sekadar sajian penghilang hasrat lapar saja. Makanan tradisional yang khas terutama, biasanya juga sarat akan makna yang begitu kental, hingga doa penuh harapan.
ADVERTISEMENT
Seperti halnya sayur lodeh. Di tengah wabah virus corona ini muncul thread yang ramai di Twitter soal anjuran memasak sayur lodeh sebagai penolak wabah. Thread yang dicuitkan pemilik akun @kamto_adi seolah mengingatkan kembali akan kehadiran sayur lodeh yang tak hanya nikmat dimakan, namun dipercaya bisa menolak musibah.
Sayur lodeh menjadi salah satu makanan yang muncul kala 'pageblug,' masa di mana terjadinya suatu wabah atau bala. Dalam tradisi tersebut dianjurkan untuk memasak makanan dengan tujuh rupa bahan; laiknya sayur lodeh yang terdiri dari kluwih (nangka muda), cang gleyor (kacang panjang), terung, waluh (labu), godong so (daun melinjo), melinjo, dan tempe.
Konon, ketujuh bahan tersebut dalam bahasa Jawa memiliki pengertian dan harapan tersendiri. Misalnya, kluwih yang dalam bahasa Jawa bermakna 'kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne.' Artinya, keluarga menjadi yang utama dan harus diperhatikan.
Ilustrasi sayur lodeh Foto: dok.shutterstock
Namun, menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman hal ini tak sepenuhnya benar. Peran sayur lodeh sebagai penolak bala atau wabah dalam tradisi pageblug hanya sekadar daya pikat tambahan saja.
ADVERTISEMENT
"Dalam tradisi masyarakat Jawa, sejak masa pra Islam, tradisi pageblug ini sudah ada di lingkungan masyarakat agraris sebagai penolak bala termasuk wabah yang biasa terjadi kala panen atau saat masa kelaparan. Kemudian, hadirlah makanan sebagai sesaji kala melakukan ritual tersebut. Makanan hadir sebagai simbol rasa syukur, atau termasuk harapan menolak bala," terangnya saat kumparan hubungi melalui sambungan telepon, Selasa (24/3).
Fadly mencontohkan makanan lain misalnya, tumpeng yang dalam hal ini sama dengan sayur lodeh; makanan yang kerap disajikan dalam ritual tradisional masyarakat Nusantara.
Sementara bahan-bahan dalam sayur lodeh juga sebenarnya tak memiliki makna pasti. Namun masyarakat Jawa terkenal dengan kebiasaannya yang mencocok-cocokan atau istilahnya otak-atik gatuk, agar makanan tersebut tampak lebih menarik dan patut diperbincangkan.
ADVERTISEMENT
"Kalau unsur-unsur dalam bahannya secara filosofis tidak terlalu banyak yang diungkapkan dalam sejarah. Ini hanya soal kebiasaan masyarakat Jawa melakukan otak-atik gatuk atau mengocok-cocokkan segala sesuatu," tambahnya.
Akan lebih masuk nalar kalau kita kaitkan kehadiran sayur lodeh dengan ketersediaan pangan khas Nusantara. Sayur lodeh mencampurkan berbagai hasil pertanian yang tumbuh di Indonesia.
Aneka lodeh di Warung Kopi Klotok Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Sejarah sayur lodeh pertama di Indonesia

Secara historis, dikisahkan Fadly, sayur lodeh muncul pertama kali pada sekitar abad ke 16-17. Waktu itu pangan lokal seperti jagung atau kacang panjang baru mulai dibudidayakan di Indonesia, dibawa oleh bangsa Spanyol dan Portugis. Lantas bahan-bahan tersebut dikonsumsi oleh masyarakat Nusantara sebagai makanan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, muncul pula kreativitas baru dari masyarakat Tanah Air dalam membuat makanan khas. Termasuk santan yang ada dalam lodeh, juga menjadi bukti kreativitas masyarakat di Jawa saat itu.
ADVERTISEMENT
Sayur lodeh pun muncul sebagai bukti kreativitas masyarakat di tengah serangan militer VOC. Dengan memanfaatkan sayuran yang ada, mereka memasak sayur lodeh sebagai makanan untuk bertahan hidup.
"Jadi, kenapa akhirnya sayur lodeh dihubungkan dengan pageblug tradisi di Yogyakarta, ini karena mereka ingin menceritakan bahwa masyarakat Nusantara bisa bertahan hidup dengan makanan tersebut," tutur laki-laki yang juga menulis buku 'Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial (1870-1942).'

Nama 'lodeh' justru berasal dari bahasa Betawi

Resep sayur lodeh dalam buku Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya Catenius-van der Meijden terbitan tahun 1925 Foto: dok.Fadly Rahman
Begitu peran sayur lodeh dalam tradisi pageblug di Yogyakarta, tapi apa sebenarnya arti dari nama sajian berkuah santan ini? Dijelaskan Fadly, asal-usul nama 'lodeh' justru berasal dari bahasa Betawi karena memang sayur ini tersebar luas di Pulau Jawa; termasuk Jakarta.
ADVERTISEMENT
Secara terminologi, kata lodeh berasal dari kosakata Betawi 'terserah lo deh' yang artinya terserah bahan apa pun bisa dimasukkan dalam sayur ini. Namun menurut Fadly, kecocokan ini masih perlu ditanyakan kepada ahli linguistik terkait keabsahannya.
Resep sayur lodeh dalam buku Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya Catenius-van der Meijden terbitan tahun 1925 Foto: dok.Fadly Rahman
Resep sayur lodeh juga pernah masuk dalam buku resep belanda abad ke-19. Makanan yang dikenal dengan istilah jangan lodeh ini kemudian juga menghiasi buku sejarah makanan lainnya karena identik sebagai hidangan masa kolonial.
Baik masyarakat pribumi maupun orang Belanda kala itu begitu menyukai sayur lodeh. Hingga kini pun, sayur lodeh masih menjadi makanan sehari-hari yang kerap menghiasi meja makan di rumah.
Rasanya yang nikmat dengan isian sayuran lengkap, tak hanya membuat sayur lodeh menjadi makanan pengisi perut kala lapar tapi juga jadi sajian bergizi khas Indonesia.
ADVERTISEMENT
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!